Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.29

Mantu-29

Langkah kaki gue berderap teratur. Tap-tap-tap menggema di lorong rumah sakit. Gue melaju sendirian setelah Nanda memohon diri meminjam mobil untuk pergi ke Mal PVJ. Selain ingin mengisi perutnya sebentar, ada beberapa perlengkapan untuk Tante Tiya yang ingin ia beli di sana.

Gue sempat menelepon Aria tadi. Ternyata ia pun sedanng keluar untuk rapat di sebuah restoran kawasan Diponegoro. Kata-kata Aria selanjutnya yang membuat radar gue melonjak siaga.

“Tenang aja, Dani. Papahmu nemenin Ibu, kok. Katanya sih, mau jalan-jalan ke taman.”

WHAT THE????

Apa dikate ntar nggak ada episode curi-curi kesempatan, nostalgia terselubung buat CLBK???

Perempuan yang rapuh, pasti akan haus kehangatan, mendamba pelukan. Bersembunyi di balik permohonan meminjam bahu untuk menangis.

Secepat kilat, gue menelusuri jalan menuju taman Poliklinik Spesialis Anggrek. Sebelum roman picisan menguasai sore sepoi-sepoi yang dinikmati Papah dan Tante Tiya.

Di tengah alunan kecapi suling yang makin menyejukkan suasana, pandangan gue tertumbuk pada seorang bapak yang mendorong kursi roda seorang wanita separuh baya. Keduanya tampak berbincang dengan asyik, sesekali sang wanita tertawa, menunjukkan rupa yang benar-benar asing bagi gue.

Papah dan Tante Tiya tampak seperti Galih dan Ratna. Bersanding serasi menikmati hari.

Dengan napas memburu, gue mulai beraksi seperti anggota SWAT. Mencari celah dimana gue bisa mengikuti dan menguping pembicaraan mereka. Beruntung, Papah berhenti di sebuah bangku panjang dan duduk di sana setelah memarkir kursi roda Tante Tiya di hadapannya. Gue menemukan tempat yang pas di balik bangku itu, terselubungi oleh rimbunnya tanaman penghias pinggiran taman dan lorong.

Telinga terjulur mulai beraksi…

“Ah, Gilang. Sudah lama aku nggak tertawa selepas tadi. Kamu masih tetap lucu seperti dulu ya,” Tante Tiya masih menyisakan beberapa kekehan bahagia di sela kalimatnya.

“Kamu tuh, Ya. Serius banget sih jalanin hidup. Hidup teh cuma sekali. Nggak perlu dibawa pusing terus,” seloroh Papah.

“Pantesan aja mukaku udah mirip apel kelamaan di kulkas, ya Lang?” tanya Tante Tiya bercanda.

“Ah, masih sebelas dua belas sama Widyawati, kok!” goda Papah sambil mengerling kepada mantan kekasihnya itu.

Dari balik dedaunan, gue melihat Tante Tiya tersipu malu bak abege jatuh cintrong! MiniDani pun menjatuhkan rahangnya sampai tol Cipularang. Oke, adegan ini punya kadar syok level 15, bikin mencret di tempat!

“Sayang, takdir nggak mempersatukan kita, ya. Jalan hidup kita meluncur dan meluncur, sampai kita pun malah sama-sama kehilangan pengganti diri kita masing-masing,” ujar Tante Tiya. Terdengar nada penyesalan dalam suara lirihnya.

“Aku pun jadi banyak ngelakuin kesalahan ini itu. Tertimpa kemalangan ini itu. Mungkin karena aku terlalu banyak bohong, nggak secepatnya jujur sama anakku sendiri,” lanjut Tante Tiya.

“Sudahlah, Tiya. Aria sudah besar, sebentar lagi ia akan membina rumah tangganya sendiri. Bukankah sepantasnya ia tahu kebenarannya?” tanya Papah lembut.

DEG!!

Jantung gue mencelos. Mungkinkah Papah sudah tahu kunci misteri ini? Eh, sebentar. Berarti Papah tahu tentang rahasia ini???

Belum puas gue merasa kaget dan kesal karena Papah ternyata menyembunyikan sebuah fakta penting tentang calon suami gue selama ini, satu lagi kotak kejutan terbuka di hadapan gue.

“Aku takut, Lang. Bagaimana reaksi Aria kalau tahu Bapak yang selama ini dikenalnya bukanlah bapak kandungnya?”

Oke, gue udah tahu yang itu. Apa Papah tahu juga tentang perselingkuhan Tante Tiya dari Om Bimo?

“Apalagi kalau Aria tahu, Lang. Kalau wanita yang membesarkannya bukanlah ibu yang melahirkannya? Tapi, hanya seorang tante yang menerima titipan bayi mungil adiknya di suatu hari nahas?”

TANTE TIYA BUKAN IBUNYA ARIA???

“Kalau saja aku lebih cepat mengantarkan Nia dan Mas Tirta ke bandara, mereka tidak akan ketinggalan pesawat dan menaiki penerbangan maut itu! Aria pun akan hidup bahagia dengan orang tua kandungnya!” isak Tante Tiya pun pecah.

Jadi….foto itu? Tante Tiya punya adik kembar? Ibu kandungnya Aria?

Tante Tiya tidak pernah selingkuh. Ia hanya menjalankan amanah almarhumah adiknya. Pantesan ia begitu posesif terhadap Aria. Bukan, itu bukan posesif. Itu hanyalah kecemasan murni, naluri keibuan yang begitu takut kehilangan.

Gue udah terhasut prasangka. Bagus, Dani. Inikah yang gue inginkan? Melihat Tante Tiya merana jiwanya?

Pandangan gue gelap seketika. Lantai seperti menghisap seluruh kesadaran gue. Entah dimana gue sekarang, segalanya menjadi tidak berarti lagi.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day96

Gambar dari sini

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s