Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.13

Mantu-13

Letih.

Itu yang gue rasain begitu bangun dari hibernasi. Udah nyaris tengah hari ketika gue mutusin untuk membuka mata dan beringsut dari kasur kesayangan. Ya, kasur kesayangan yang gue tinggalin semingguan. Kamar yang selalu ramah menyapa setiap gue hadir di dalamnya.

Dan gue nggak mau berpisah lagi dengan mereka, sampai nanti hari pernikahan gue tiba.

Kalau memang jadi ada hari pernikahan.

SIGH.

Otak gue coba merunut kenekatan yang terjadi semalem. Hingga akhirnya gue berhasil kembali ke tempat ini lagi. Walaupun harus mengorbankan sesuatu yang seharusnya gue jaga baik-baik sekarang ini.

Setengah jam lamanya, gue hanya termenung, enggan beranjak untuk mandi dan berganti pakaian. Rasanya ingin menghabiskan sisa hari ini dengan bermalas-malasan, dengan seragam kaos Garfield butut andalan.

HP pun gue biarkan mati, walaupun gue putusin untuk tetap mengisi ulang baterainya. Hanya tablet kerja yang gue biarin tetap menyala. Toh, Rio tidak tahu nomornya, karena memang hanya gue pake buat jalanin kerjaan gue sebagai social media and digital content expert. Tetap profesional walaupun lagi galau badai.

Serangkaian ketokan brutal terdengar di pintu kamar.

“Woiii..Dani! Bangun bangun! Kalo nggak, balado terong lo gue abisin yaaak!” suara Rio menggema dari luar kamar.

“Iyaak! Gue udah bangun! Bentar, mandi dulu!” balas gue, nggak rela makanan favorit gue dilahap tandas oleh Rio.

Lima belas menit kemudian, gue udah selesai mandi dan ganti baju. Masih dengan pakaian rumah andalan kedua, kaos Bali warna merah yang udah pudar dan celana jeans lama yang dipotong selutut lengkap dengan benang rumbainya.

Bener-bener nggak seperti calon pengantin wanita yang harusnya udah sibuk perawatan dan latihan mempercantik diri.

Lagi-lagi, gue udah nggak mau ngarep. Pernikahan ini udah di ujung cula badak Ujung Kulon.

Gue keluar kamar lalu berkumpul dengan Papah dan Rio di meja makan. Rio tampak ganas menggigit paha ayam goreng sambil hah-hoh-hah-hoh kepedesan. Rupanya ada sambal bawang mercon khas Papah tersaji di meja. Cocok banget jadi obat pusing mujarab, ngalahin Panadol merah.

Sambil menyantap nasi ayam goreng dengan balado terong kesukaan, gue larut dalam percakapan dengan Papah dan Rio. Mereka mencemaskan keadaan gue, yang jelas kacau balau tingkat kabupaten.

“Kamu kaya nggak makan dua tahun, Dan. Lebih lahap dari biasanya,” celetuk Papah. Gue hanya meringis. Akhirnya, dadah bye-bye  sama pindang cuek makanan meong. Bahagianya, amboiiii!

“Kurang gizi, tuh Dani di sana, Pah! Liat aja, udah kaya kucing kurus yang ngemis kerupuk!” timpal Rio sambil ngakak. Gue refleks lemparin lalapan labu siam kecil ke mukanya Rio.

Papah berusaha menengahi, sambil ikut terbahak-bahak.

Kami pun melanjutkan acara makan siang bersama. Suasana akrab yang gue kangenin terbayar sudah.

Tak lama usai makan, gue yang sedang mencuci piring di dapur, mendengar suara telepon berbunyi. Papah mengangkatnya, terdengar pembicaraan dengan seseorang di seberang sana. Sayup-sayup gue denger Papah menjawab, “Dani ada, baru saja selesai makan siang. Mungkin HP-nya mati. Nanti saya sampaikan ya.”

Buru-buru gue selesaikan semua tumpukan piring dan gelas kotor. Nggak sabar mau tahu siapa yang bicara dengan Papah tadi.

“Siapa, Pah?” tanya gue kepada Papah yang sedang bersantai sambil menonton TV. “Itu Aria, Dan. Tadi dia coba menghubungi kamu, tapi nggak bisa terus. HP kamu mati?” beritahu Papah.

Tanpa sadar gue mendengus kesal.

“Heuh! Iya Pah, Dani matiin. Dani pengen istirahat tenang dulu. Nggak mau diganggu,” sahut gue cepat. Gue ambil majalah di atas meja dan membolak-baliknya tanpa tujuan. Mata gue ke arah halaman-halaman yang berganti, namun pikiran gue melayang ke tempat lain.

Papah mendekati gue, mengelus rambut gue, dan mengeluarkan kata-kata yang persis banget pengen gue denger saat ini. “Ambil waktu sebanyak yang kamu mau, Dani. Ketenangan adalah hal yang kita paling butuhkan untuk menyelesaikan ini semua,” kata-kata bijak meluncur dari pria yang paling gue hormati seumur hidup.

“Kalau kamu sudah bener-bener siap, segera hubungi Aria. Biarlah nanti Papah bilang ke Aria, kalau kamu lagi istirahat total,” ujarnya.

“Maaf, Dani jadi repotin Papah,” sahut gue sambil memeluk Papah. Papah hanya tersenyum kecil. “Sudah tugas Papah untuk selalu melindungi kamu, Nak. Dani nggak usah khawatir,” ucapnya hangat.

Gue ingin waktu berhenti sekarang. Kehangatan inilah yang gue harapkan dari suami gue kelak. Sekarang, gue meragukan Aria bisa memberikan ini, melihat adanya tembok Berlin bercap wajah Hitlerwati berdiri kokoh pongah di belakangnya.

Seandainya gue memutuskan untuk menyalakan HP gue siang itu, gue akan melihat deretan message di WA dari pengirim yang sama dengan isi pesan serupa.

Aria. Menginginkan gue segera datang ke rumahnya dan bertemu Tante Tiya. Sekarang juga.

Benar-benar edan. Sekarang calon suamiku sudah tertular jadi diktator.

Bertambah lagi satu alasan mengapa Tante Tiya tak layak untuk dimaafkan.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day80

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s