Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.22

image

Minggu malam identik dengan malam nobar di rumah gue. Nggak cuma Papah dan Rio, datang juga pasukan gibol lain gelar lapak suporter di ruang keluarga. Malam ini, Om Tulus datang bersama tiga anak laki-lakinya, Runo, Adit, dan Fandi. Kali ini laga derby panas Liga Inggris jadi acara utama, Arsenal vs Chelsea.

Gue cuma jadi kambing cengo aja di sofa. Nggak ngerti gue sepakbola. Kecuali bagian ngerusuhin, nyela-nyela, baru deh ikutan.

Sepakbola yang gue suka cuma komik Captain Tsubasa dan Shaolin Soccer. Canggih aja ngeliat tendangan bisa jadi siluman dan penuh api nyala-nyala gitu. Emang dasar otak lebay. Apapun kudu pake special effect.

Nah, di tengah pertandingan yang memanas, penuh tekel keras dan hujan kartu, datanglah nyala api mengejar gue.

Dimulai dengan sebuah bunyi bel pintu, saat babak kedua baru saja berjalan 5 menit.

Gue beranjak menuju pintu. Saat terbuka, ternyata ada yang lebih mengerikan dari hooligan ngambek berdiri di depan gue.

Tante Tiya. Ekspresi murka. Siap menerkam gue. Mencabik dengan kumis Hitlerwati tak kasat mata.

“Mana Aria? Di mana kamu sembunyiin dia??!!” Tante Tiya membentak gue sambil menerobos masuk rumah. Tak ada salam, tak ada cipika cipiki. Apalagi ngarepin dibawain martabak spesial telor bebek empat. Nihil.

“Ariaaaaaa! Ariaaaaaaa! Keluar kamu, Naaaaaak!” Tante Tiya berteriak-teriak bagaikan Tom Cruise di film Jerry Maguire. Show me the mooooneeeey!

Sontak para gibol yang sedang bersorak sorai mendadak terdiam. Suasana stadion berubah menjadi kuburan. Bahkan jangkrik pun tak berani bersuara.

Gue menghampiri Tante Tiya dengan perasaan campur aduk. Antara capek, kesal, pengen jambak, siapin bazoka buat kirim dia ke luar angkasa, dan sederet akal jahat lainnya. MiniDani di dalam sana sudah menyalakan gergaji mesin.

“Maaf, Tante. Aria memang ke sini Jumat malam. Tapi dia langsung pulang sekitar jam 12 malam,” gue mencoba memberitahu dengan nada setenang mungkin. Padahal tangan gatel banget pengen nimpuk pake sendal jepit digelayutin di gerobak.

Tante Tiya menatap gue tajam. Suer, bentar lagi tatapannya bisa membunuh harimau Jawa terakhir di Indonesia.

“Dengar ya, Dani. Saya nggak tahu doktrin apa yang kamu tanemin di kepala Aria. Yang pasti, sampai sekarang dia nggak pulang ke rumah. HP-nya pun nggak bisa dihubungin. Ini pertama kalinya dia bertingkah aneh begini. Dan pasti ini gara-gara KAMU!” Tante Tiya menuduh dengan suara makin meninggi.

BRAKKK!

Seketika gue menggebrak meja. Papah dan Rio serta merta datang. Wajah kaget dan cemas tergambar jelas di sana.

“Keluar dari rumah saya, Tante Tiya! Sudah cukup Anda menginjak-injak saya dan keluarga saya!” untuk pertama kalinya gue meneriaki calon ibu mertua gue itu.

“Satu hal pasti, saya nggak doktrin apapun ke Aria. Sudah waktunya Aria jadi lelaki sejati. Bukan ngumpet terus di ketek ibunya yang titisan doberman!” racau gue makin menjadi.

Muka Tante Tiya merah membara bak disiram jus buah naga. Belum sempat ia membuka mulut, gue dengan keberanian yang datang entah dari mana, mendorongnya keluar rumah.

“Satu kata lagi, saya akan teriak kencang. Tetangga sini nggak segan akan ikut mengusir Anda. Udah tua kok nggak ngerti tata krama!” sembur gue dengan rasa kesal seubun-ubun.

Padahal, tindakan gue juga bukan salah satu kesopanan yang patut ditiru.

Papah segera mendekati Tante Tiya dan mengajaknya berbicara di luar. Sementara Rio mengamankan gue, sambil menyodorkan segelas air dingin. Napas gue memburu. Gila, marah besar itu lebih capek dari lari sepuluh kilo!

Om Tulus dan para sepupuku masih mengikuti pertandingan, meskipun terlihat jelas kalau fokus mereka sudah buyar gara-gara drama dadakan barusan.

Lima belas menit kemudian, Papah kembali ke dalam, tanpa Tante Tiya. Wajahnya begitu kecewa. Gue sadar, Papah pasti marah dengan aksi kacangan tadi. Gue sama aja kekanak-kanakannya dengan Tante Tiya. Nggak bisa menghadapi api dengan kepala dingin. Malah nyiram bara dengan minyak tanah satu tangki.

“Dani, Papah mau kamu istirahat di kamar sekarang! Besok saja kita bicara lagi,” perintah Papah. Gue nggak ngebantah. Memang gue patut dapet konsekuensi ini.

Gue melangkah gontai ke kamar. Menyesal sepertinya sudah terlambat. Mengapa sulit sekali membuka pintu maaf untuk Tante Tiya?

Di kamar, gue pun menangis. Terisak-isak sambil memeluk foto Mamah.

Saat ini, jikalau ada bintang jatuh, ingin gue meminta. Menghadirkan Mamah sehari saja untuk menghiburku. Gue pun ingin Mamah menyumbangkan separuh saja kesabarannya. Pastilah gue bisa melalui ini semua.

Dengan air mata yang terus mengalir, akhirnya gue tertidur kelelahan.

Bisakah gue nggak ketemu lagi dengan Tante Tiya? Sepertinya hidup kami berdua semakin runyam bila bertemu, apalagi harus tinggal bersama. SIGH.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day89

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s