Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.18

Mantu-18

“Aku…pernah mau membunuh Bapak,” kalimat itu meluncur dari mulut calon suami gue. Begitu tiba-tiba. Dengan ekspresi wajah datar. Tanpa terbersit sedikit pun rasa bersalah.

“Seharusnya, waktu itu aku tusuk aja pisaunya, dalam-dalam!” ucapnya menahan geram.

Gue memeluk Aria. Mengelus punggungnya, memberinya waktu untuk meredakan emosi. Padahal, dalam hati, ada rasa takut turut mengintip. Kecemasan. Apakah nanti Aria akan melakukan hal sama jika kami bertengkar hebat?

Gue sodorkan secangkir teh manis yang baru saja diisi ulang. Aria menyeruputnya dalam-dalam. Sepertinya efek menenangkan cukup terasa, terlihat dari raut wajahnya.

“Kok bisa kamu bawa-bawa pisau ke arah Bapak? Ada apa?” tanya gue penasaran.

Aria menghela napas, lalu mulai bercerita lagi.

Kejadiannya tiga bulan sebelum Om Bimo berpulang. Tante Tiya dan Mbak Yona sedang berkunjung ke rumah salah satu bibi Aria yang anaknya baru saja melahirkan. Lokasinya di Semarang, sehingga mereka menginap tiga hari dua malam di sana. Om Bimo tidak ikut karena sedang mengikuti sebuah tender penting untuk perusahaannya. Aria pun sedang mempersiapkan peluncuran produk baru di kantor.

Suatu malam, Aria kembali ke rumah. Waktu menunjukkan satu jam lewat tengah malam. Di rumah hanya ada Nanda yang diminta Tante Tiya menunggui rumah bersama Yuti, selain Om Bimo tentu saja. Aria baru saja melepas lelah di ruang keluarga, sambil menonton film di televisi. Tiba-tiba ia mendengar suara cekikikan. Seorang wanita muda. Bukan suara adiknya pula, yang sudah terlelap di kamar lantai atas bersama Yuti.

Aria menyingkirkan segala pikiran macam-macam. Ia coba mencari sumber suara. Ternyata, suara itu terdengar dari kamar tidur utama. Kamar orang tuanya.

Telinga Aria menempel pada pintu. Tak salah lagi, dari sinilah suara itu berasal. Gagang pintu ia sentuh dan coba membuka masuk ke dalam kamar. Terkunci.

Muncul suara lain. Rintihan berat, suara pria yang sangat ia kenal. Bapak! Adakah ia di dalam sana?

Darah Aria seketika mendidih. Adrenalin memuncak. Didobraknya pintu itu tanpa ragu. Apa yang ia saksikan di dalam benar-benar menjatuhkan bom atom di kepalanya.

Om Bimo tergeletak di ranjang. Hanya memakai celana dalam. Bersama seorang wanita muda, usianya tampak hanya beberapa tahun lebih tua dari Nanda. Tanpa busana, cekikikan tanpa henti, sambil mengacak-acak rambut panjangnya yang dicat kemerahan.

Semerbak bahan terlarang menyerbu indera penciuman Aria. Di atas meja kecil samping ranjang, jawaban itu terletak di sana. Sekumpulan alat suntik dan bong kecil, dengan bubuk putih yang notabene pastilah narkoba.

Aria gelap mata. Ia merasa ditampar bolak-balik, ditendang jatuh ke dalam jurang tanpa batas. Bapak, sosok yang meskipun ia tak sukai, tetap masih terucap dalam doanya, masih coba ia beri sedikit rasa hormat. Kini, semuanya buyar, lenyap bersama kenistaan yang menenggelamkan harga dirinya.

Teriakan Aria membangunkan Nanda dan Yuti. Mereka menemukan Aria ada di dalam kamar Tante Tiya dan Om Bimo, dengan pisau dapur terhunus. Mulutnya tak henti membentak kedua insan berlumur dosa di atas ranjang. Yang jelas sedang dalam kondisi tidak sadar apa yang dilakukannya.

Nanda menangis pilu, mencoba menghalangi Aria untuk tidak melakukan hal bodoh yang akan disesalinya. Untung saja Yuti bergerak sigap, menghubungi saudaranya yang bertugas sebagai satpam di kompleks Aria. Pak Karno, saudara Yuti, tiba dalam waktu 10 menit. Kebetulan ia masih nongkrong di warung kopi tak jauh dari rumah Aria, sedang menanti siaran langsung sepakbola.

Pak Karno, Yuti, dan Nanda berhasil mengendalikan situasi. Pak Karno mengamankan Aria, sampai ia tenang.Lalu, gantian si perempuan liar, yang belakangan diketahui bernama Niki, yang diringkus Pak Karno dibantu Yuti yang menyelimuti tubuh bugilnya.

Nanda pun coba membangunkan Om Bimo, namun sia-sia belaka. Ia pun menghubungi salah seorang sahabatnya, yang memiliki klinik 24 jam. Sahabatnya datang bersama sang kakak yang merupakan dokter utama klinik tersebut, tak sampai setengah jam kemudian. Nanda dan Aria berpikiran sama. Mereka enggan membawa Om Bimo ke rumah sakit besar. Mereka tak ingin memperpanjang masalah ini dan mengirimkan Om Bimo ke balik jeruji besi.

Singkatnya, segala bencana malam itu dibersihkan dengan nyaris sempurna. Seakan tidak terjadi apa-apa. Tante Tiya dan Mbak Yona datang menemui keadaan rumah seperti biasa. Tak menyadari sebuah kejadian memalukan terjadi sehari sebelumnya.

Aria, Nanda, dan Yuti sepakat bersandiwara. Mengatakan Om Bimo tiba-tiba keluar kota dan mengabarkan dirinya sedang tidak fit, sehingga baru akan kembali minggu depan. Padahal, Om Bimo sedang dirawat hingga pulih kesehatannya, berkat kemurahan hati Grace, sahabat Nanda beserta kakaknya, Dokter Frans.

Tuhan pun memutuskan lain. Pasca kejadian itu, kesehatan Om Bimo pun menurun. Ia menjadi cepat lupa, sulit berkonsentrasi, dan kerap bicara tak jelas. Tante Tiya segera mengambil alih perusahaan dan meminta Om Bimo istirahat saja di rumah.

Suatu hari di bulan ketiga sesudahnya, selesai lari pagi, Om Bimo tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri. Terjadi pendarahan otak yang membuatnya koma seketika. Saat ajal menjemputnya, setelah tiga hari dirawat di ICU, tak sekalipun ia tersadar apalagi meminta maaf kepada keluarga yang telah disakitinya.

Kelanjutannya, adalah drama di hari pemakaman yang telah diutarakan Aria sebelumnya.

“Jadi, sekarang kamu tahu. Keluargaku jauh dari sempurna. Penuh sejarah hitam. Apakah kamu masih mau menikah denganku?” tanya Aria menutup semua kisah mengejutkannya.

Gue terdiam untuk kesekian kalinya. Kepala gue terasa berat. Sama beratnya dengan hati yang terselimuti awan tebal bernama keraguan.

Bisakah gue hidup bahagia bersamanya? Atau segala kesialan rumah tangga orang tuanya akan turut hinggap pada pernikahan kami nanti?

Oke, tampaknya sebutir Panadol merah perlu gue tenggak sebelum melanjutkan pembicaraan ini.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day85

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s