Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.26

Mantu-26

“Dani.. Dani.. Jangan tinggalin Tante sendiri,” suara lirih Tante Tiya terus terngiang di telinga gue. Seiring masuknya ia ke dalam kamar operasi.

Di luar, ruang tunggu, gue menanti dengan pikiran yang terus berkecamuk.

Aria sedang dalam perjalanan menuju Bandung. Mbak Yona tidak bisa menemani gue karena Zana sedang sakit, kabarnya terserang Flu Singapura. Nanda sedang pergi ke Bogor untuk mengikuti outing dari kampusnya.

Teringat tadi begitu gue menuju Pasteur, seorang pria menggunakan nomor Tante Tiya, mengabarkan kalo Tante Tiya sudah masuk UGD RS Hasan Sadikin sembari menunggu giliran operasi kaki kanannya yang patah.

Tak sekalipun dalam mimpi liar gue, melihat Tante Tiya tergolek lemah di ranjang UGD, mengenaskan. Semua tembok keangkuhan itu bak runtuh diterjang meteor.

Serta merta, semua rasa kesal gue hilang. Iba. Kenangan akan Mamah turut menyeruak.

Satu jam sudah waktu berlalu. Seorang petugas kepolisian mendatangi gue. Bertanya tentang identitas Tante Tiya. Briptu Taufik, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Taksi yang ditumpangi Tante Tiya menabrak sebuah truk yang mengerem mendadak. Ternyata supir taksi mengantuk berat, sibuk mengejar setoran tanpa cukup beristirahat. Untunglah jalanan Pasteur tak seberapa ramai. Supir taksi terluka cukup parah, sementara Tante Tiya terjepit di dalam taksi yang ringsek.

Beruntung, bantuan segera datang dan keduanya dapat diselamatkan.

Gue menggenggam tangan Tante Tiya. Ia menggenggamnya kembali, erat. Sambil menggumamkan nama gue. Matanya tetap terpejam.

Suara lirihnya baru terdengar menjelang operasinya tadi.

Ah, ada sakit menusuk di dada gue. Penyesalankah itu?

Tak terasa gue tertidur di ruang tunggu, hingga sebuah tangan kokoh menyentuh pundak gue. Bau parfum yang begitu familier menyapu penciuman gue. Aria sudah sampai.

Gue membuka mata. Wajah cemas Aria terpampang di depan gue. Ia memeluk gue, sambil mencoba mengatur napasnya yang naik-turun. Gue hanya bisa menghibur dengan satu kalimat, “Doakan saja, Ya.”

Tak lama, seorang dokter keluar dari ruang operasi. Mencari keluarga Tante Tiya. Bersiaplah kami mendengar kabar, semoga hal baik yang akan kami terima.

Dokter Fauzi menjelaskan, kaki kanan Tante Tiya berhasil dioperasi. Selanjutnya Tante Tiya perlu menggunakan kursi roda sambil melakukan pemulihan. Diharapkan dalam waktu tiga sampai enam bulan, kakinya sudah dapat berjalan baik kembali.

Alhamdulillah.

Air mata mengalir tanpa dikomando dari kedua mata gue. Lega. Aria pun memeluk gue gembira.

Tante Tiya sekarang ada di ruang pemulihan dan siap dijenguk. Aria masuk terlebih dahulu. Cukup lama ia di dalam sana. Sekeluarnya dari sana, Aria meminta gue masuk, sementara ia akan mengurus administrasi perpindahan Tante Tiya ke ruang rawat.

Bau khas rumah sakit, obat-obatan, dan cairan disinfektan begitu kental di sekeliling gue. Tante Tiya terbaring, wajahnya terlihat menahan sakit. Ia mencoba tersenyum, senyum seorang wanita tua yang merobek hati gue.

“Dani, sini,” pintanya. Gue berdiri di samping tempat tidurnya.

Tante Tiya memandang gue dengan sorot mata redup.Seperti sayup-sayup terdengar kata maaf dari bibir pucatnya. Gue menggenggam tangannya dan berkata, “Tante istirahat, ya. Aria lagi cari kamar untuk Tante.”

“Maaf, Tante jadi repotin Dani,” sahutnya pelan. “Tante takut sendiri. Tante nggak mau sendiri,” ucapnya takut-takut.

Pertama kalinya, gue melihat wanita besi yang selama ini begitu tinggi, sekarang menciut takut akan kesepian. Dalam hati, dengan berat gue mengakui, ucapan Aria ada benarnya. Gue harus coba memahami Tante Tiya. Segala tindakannya, ucapannya, karakternya, bukanlah arca batu yang tak mungkin berubah. Ada sesuatu yang melatarbelakanginya. Sesuatu yang dapat gue luluhkan, dengan kebaikan tentunya.

Malam itu, gue dan Aria menemani Tante Tiya di kamar VIP yang luas. Gue pandang wajah tidurnya yang berbeda 180 derajat dari pemandangan tadi siang.

Seraut wajah bahagia. Seraut wajah yang damai. Seolah kata maaf tergambar jelas di wajahnya. Ya, maaf yang disampaikan untuk gue. Sosok yang tak diduga menjadi sosok pertama yang menenangkannya setelah musibah tiba.

Apakah akhir cerita yang menyenangkan sudah menjelang?

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day93

Gambar dari sini

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.26

  1. Ada rahasia nih mbak, aku punya 2 orang blogger favorit sebelumnya. Tulisannya selalu mengundangku untuk mampir. Dan di ODOP ini aku dapat 2 lagi blogger favorit, salah satunya adalah dirimu. Meskipun kayak gini nih, bacanya rapelan krn sibuk. Suka sekali gaya bercerita yang santai dan bikin nyengir sendiri.
    Ditunggu lanjutan ceritanya.

    • Alhamdulillah, seneng bisa menghibur Teh Ella hehehe.

      Saya pun masih banyak belajar nulis, maklum masih amatiran. Semoga bisa bikin tulisan yang disukain banyak orang 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s