Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.28

image

Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu panjang. Mungkin karena memang gue sengaja mengemudi lebih santai. Bertolak belakang dengan dentuman jantung dan aliran deras adrenalin di dalam sana.

Gue coba korek-korek informasi dari Nanda. Sehalus mungkin, bak film spionase menginterogasi tersangka agen ganda.

“Kalo diliat-liat, kamu mirip banget ya sama Om Bimo, Nda. Padahal biasanya anak cowok yang mirip sama bapaknya,” gue membuka interogasi terselubung dengan hati-hati.

“Teh Dani itu orang ke seribu seratus dua puluh yang bilang begitu,” tandas Nanda sambil tertawa lepas.

“Seriusan itu kamu itungin, Nda?” tanya gue sambil nyengir lebar.

“Yah, kira-kira begitu. Ada rumus deret hitungnya segala,” ceplosnya sambil terbahak.

“Mungkin kalo aku ini laki-laki, Bapak akan lebih bahagia,” ucap Nanda sambil pandangannya menerawang.

“Lho, kenapa gitu? Kan udah ada Aria, anak laki-laki sebelum kamu,” selidik gue.

“Iya, Teh Dani. Aneh juga dulu Bapak bilang, kalo aku laki-laki, barulah Bapak nemuin darah daging pria sejatinya. Nggak ngerti deh maksudnya apa,” ujar Nanda sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Mungkin itu karena…..” kalimat gue menggantung.

KARENA ARIA BUKAN ANAK KANDUNG BAPAKMU!

MiniDani berteriak dengan toa sampai mukanya memerah.

“Karena apa, Teh?” tanya Nanda.

“Karena Om Bimo pengen punya anak cowok yang macho dan full six-pack!” sahut gue, asal dan super jayus.

Untung Nanda nggak ngejengkang ala Stephen Chow. Semoga aja dia juga nggak kemimpi Agung Hercules ntar malem.

“Jadi…Om Bimo nggak anggep Aria itu pria sejati?” tanya gue perlahan.

Nanda menghela napas panjang. Seakan ada beban berton-ton yang membuatnya memutar otak, menyusun kata yang pas sebagai jawaban. Beban itu turut terasa di dalam jarak tak kasat mata antara gue dan Nanda.

“Gimana ya, Teh. Bapak dan Mas Aria itu kaya Tom dan Jerry,” Nanda memulai ceritanya.

“Rasanya, apa yang dilakuin Mas Aria itu selalu salah di mata Bapak. Ibaratnya, diem salah, gerak lebih salah lagi. Sementara, ke aku yang anak cewek dan jauh lebih muda, malah lebih nyantai. Heran, deh!” Nanda memberikan tekanan pada kalimat terakhirnya.

“Bapak malah pernah bilang pas debat sama Mas Aria. Kata-katanya selalu aku inget,” tambah Nanda.

“Nggak ada kamu pun, Ya! Keluarga ini akan tetap keluarganya Bapak! Jadi, nggak usah coba lawan Bapak. Tanpa Bapak, kamu nggak akan ada di sini!” Nanda menirukan kata-kata Om Bimo.

Hmmmm…

Nanda nggak tahu, kata-kata Om Bimo bisa berarti macam-macam. Kebetulan, gue tahu persis maksud sebenarnya.

Jadi, Om Bimo seperti nggak ikhlas menerima Aria dalam keluarganya. Ya iyalah yaaaa, Aria itu hasil hubungan istrinya sama pria lain. Pasti Om Bimo tahu ini, walaupun Tante Tiya ngumpetin di Gunung Kawi atau Segitiga Bermuda sekalipun.

Gila. Tante Tiya selingkuh sampai lahirlah Aria. Terus, mungkin putus sama selingkuhannya. Aria pun diaku anak dari Om Bimo.

Pantas saja Tante Tiya begitu posesif terhadap Aria. Rasanya ia lebih mencintai bapak kandung Aria ketimbang suami sahnya sendiri.

“Maaf ya, Nda. Aku mau nanya sesuatu yang sensitif. Aria udah cerita tentang kejadian di rumah. Waktu Om Bimo ke-gap giting sama cewek,” tembak gue.

Muka Nanda pucat pasi.

“Kayanya, itu bukan pertama kalinya Om Bimo main belakang ya, Nda? Sori nih jadi nanya begini,” lanjut gue.

Nanda menunduk. Mukanya ditangkupkan pada kedua tangannya.

“Pusing aku, Teh. Aku harus pasang badan buat Bapak. Nutupin semua kelakuan bejatnya,” keluh Nanda.

“Cewek yang ketangkep itu… kakak kelasku waktu SMA. Pas Bapak nganterin aku reuni, dia kenalan dan kecantol sama dia,” aku Nanda.

“Bapak kaya gelap mata, Teh. Cewek-cewek muda dipacarin sama dia. Beberapa temenku sendiri. Ada juga anak temen kantornya. Pegawai baru di kantor sih udah pasti, ya!” kata demi kata mengalir dari bibir Nanda.

“Kenapa kamu diem aja?” tanya gue lembut.

“Kamu nggak kasian sama ibumu?” lanjut gue.

“Yah, aku emang egois, Teh. Diimingin kuliah di kampus elit dan tambahan uang jajan yang banyak, langsung mingkem. Mental alay banget yak aku,” sesal Nanda.

Mobil gue mulai memasuki area parkir rumah sakit.

“Udah, Nda. Sekarang saatnya kamu tebus dosa. Rawat ibumu yang ikhlas ya. Kalo waktunya pas, coba kamu ceritain dikit-dikit tentang rahasia-rahasia yang ibumu perlu tahu,” saran gue.

“Biar tidur kamu lebih nyenyak!” tutup gue sambil tersenyum jahil.

Nanda terlihat lega.

Misi pertama berhasil. Perlukah investigasi selanjutnya? Atau gue langsung jatuhin aja bom atomnya?

Aria dulu atau Tante Tiya dulu?

Mendadak sayup-sayup ada lagu tema James Bond terngiang di telinga.

My name is Bond. Dani Bond-teng.
(bonteng = bahasa Sunda dari timun)

Ingin rasanya gue acungkan timun itu ke arah Tante Tiya. Lalu mewawancarainya bak infotainmen.

Sepertinya kartu As ini akan gue buka sebentar lagi. Menamatkan tirani yang sudah terlalu lama berdiri.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day95

Gambar dari sini

Advertisements

2 thoughts on “Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.28

  1. Dani mulai suka korek-korek gossip nih kayak si akun L***E T***H hahahahaha.. aduh ijk harus nunggu gossipan-nya dani sampai hari Senin, aku gak kuatttt *lebay

    Happy Weekend Winda semoga dpt Inspirasi yg muktakhir utk menamatkan serial ini, Cemangaaaaat mama rocker!

    • Makasih Kiky Budor #oops haha..

      Berkat doamuuu, kelar juga Kanjeng Ratu dengan menguras segala ingus dan mampet di idung.

      Virus Lambe udah merasuk ke jiwa rockamama yaaa. Nggak nyinyir, nggak ngeheitz 😋😋😋

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s