Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.16

Mantu-16

Akhir pekan tak terasa sudah kembali tiba. Saatnya hiruk pikuk pekerjaan disisihkan dahulu demi waktu bersama orang-orang tersayang. Niat gue untuk bertemu Aria dan Tante Tiya belum juga terwujud.

Tenggelam dalam kejaran deadline bertubi-tubi. Laporan, perencanaan proyek baru, rapat dengan klien, membuat gue tak kuasa meluangkan waktu untuk mampir ke rumah Aria. Pikir gue, ini adalah hal yang tidak bisa diselesaikan cukup dengan setengah jam dan dalam kondisi pikiran bercabang.

Gue putuskan untuk menyiapkan akhir pekan ini tanpa satupun gangguan pekerjaan. E-mail pun gue atur untuk mengirimkan automatic reply, menyatakan bahwa gue sedang “liburan” dan akan membalas kembali hari Senin.

Istikharah sudah gue coba jalani tiga malam terakhir. Cukup efektif membuat gue lebih tenang. Dalam berpikir, dalam bertindak, dalam menyusun apa yang gue ingin lakukan ke depan.

Seusai rapat yang menyita waktu seharian ini, gue pun buru-buru menekan tombol speed dial di ponsel. Suara berat Aria menyambut di seberang sana.

“Dani? Kamu dimana?” nada kecemasan tersirat dari suaranya.

“Hai, Ya! Aku baru selesai rapat. Kita bisa ketemu? Jam 7 di rumahku?” tanya gue penuh harap. Semoga Arya nggak bales ngejauhin gue setelah usaha pantang menyerah kemarin-kemarin itu selalu gue tangkis.

“Oke, tunggu aja ya!” nada suaranya berubah. Ada keceriaan di sana.

MiniDani pun nyengir di dalam, mengenakan kacamata hitam, dan berseru, “It’s showtime, baby!”

Gue menutup ponsel, lalu bergegas pulang ke rumah. Ingin rasanya terus menginjak pedal gas, supaya cepat sampai. Gue mengemudi bak supir truk kesetanan. Untung saja, berkat pengetahuan beberapa jalan tikus mondok geal geol (saking mepetnya), gue bisa lebih cepat menembus kemacetan Bandung menyambut akhir pekan.

Sesampainya di rumah 45 menit kemudian, segera gue mandi dan berganti pakaian. Gue mematut diri di depan kaca. Perlukah memakai sesuatu yang istimewa? Kenapa rasanya seperti mau bertemu pertama kali dulu? Pipi gue bersemu merah. Jantung berdebar tak karuan. Rasa menggelitik pada perut juga turut menyelinap. Seperti dibelai ribuan helai bulu kucing gendut nan jabrik.

Akhirnya, gue putuskan untuk tampil santai. Celana jogger biru muda berpadu dengan kemeja panjang putih, lengannya gue gulung sampai siku. Rambut gue kuncir ekor kuda, wajah dipupuri bedak tabur, dan seulas lipstik pink segar. Even the fashion police will nod their head all day long.

Nah, begini lebih baik. Nggak keliatan kucel, tapi juga nggak berlebihan. Senyum manis gue pasang sebagai sentuhan akhir. Setidaknya mengimbangi mata panda kurang tidur yang coba diredakan dengan kompresan bungkus nugget dingin sebelumnya.

Masih ada 20 menit sebelum Aria datang. Gue pun menyiapkan spaghetti instan dan sepoci teh manis panas sebagai suguhan. Semuanya selesai tersaji, berbarengan dengan suara bel di pintu depan.

Gue berlari kecil ke arah pintu, membukanya, dan …

Kesadaran gue muncul. Gue kangen Aria. Gue seneng akhirnya kita bisa ketemu lagi.

Aria berdiri di sana. Menghambur ke arah gue dan memeluk gue erat.

Gue terdiam. Nggak berkata apa-apa, hanya turut melingkarkan tangan di pinggangnya. Turut memeluknya. Waktu seakan berhenti sejenak.

Lima menit berlalu. Kami melepas pelukan, berpandangan, lalu tergelak bersama. Oke, ini seperti adegan roman picisan, kurang rombongan cupid berpanah joget mengitari kepala kami.

Aria menggandeng tangan gue dan masuk ke dalam rumah. Menghempaskan kedua tubuh kami bersama di atas sofa di ruang tamu.

Aria masih belum bicara apa-apa. Ia hanya menatap gue dalam-dalam. Seperti mencoba menikmati akhirnya bisa berdekatan tanpa hindaran gue. Serta merta gue merasa kikuk. Seperti waktu pedekate dulu rasanya. Menjadi pusat perhatian seorang lelaki, dengan pandangan mata yang penuh rasa. Semoga ucapan pertamanya bukan mengingatkan ada cabe sekilo nyangkut di gigi.

“Maafin aku, Ya,” gue pun membuka percakapan. “Maafin aku karena udah bikin kamu khawatir. Udah nolak kamu kemarin-kemarin. Udah….bikin kamu kecewa,” sahut gue, tercekat di bagian akhir.

Aria menggenggam tangan gue. Ia menggeleng. “Ini cuma salah paham, Dan. Seharusnya aku jujur sama kamu,” ucapnya pelan. “Banyak cerita tentang keluargaku yang kamu harus tahu. Aku akan ceritain semua, sekarang,” lanjutnya.

Tanpa diminta, Aria mengungkapkan berbagai hal tentang keluarganya. Hal-hal mengejutkan. Hal-hal yang membuat beberapa pertanyaan terjawab. Tanpa perlu ada Uya Kuya membakar tisu dan menghipnotisnya, Aria pun menumpahan semua rahasia besar keluarganya.

Mengapa keluarga mereka begitu individualis. Mengapa sikap Tante Tiya begitu diktator. Mengapa  rumah itu terasa dingin.

Tersingkaplah, sebuah kenyataan pahit.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day83

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s