Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.24

image

Pagi itu, Aria membawa gue ke suatu tempat istimewa. Calon kediaman pertama kami.

Lokasinya tak jauh dari pintu tol Buah Batu. Di dalam kompleks townhouse dengan lingkungan hijau asri. Sepertinya banyak keluarga muda yang tinggal di sini.

Mobil Aria berhenti di depan sebuah rumah berpagar hitam. Rumah mungil yang hangat. Tanahnya mungkin sedikit lebih besar dari 100 meter persegi. Bangunan dua tingkat, yang bila dijumlahkan sekitar 90 meter persegi.

“Nah, selamat datang di calon rumah kita!” seru Aria sambil menggandeng gue dan mengajak masuk.

Seiring bunyi klik kunci yang membuka pintu. Seketika juga gue terpana. Keterkejutan gue pun bertambah sejalan dengan penelusuran gue ke seisi rumah.

Tiga kamar tidur, dua kamar mandi, satu toilet kecil. Dapur yang tidak besar, namun terlihat begitu fungsional dengan kitchen set sederhana dan manis.

Dinding berwarna krem muda, dengan dekorasi simpel bergaya modern minimalis. Aliran udara pun terasa lancar, karena kesejukan terus berhembus tanpa pendingin ruangan, menandakan sirkulasi yang ditata rapi.

Namun, yang begitu menarik perhatian adalah adanya tingkat ketiga semu. Sebuah kebun di atap rumah, lengkap dengan kursi malas dan perlengkapan barbecue. Benar-benar tempat pelarian sempurna.

“Dari mana kamu nemuin tempat cakep ini, Ya? Cepet pula,” rasa penasaran gue benar-benar menggelitik, sembari coba menerka-nerka.

“Rumah ini punya Ardi, teman kuliahku dulu. Ia mendapat beasiswa kuliah di Jerman sampai 5-6 tahun ke depan,” cerita Aria.

“Sepulang dari rumah kamu Jumat kemaren, aku lanjut pergi ke Bucky’s Barn. Di sanalah aku ketemu Ardi. Kita ngobrol lama, sampai akhirnya Ardi menceritakan rencananya itu. Emang udah jodohnya, ya!” lanjut Aria dengan mata berbinar.

“Jadi…kamu langsung beli rumah ini?” tanya gue takjub.

“Nggak, Dani. Aku kontrak dulu rumah ini sampai dua tahun ke depan. Tapi, ada kemungkinan Ardi akan jual rumah ini, karena dia berniat mau kerja dan tinggal di Jerman nantinya,” jelas Aria.

Tak disangka, semesta ikut berkonspirasi mengabulkan keinginan gue.

“Aku udah tinggal di sini sejak ketemu Ardi. Yah, sambil beres-beres. Perabotan yang utama udah ada, tinggal beli yang kecil-kecil aja,” ujar Aria.

Ia lalu memandang gue sambil tersenyum.

“Kamu mau bantuin ngisi dan bikin rumah ini makin cakep?” pintanya.

“Mau banget!” jawab gue cepat, dengan kegirangan yang meluap-luap.

“Ya, udah. Ntar sore kita belanja, ya! Kabarin aja mau ketemu di mana. Nanti aku yang jemput pulang kantor,” janji Aria.

Gue memeluk Aria, erat. Bulir air mata mengalir perlahan di pipi. “Makasih banyak, Ya. Maaf kalo aku terlalu banyak meminta,” ucap gue dengan suara tercekat.

“Nggak apa-apa, Dan. Emang ini udah tugasku,” Aria menjawab sambil mengelus rambut gue.

Tuhan, hentikan waktu sejenak untuk momen istimewa ini. Begitu pinta gue dalam hati.

Walaupun jelas waktu tidak berhenti berdetak, seperti halnya jantung gue yang malah semakin berdebar.

Akankah langkah ini akan selalu mulus?

MiniDani menendang prasangka buruk gue sekuat tenaga. Melototi gue yang terbengong cengo. Menyadarkan gue untuk buru-buru bersyukur, rupanya Aria masih dibekali akal sehat untuk mau mendengarkan kata-kata gue.

“Ibu udah tahu soal ini?” pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari mulut gue.

Muka Aria sempat menekuk, sebelum ia pun tersenyum kecil.

“Belum. Ini kejutan. Sabtu nanti aja kita kasih tahu sama-sama, oke?” kata Aria dengan santainya.

Gue mulai menghitung sisa nyawa. Semoga nanti Tante Tiya nggak langsung menebas gue dengan Golok Naga atau memberondong dengan AK-47.

Kapankah perang dunia ini menemui fase gencatan senjata?

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day91

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s