Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.21

Mantu-21

“Pah, ini Dani. Boleh masuk?” kata gue di depan pintu kamar. Baru sepuluh menit berlalu setelah gue membereskan hasil nongkrong galau di teras. Mengumpulkan keberanian untuk mengorek luka masa lalu Papah.

“Masuk aja, Dani. Nggak dikunci,” sahut Papah dari dalam.

Ternyata, Papah juga sedang mengisi sore dengan nostalgia.

Album foto lama berserakan di atas kasurnya. Sambil tersenyum simpul, ia sedang memandang foto-foto waktu gue dan Rio kecil, bergaya di Taman Safari.

Di meja kecil samping tempat tidur, Papah baru saja mengganti foto dalam bingkai. Foto Mamah ketika muda. Dengan rambut ikal tergerai dan tawa berderai. Cantik alami, dihiasi menawannya lesung pipi.

Gue ambil foto itu, sambil merasakan rindu menusuk begitu dalam.

“Pah, boleh Dani tanya Papah sesuatu?” gue duduk di samping Papah, sambil menyenderkan kepala gue di bahunya.

“Tanya apa, Ni? Papah kaya artis aja ditanya-tanya terus,” celetuknya mencoba membuat senyum di wajah gue.

“Ummm..tapi Papah janji jangan baper ya,” pinta gue, menyelipkan istilah kekinian dalam kalimat. Papah pun menoleh kebingungan. Pasti dia nggak ngerti apa itu baper.

“Baper, bawa perasaan, Pah. Bukan bawa lemper. Ini kan bukan kue kotakan arisan,” ujar gue sambil cengengesan.

Papah mengelus rambut gue, lalu mengembalikan fokus pembicaraan.

“Apa yang kamu mau tahu, Ni?” tanyanya.

“Pah, maaf ya. Dani mau tanya, kenapa dulu Papah mutusin Tante Tiya? Trus lebih milih Mamah? Apa Tante Tiya bikin salah gede sama Papah?” pertanyaan gue memberondong bak tembakan senapan Rambo ke tentara Vietkong.

Papah berusaha mengatur napasnya. Ia terkejut, pasti. Namun, akal bijaknya tampak berkata bahwa suatu hari akan tiba waktunya ia harus menjawab pertanyaan ini.

“Itu bukan salah siapa-siapa, Ni. Semua terjadi memang sudah takdirnya,” jawab Papah bijak bin gantung. Makin geregetan deh gue.

“Ayolah, Pah! Jujur aja kenapa sih? Apa sifat Tante Tiya dari dulu udah nyebelin seperti sekarang?” cecar gue tak sabar.

Lagi-lagi sumbu pendek emosi gue menguasai. MiniDani mengokang pistol dengan muka sangar.

Papah terdiam. Ia kecewa melihat gue misuh-misuh nggak karuan.

“Tiya bukan orang yang menyebalkan, Ni. Kamu harus tahu itu,” bela Papah. “Banyak orang salah mengartikan semangatnya dengan ambisi buta,” tambahnya.

“Kalo gitu, kenapa Papah ninggalin Tante Tiya? Padahal udah bentar lagi nikah, kaya Dani sekarang, Pah!” suara gue lantang mengorek Papah lagi dan lagi.

“Karena…Papah sadar. Papah tidak bisa memenuhi mimpi-mimpinya,” ucap Papah menahan pilu. Gue bingung. Tak mengerti maksud kata-kata Papah.

Papah pun kemudian menuangkan kisah selengkapnya.

Tante Tiya yang waktu itu bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi, begitu bersemangat mengumpulkan pundi-pundi. Ia ingin memajukan keluarganya, memakmurkan dirinya. Di benaknya sudah tertata mimpi-mimpi. Rumah mentereng, mobil mewah, anak-anak yang bersekolah di sekolah bergengsi, dan liburan rutin ke luar negeri.

Papah waktu itu hanyalah seorang wartawan olahraga. Gajinya tak seberapa. Penempatannya di Yogyakarta, guna mengisi pos yang ditinggalkan pemimpin redaksi kantor cabang untuk sementara. Papah sudah berjuang sekuat tenaga untuk mengumpulkan bekal keluarga kecilnya. Namun, usaha keras Papah sering dianggap sebelah mata oleh Tante Tiya.

Hingga datanglah musibah itu. Suatu hari, kendaraan umum yang ditumpangi Papah mengalami kecelakaan. Papah harus dirawat di rumah sakit. Tabungannya terkuras untuk biaya pengobatan. Papah yang jalannya terpincang-pincang, tak punya muka untuk menghadapi Tante Tiya. Selain tentu saja, tanpa harta melimpah yang akan ia persembahkan untuk sang calon isteri tercinta.

Beruntunglah, anak pemilik rumah kos yang disewanya, dengan sabar merawat Papah hingga ia sembuh total. Ya, itulah wanita yang kelak menjadi Mamah bagi dua keturunannya.

Tante Tiya akhirnya menikahi atasannya di kantor. Bimo Putra Mahadi. Manajer pembelian yang belakangan sukses membuka bisnisnya sendiri. Yang bisa memenuhi impian-impian Tante Tiya dengan kucuran materi.

Papah mengetahui berita pernikahan Tante Tiya dari sahabatnya. Tante Tiya tetap melangsungkan pernikahan di hari yang ditetapkan. Ia hanya mengganti calon mempelai prianya saja.

Satu tahun setelahnya, Papah pun resmi mempersunting Mamah. Menutup kisah cintanya dengan manis. Seorang istri yang ia puja hingga maut memisahkan dengan tragis.

“Jadi, Dani.. Papah ini seorang pengecut. Berhenti berjuang begitu saja. Menyerah tanpa perlawanan,” sesal Papah.

Gue peluk Papah erat-erat.

“Papah itu pahlawan. Kalo Papah nggak nyerah, belum tentu Papah bisa hidup bahagia seperti sekarang,” ucap gue lirih. “Dan…Papah nggak ketemu Dani kalo Papah dulu pilih Tante Tiya,” gue menyeringai.

Papah tersenyum dengan air mata membasahi pipinya. Ia tahu, banyak hal yang patut ia syukuri atas keputusan besarnya itu.

“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, Ni. Papah yakin. Kamu akan jadi istri yang baik untuk Aria. Tinggal kamu sendiri yang harus percaya. Sama Aria, dan sama diri kamu sendiri. Masalah itu nggak akan habis dateng dalam hidup. Dua kekuatan akan lebih baik daripada satu,” Papah coba membesarkan hati gue.

“Syaratnya, cuma cinta tanpa syarat,” bisik Papah di telinga gue.

Darah gue berdesir. Seperti ada angin segar menelisik jiwa gue yang sebelumnya kering kerontang.

Malam itu, gue bersimpuh di kaki Papah. Sekali lagi, Papah pahlawan sejati. Menyelamatkan gue dari hisapan depresi tak bertepi.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day88

Gambar dari sini

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s