Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.11

Mantu-11

Tingkah dan kata-kata Tante Tiya yang menyebalkan tingkat dewa.
Rumah yang dingin dan penghuninya yang cuek bebek tak ramah.
Calon ipar dengan ketidakjelasan arah hidup membuat gue makin nggak nyaman.
Sampai semrawutnya isi rumah yang ikut menyakitkan mata kala melihatnya.

Termasuk keraguan gue untuk lanjut melangkah ke pelaminan.

“Serba salah, Yo. Mana yang harus gue utamain dan korbanin. 7 hari aja gue udah begini, apalagi 7 bulan, 7 tahun, atau…sampai maut memisahkan. Keburu gue yang pengen bunuh diri,” keluh gue sambil memegang kepala yang tiba-tiba berdenyut, pusing 77 keliling.

Rio yang sedari tadi begitu khidmat mendengarkan curhatan gue, gantian angkat bicara.

“Ikutin aja kata hati lo, Dan,” sahutnya pelan.

Lah…gampang bener dia ngomong.

“Hati gue mulutnya keplester, Yo. Dia nggak bisa ngeluarin kata apapun!” seru gue cepat. Nggak puas dengan tanggapan Rio.

“Ya, sekarang lo tegesin aja, ke Aria dan Tante Tiya. Ungkapin perasaan lo. Apalagi sama Aria. Lo udah omongin belom segala keberatan lo ini?” selidik Rio.

“Ya, belom sih. Gue bingung nyampeinnya gimana,” gue mengaku sambil garuk-garuk belakang kepala.

“Non, lo tuh bakal berumah tangga sama Aria, bukan ibunya. Dia yang ntar mimpin lo, bukan ibunya. Kalo Aria nggak bisa jadi pemimpin adil, di saat genting kaya gini, lo tahu apa yang harus lo lakuin,” saran Rio sambil menyeruput kopinya.

“Uang buat pesta bisa dicari lagi. Kehidupan yang ancur karena nggak dengerin kata hati, nggak bakal balik utuh lagi, Dani,” kata-kata Rio selanjutnya benar-benar membuat gue tersentak.

Damario Raditya, sesuai namanya, bener-bener jadi matahari yang menerangi gue. Jalan kegelapan yang gue laluin, sekarang mulai keliatan arahnya. Umur boleh cuma beda dua tahun, bijaknya kaya udah 20 tahun lebih lama hidup daripada gue.

Rio mengetikkan sesuatu di smartphone-nya. Mukanya super serius. Nggak lama terdengar bunyi tingtangtingtung. Raut wajah Rio berubah, rasa puas tergambar di wajahnya.

“Lo tungguin aja. Aria bentar lagi dateng, nyusul ke sini. Lo omongin semua sama dia. Pokoknya, malem ini lo harus tidur pules. Nggak mendem lagi masalah. Oke?” mintanya dengan nada sedikit memerintah.

“Siap, Jenderal! Laksanakan!” seruku sambil memberi hormat.

Kami pun tertawa berderai.

Sambil menunggu Aria, Rio pun gantian bercerita. Betapa tiga lelaki dalam satu rumah tanpa satu kaum hawa pun membuat rumah jauh dari keteraturan. Bau rokok, cangkir bekas kopi belum dicuci, berkeliaran hanya dengan kaos dan sarung yang sama berhari-hari.

Namun, Aria begitu bahagia. Ia pun mengungkapkan, di rumah gue rasanya seperti nongkrong 24 jam. Selalu ada hal menarik yang membuatnya terjaga. Sepertinya hal ini yang jarang ditemuinya di rumahnya sendiri. Mengobrol akrab dengan Papah, curcol sama Rio tentang pekerjaannya, nanya-nanya tentang gue, sambil ngetawain kekonyolan gue yang terpampang di dalam album foto lama.

Singkatnya, Aria bernasib 180 derajat berbeda dengan gue.

Anehnya, tak sedikit pun Aria bertanya pada Papah tentang kisah cinta lamanya dengan ibunya. Seakan ia sudah tahu, atau malah tak mau ambil pusing tentangnya.

Setengah jam berlalu, Aria pun tiba. Dengan sweater biru tua kesayangannya dan wajah cemas melihat gue yang dengan santai melambai penuh senyum kepadanya. Aria memeluk gue erat. Mungkin ia tidak menyangka, gue berkeliaran tengah malam begini, tanpa memberitahunya.

“Gue keluar sebentar, ya. Dani, Aria, nyante aja, ngobrol aja sampe selesai. Gue mau beli mie dulu di warung seberang,” sahut Rio sambil menepuk pundak kami berdua.

“Dan, kamu ngapain malem-malem begini keluar rumah? Ada apa, Dan?” tanya Aria cemas.

Gue menggigit bibir. Here comes the ugly truth.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day78

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s