Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.25

image

Peluh mengalir dari dahi gue. Walaupun hembusan angin sejuk menerpa sepoi-sepoi. Suasana siang yang sunyi, membuat gue tergoda untuk merebahkan diri sejenak di atas sofa bed empuk di ruang tamu.

Gue memandang sekeliling sebelum menjatuhkan diri sambil meregangkan badan. Cukup lelah juga menata ruang tamu dan ruang keluarga mungil ini. Tak terasa hampir tiga jam terlewat begitu saja sejak gue tiba jam 09.30 tadi.

Sabtu yang dijanjikan Aria untuk membongkar kejutan manis rumah baru kami di depan Tante Tiya, tinggal dua hari lagi. Wah, perlu tim Bedah Rumah, Griya Cantik, Bangun Candi Kilat 24 Jam buat bikin rumah ini layak tayang sepertinya.

Ya sudahlah, biarkan selesai apa adanya. Nanti lumayan ada tambahan dari amplop tamu-tamu yang bisa gue pake untuk beli perabotan. Sementara, asal bukan kaya kontrakan petakan, lumayan lah buat setting foto-foto medsos.

Gue menghela nafas. Hari ini Aria nggak bisa bantuin beberes. Sejak kemarin, ia harus tinggal di sebuah hotel di Jakarta dalam rangka Rapat Akbar Sales Se-Indonesia. Besok siang ia baru akan kembali ke Bandung.

Krucuuuukkk…

Ularnagapanjangnya di dalam perut gue mulai break dance. Gue bangkit, mengambil kotak bekal yang dibawa dari rumah. Seporsi nasi goreng sosis yang udah dingin. Sambil angetin ransum di dalam microwave, pikiran gue mulai berkelana.

Berfantasi. Berimajinasi. Bermimpi.

Keluarga kecil kami terbangun sedikit demi sedikit di rumah ini.

Bayangan gue yang berjalan tertatih dengan perut membesar. Tangisan bayi yang membuat gue tergopoh untuk segera menggendongnya. Tawa ceria bocah kecil berlari menuju dapur, meminta sepotong kue dan segelas susu.

Seakan begitu dekat dalam genggaman.

Senyum pun mampir di wajah gue. It is too good to be true.

Lima belas menit kemudian, nasi goreng kelar ditandaskan berikut segelas besar air menyegarkan kerongkongan yang begitu kering.

Baru saja selesai mencuci piring, ponsel gue berbunyi nyaring. Memecah keheningan. Satu kali gue biarkan. Dua kali. Hingga kali ketiga, barulah gue melirik di layar, mencari siapa sang penelepon.

Bagai petir di siang bolong.

Nama Tante Tiya terpampang jelas di sana.

Ada apa gerangan ia menghubungi siang-siang begini?

Perang berkecamuk di hati dan pikiran. Ada rasa cemas ikut mengetuk. Mengingat perjumpaan terakhir gue dengannya yang jauh dari kata mulus.

Ragu-ragu, gue memulai percakapan.

“Assalamualaikum, Tante. Ada apa?”

Gue nggak akan pernah lupa kalimat-kalimat yang gue denger setelahnya. Serta nada suara itu, mengaduk emosi gue kembali.

“Dani, tolong Tante. Tante kecelakaan. Taksi Tante tabrakan di Pasteur.”

Tanpa dikomando, gue segera bergegas. Mengambil kunci mobil dan memacunya ke sebuah tempat.

Di otak gue hanya satu. Selamatkan Tante Tiya. Gue nggak ingin Aria kehilangan ibu seperti gue dulu.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day92

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s