Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.27

Mantu-27.jpg

Nggak gue sangka, gue bakal menginjakkan kaki lagi di rumah ini. Batin gue, saat bergerak masuk ke dalam rumah Aria. Namun, kali ini, tak ada sosok yang dulu membuat gue bener-bener muak. Sosok Hitlerwati yang sekarang terbujur lemah, kehilangan semangat, terpaku dalam bisu. Wanita tangan besi yang kini menjadi tangan infus.

Seminggu berlalu dari musibah kecelakaan yang nyaris merenggut nyawa Tante Tiya. Tuhan masih memberikannya kesempatan hidup.

Mungkin untuk melunakkan hatinya, memperbaiki kesalahannya. Atau menuntaskan entah misi apa yang diembannya.

Hari ini, Aria meminta gue datang ke rumahnya. Diberikannya sebuah akses istimewa, gue boleh masuk ke kamar Tante Tiya, membuka brankas, dan mengambil dokumen untuk keperluan asuransi Tante Tiya di rumah sakit.

Wow…. MiniDani pun memakai kaca mata hitam dan bergantungan di tali ala Tom Cruise di Mission Impossible. Benar-benar kesempatan dalam kesempitan.

Hari itu, hanya ada Nanda di rumah. Mbak Yona pergi ke rumahnya, membawa Yuti untuk membantunya bersih-bersih dan menjaga Zana yang masih dalam masa pemulihan pasca terserang Flu Singapura.

Semalam gue melampiaskan masa zombie kurang tidur setelah bergantian dengan Aria menjaga Tante Tiya di rumah sakit. Pagi ini, gue merasa cukup segar untuk mengobrak-abrik, ehm, mencari dokumen yang diminta Aria.

“Teh Dani bisa?” tanya Nanda. Apa muka gue terlihat begitu lugu? Nggak ada potongan maling binti jambret sedikit pun?

“Bisa, Nanda. Ntar kalo butuh bantuan, aku bilang kamu langsung ya,” ujar gue cepat. Sudah tak sabar ingin masuk ke gua harimau dan berjoget kucing garong di dalamnya.

Begitu Nanda menutup pintu, gue langsung sigap bergerak. Ya ya ya, gue tahu ini sangat lancang dan tidak sopan. Namun, naluri kepo maksimal gue bener-bener nggak bisa dibendung. Gue perlu mengungkap misteri Tante Tiya, yang entah kenapa, di dalam hati kecil gue, masih menyimpang rahasia begitu rapinya.

Gue menghampiri brankas yang ada di pojok kamar. Tak lama gue sibuk menekan tombol-tombol, memasukkan nomor kombinasi brankas untuk membuka lemari rahasia Tante Tiya. 2-5-5-2-2-5, enam angka yang mudah diingat.

KLIK!

Brankas pun terbuka.

Jantung gue makin berdebar.

Sebuah foto ukuran kartu pos tertempel di bagian dalam brankas. Foto keluarga Aria semasa kecil. Hmmm, rasa kepo begitu gempita. Tanpa sadar, gue menarik foto itu, mencoba melihatnya lebih dekat. Ternyata, aksi ini menjadi awal pemecah tanda tanya yang kerap menghantui.

Melayanglah dari balik foto tadi, sebuah foto ukuran dompet. Sepasang pria-wanita, dengan seorang bayi laki-laki, mungkin usianya sekitar enam atau tujuh bulan.

Gue pungut foto selipan tadi. Memandangi dengan cermat setiap detilnya. Oke, wanita ini jelas Tante Tiya. Anak laki-laki ini sepertinya Aria waktu bayi. Tapi…siapa laki-laki ini? Ia bukan Om Bimo, karena begitu berbeda dari foto lama keluarga Aria yang menutupinya.

Jangan-jangan….

Aria bukan darah daging Om Bimo???

Gue tercengang. Benarkah deduksi detektif partikelir gue?

Satu persatu, gue coba merunut sikap dan perilaku Om Bimo terhadap Aria dan keluarganya.

Pantas saja ia tak akur dengan Aria.
Pantas saja ia tak mirip dengan Aria.
Pantas saja ia menyakiti Tante Tiya dengan entengnya

Pantas saja, pantas saja…

Pikiran gue melayang-layang.

Apakah Aria tahu tentang ini? Ah, sepertinya nggak.

Jadi, ini rahasia yang disimpan Tante Tiya. Ada lelaki lain, sebelum atau sesudah Om Bimo?

Suara Nanda yang memanggil dari balik pintu, menjadi pertanda gue harus sigap bergerak. Gue ambil foto ukuran dompet tadi, merekatkan kembali foto lama keluarga Aria, setelah menyimpan foto rahasia di dalam kantung kecil tas gue. Lalu, gue mencari dokumen yang diperlukan — akte kelahiran Tante Tiya — menemukannya, dan menyimpannya dalam map plastik yang gue bawa dari rumah tadi.

Sesegera mungkin gue meninggalkan kamar itu. Seulas senyum puas tergambar di wajah gue. Akhirnya, gue punya sesuatu untuk diselidiki.

Gue ajak Nanda ikut ke rumah sakit dan ia pun mengiyakan. “Aku kangen Ibu, Mbak,” begitulah ucapannya dengan suara tercekat. Menahan tangis, memendam rindu.

Mobil gue pun melaju. Bersama gerakan cepat sel-sel abu-abu di dalam benak. Tak sabar ingin bergerak, bak agen rahasia yang haus informasi.


-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day94

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s