Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.19

Mantu-19

Gue terpekur. Mencoba menata pikiran dan hati bersamaan. Mendengarkan jeritan MiniDani yang terbelah menjadi dua kubu. MiniDani yang menggeleng dan MiniDani yang mengangguk.

Ini pertaruhan seumur hidup lo, Dani. Yah, memang ada jalan pintas angker bernama perceraian, kalo ternyata lo pengen berubah pikiran di tengah jalan. Tapi, masa sih lo harus bergantung sama pilihan itu? Pilihan yang dimurkai Tuhan?

Aria meneguk tehnya kembali. Kemudian menatap gue dalam-dalam. Seakan mencoba mencari, adakah kesempatan baginya untuk kembali memenangkan gue.

Hampir setengah jam dalam diam. Waktu menunjukkan sepuluh menit lepas tengah malam.

Gue pun mengungkapkan apa yang menurut gue tepat untuk diutarakan.

“Jaminan apa yang bisa kamu kasih, Ya? Supaya aku yakin kalo kamu, suatu hari nanti, nggak bakal bawa pisau juga depan aku dan murka kaya di ceritamu tadi?” tanya gue tegas.

Aria tersentak. Gue nggak tahu, dia udah antisipasi pertanyaan semacam ini dari gue atau belum.

“Seandainya…aku melakukan sebuah kesalahan, yang di mata kamu, adalah kesalahan besar. Kesalahan fatal. Apakah kamu juga akan menodongkan pisau di depanku?” pertanyaan gue perjelas sekali lagi.

“Kamu bukan Bapak, Dan,” ujarnya pelan. “Laki-laki bertengkar, diselesaikan dengan cara jantan. Kalau perempuan, bukan dengan cara menyakiti begitu,” lanjutnya.

Hmmm, bolehlah. 7 dari 10 bintang, skor untuk jawaban Aria.

“Satu lagi, Ya. Ini sebenarnya sebuah pertanyaan sekaligus permintaan,” ucap gue. “Kalo kita jadi menikah, apa pendapat kamu tentang tinggal terpisah dari orang tua? Perlu atau tidak perlu?” selidik gue.

Aria lagi-lagi memutar bola matanya. Ia tahu, pertanyaan ini penuh dengan jebakan. Salah menjawab, bisa-bisa ia kehilangan gue selamanya.

“Sudah kodratnya, istri harus mengikuti kemana pun suaminya pergi,” jawabnya diplomatis.

“Oke, tapi itu nggak menjawab pertanyaanku, Ya. Perlu atau tidak, pasangan menikah itu hidup mandiri, tidak serumah dengan orang tua atau mertua mereka?” suara gue mulai meninggi. Rupanya lelah membuat gue malas mendengar perkataan yang berbelit-belit.

“Maksud kamu apa, Dan?” suara Aria ikut meninggi.

“Gini ya, Ya. Aku hargain kamu ke sini, buka-bukaan, jujur-jujuran sama aku.Tentang semua aib keluarga yang kamu jembrengin barusan. Tentang apa yang buat ibumu jadi seperti sekarang. Aku dengerin, aku maklumin,” sahut gue.

“Nah, yang lalu udahlah berlalu. Sekarang aku mau mikir ke depan. Aku nggak mau, apapun alasannya, rumah tanggaku dicampurin sama orang lain,” gue berapi-api bicara.

“Orang lain itu siapa?” tanya Aria tak sabar.

“Menurut kamu, siapa?” tanya gue balik, terbawa emosi.

Aria merengut.

“Ya, keluargamu, keluargaku, siapa pun itu!” seru gue gemas.

“Iya, bener, istri wajib hormat sama suami. Tapiiiii…. Suami sebagai imam, punya wibawa, dong! Imam kok disetir sama ibu suri!” ceplos gue nggak tahan.

Aria terbelalak. Rahangnya mengatup kaku. Gue tahu, dia sedang menahan geram. Skak mat! MiniDani kembali bersatu, menari-nari mengelilingi api kemarahan Aria dengan ayunan tombak bak suku primitif.

“Jadi, syaratku simpel. Pernikahan ini lanjut terus. Asalkan, selesai resepsi, kita nginep di hotel, bulan madu, dan pulang ke tempat tinggal baru. Nggak ada Pondok Mertua Indah. Baik dari sisi aku ataupun kamu,” gue menutup permintaan dengan ketegasan Sekjen PBB.

“Pikirin itu baik-baik, Ya. Tentang dimana kita tinggal, kalo kamu setuju, kita cari bareng-bareng, ” ucap gue sambil menepuk pundaknya.

“Udah malem, Ya. Besok lagi kita lanjutin. Semoga udah ada jawaban dari kamu,” gue mulai mengusir Aria secara halus.

Aria pun segera beranjak pergi. Saat ia menuju pintu, Papah dan Rio pun datang. Mereka baru pulang dari Garut. Papah baru aja temu kangen dengan beberapa teman SMAnya di sana.

“Eh, Aria! Mau pulang, Nak?” tanya Papah ramah. “Udah lama nunggunya?” Papah kege-eran, dikirain Aria baru pulang karena melihat Papah dateng.

“Udah, Om. Saya pamit dulu, ya. Kasihan semua pada capek. Besok saya ke sini lagi,” kata Aria dengan sopan.

Untung aja Papah dan Rio datang. Gue nggak kebayang kalo Aria pergi dalam keadaan gondok. Tahu-tahu dia tancap gas, sambil maki-maki gue.

Kehadiran Papah sedikit menyurutkan kekesalan Aria, itu pasti!

Papah pun menyodorkan sebuah bungkusan. “Ini oleh-oleh buat Aria sekeluarga. Salam dari Om, ya!” pesannya sambil tersenyum hangat.

Aria membalas dengan senyum tipis, lalu mencium tangan Papah, sebelum bergegas pulang.

Tanpa sadar, gue menghela napas panjang. Fiuuuuuh! Leganya bukan kepalang!

Papah dan Rio melihatku, lalu saling berpandangan dan tersenyum kecil. Sebelum gue cerita, sepertinya mereka sudah bisa menebak. Gue baru saja menghadapi sesuatu yang mendebarkan dan begitu mengusik.

“Pah, gimana tadi di Garut? Cerita dong!” sahut gue sambil merangkul Papah.

Kami pun masuk ke dalam rumah sambil mendengar Papah bercerita sampai terkekeh-kekeh.

Malam ini gue sudah terlalu berat dibebani kisah kelam keluarga Aria. Biarlah gue tidur dengan mimpi indah. Cuma Papah dan Rio, lelaki-lelaki yang selalu berusaha keras membuat gue tertawa riang. Tanpa syarat, tanpa mengumbar kepedihan mereka sendiri.

Semoga pengalaman seminggu tinggal di sini, menularkan semangat yang sama kepada Aria. Membuka hatinya. Menariknya dari belenggu diktatorisme ibunya sendiri. Menjadikannya pria sejati.

Semoga.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day86

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s