Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.20

Mantu-20

Akhir pekan. Rintik hujan. Kegalauan. Formula tepat yang membawa gue duduk di teras depan rumah. Ditemani secangkir bandrek hangat dan pisang goreng kremes.

Termenung. Memutar balik memori. Mencoba mencari satu saja alasan kuat untuk gue bisa kembali mencintai Aria sepenuh hati. Menyibak perasaan, menemukan gelora yang pernah ada. Setidaknya, supaya gue bisa menetapkan apakah gue jadi menikah kurang dari 3 bulan yang akan datang.

Teringat awal pertemuan kami, kira-kira dua tahun silam.

Suatu Sabtu sore, gue terburu-buru meninggalkan Splash!, sebuah lounge di kawasan Sukajadi. Selesai bertemu sebuah merek fashion indie yang ingin memakai jasaku untuk mengisi konten situs mereka, gue bergegas menuju Riung Nikmat, rumah makan Sunda di dekat Gedung Sate. Keluarga besar gue udah kumpul di sana. Arka, kakak sepupu gue akan melangsungkan pertunangannya.

Dengan berdandan seadanya (dewa fashion bisa pingsan tujuh hari tujuh malem liat paduan tabrak lari kebaya kuning rok batik ijo dan sanggul Mbok Bariah kecemplung di kali ala ala gue) dan tergopoh-gopoh mengejar waktu, gue pun dengan sukses meninggalkan hard disk external gue di meja. Nyawa ketujuh kedelapan kesembilan gue.

Toyor diri sendiri beribu kali sambil nembus kemacetan akhir pekan Bandung yang menggila.

Sepanjang acara, dengan enam nyawa tersisa, itupun energinya cuma seperempat penuh, alhasil gue diem mingkem aje. Linglung. Bingung. Sampe nggak kepikiran sedikit pun buat hubungin Splash! atau mencarinya sendiri ke sana seusai acara.

Malamnya, keajaiban itu datang. Seorang cowok duduk di teras depan rumah. Di tangannya terdapat tiga nyawa gue yang hilang. Dia menemukannya. Dia menyimpannya. Dia dengan penasaran, membuka isinya, mendapatkan file CV gue, yang memuat alamat dan segala kontak gue.

Lancang, tapi brilian.

Dari sanalah gue berkenalan dengan Aria Pramudya Mahadi. Pria tinggi besar, dengan rambut yang nyaris tiada, rahang kuat, dan sepasang mata elang. Genggaman tangannya begitu mantap ketika gue pertama kali bersalaman dengannya. Gambaran juara panco berkelebat di pikiran liar gue dengan MiniDani yang terkapar KO.

Seusai menceritakan asal usul bagaimana ia bisa terdampar di rumah gue, akhirnya pembicaraan kami mengalir. Tukang sate dan tukang sekoteng sudah parkir di depan rumah, menemani gelak canda dan pembicaraan hangat gue bersama Aria. Hal-hal sepele, kecil menjurus nggak penting, namun bagai candu membuat enggan menyudahi hari.

Kenangan masa kecil, kenakalan kala remaja, hingga pengalaman konyol dalam menjalani pekerjaan di kantor. Disisipi juga celetukan-celetukan dengan bahasa khas lawakan jadul ala Warkop dan Srimulat. Sebuah kegemaran yang ternyata menyatukan kami.

Semakin malam, semakin nyaring tawa kami terdengar. Sampai anjing herder tetangga yang biasanya melolong di tengah malam buta, memutuskan untuk bergelung saja. Mungkin ngambek karena kalah rame.

Ah, baru gue sadar, betapa dulu gue dan Aria sering bercanda. Terbahak karena hal-hal nggak penting, tapi bikin kita bahagia. Menikmati kesederhanaan yang menjadi kemewahan, seperti makan es krim di taman sambil tebak-tebakan inisial plat kendaraan yang lewat. Pura-pura mendubbing pasangan-pasangan yang lagi berduaan di taman dengan suara Donal dan Desi Bebek.

Diam-diam, gue terkikik sambil meneteskan air mata.

Kemana masa-masa menyenangkan itu? Kemana dua orang konyol yang ingin hidup menua bersama itu menghilang?

Bahkan gue berhasil menghitung. Inilah pertengkaran terbesar kami selama ini. Terjadi pada saat yang paling tidak diinginkan. Menjelang kami mengikat janji suci.

Hati gue hancur. Berserakan bersama mimpi yang selama ini gue bangun perlahan. Tergeser ke dalam sudut yang gelap. Mencoba menggapai cahaya di depan, namun bahagia rupanya terlalu jauh dari jangkauan.

Seketika gue terkesiap. Mungkinkah ini terjadi juga pada Papah dulu? Sampai sekarang, Papah belum menjelaskan, mengapa ia memilih untuk meninggalkan Tante Tiya demi Mamah.

Firasat gue menggedor otak di atas sana. Mungkin, ya mungkin saja. Kunci dari segala kegalauan ini ada pada kisah di balik keputusan Papah dahulu. Berpuluh-puluh tahun lalu.

Lampu, lilin, obor, api unggun, laser di kepala gue menyala bersama. Saatnya menuntaskan rasa penasaran dan kegelisahan ini.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day87

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s