Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.8

Mantu-8

Terakhir kali gue merasa homesick itu waktu kelas 2 SMA. Waktu itu, gue ikut program belajar bahasa Inggris ke Australia. Rasanya pengen geret koper, berenang nyebrang lautan, atau nebeng pesawat ala-ala hitchhiker, demi bisa ketemu ikan asin, sambel terasi, dan tawa hangat Papah.

Sekarang, rasa yang muncul di hati gue, homesick yang sama. Umm, kalikan dua deh. Eh, jangan, pangkatin sepuluh.

Belom juga ngelewatin satu malem di rumah Aria, rasanya pengen ngibarin bendera putih. Aura hangat yang biasa ada di rumah, berganti dengan angin panas. Gerah karena sirkulasi udara yang berantakan di rumah ini, dan tekanan batin dari Tante Tiya.

Somehow, gue kasian. Mungkin dia kesepian. Mungkin ini luapan kekecewaan. Mungkin ini arogansi, gengsi untuk mengakui kalo hidup itu nggak selamanya bisa kita kendalikan total.

Ah, entahlah. Semua teori psikologi mental untuk kasus Tante Tiya. Gue nggak bisa nebak isi hatinya, isi kepalanya. Cuma kata-kata dari mulutnya aja yang coba gue tafsirkan. Itupun udah cukup bikin pusing pala barbershop.

Ini ringkasan apa yang terjadi tadi siang…

Sesudah gue simpan semua barang di kamar tamu, yang ukurannya ya gitu deh, goyang itik dikit, udah nyenggol tembok, Tante Tiya udah summon gue lagi. Setttt..gue nongol kaya jin lampu digosok amplas.

“Ya, Tan?” jawabku sok ikrib.

“Kamu masakin Tante, dong. Bosen sama masakan Yuti. Nasi goreng satu, ya! Pedesnya dikit aja, takut maag!” pinta Tante Tiya, seakan gue abang mie tektek.

“Siap, Tan! Bungkusnya disobek, yak!” ujar gue mencoba ngelucu. Eh, doi malah mengangkat alis. Yaelah, salah sasaran. Nggak ngerti joke kodian gue, dieee!

“Kok dibungkus sih? Pake piring aja, Dani. Segitu piring kinclong numpuk di meja!” serunya gemes.

“Eh, iya, Tan! Kirain pengen pake bungkus nasi, biar beda dikit,” gue masih aja ngeles kaya angkot dikejar polantas.

Srang sreng srang sreng, singkat cerita, jadilah nasgor spesial Dani van Wajan di atas meja. Tiya Ramsay siap mencicipi, mungkin memaki, mungkin minta tambah lagi.

“Kamu pake bumbu apa, Dani? Rasanya kaya nasi goreng Solaria,” komentar Tante Tiya.

“Standar, Tante. Saos tiram, kecap, lada, bubuk bawang putih. Bawang putih sama bawang bombay, bawang daun dikit,” jelasku dengan pongah. Solaria gitu, standar resto laah. Laku pula itu restonya. Hidung gue kembang kempis kaya belalai gajah tripping.

“Hmmmm..pantes! Kurang sip! Nasgor itu enaknya pake bumbu ulek. Bumbu bubuk sama saos jadi begitu sih rasanya nggak nasionalis!” timpal Hitlerwati yang menjelma jadi Bu Sisca abal-abal.

KAMPRET NUNGGING SIANG BOLONG!

Pengen gue tumplekin itu wajan ke kepalanya!

Udah zaman tokebi-happy call-kulkas bisa dipake ngaca, masih ngandelin ulekan?????

Hakul yakin, itu emak-emak udah puluhan tahun kagak pernah ngulek. Tinggal tunjuk jari, abdi dalem yang geal geol ngehalusin cabe daaah!

“Oh, gitu, Tante. Wah, bisa contohin sekarang dong, demoin cara bikin nasgor ala keluarga Aria?” tantang gue dengan senyum semanis aspartam, palsu mematikan diam-diam.

Muka Tante Tiya berubah. Ia tidak menyangka gue langsung smes balik.

“Ah, Tante ngantuk nih. Kenyang juga makan, walaupun rasanya kurang nendang. Tidur duluan ya, Dani,” Tante Tiya berlagak ngantuk. Padahal gue tahu banget, di dalem kamar palingan ntar dia nonton Uttaran. 3,5 jam episodenya dijabanin sampe melotot.

“Oke, Tante. Met istirahat. Jangan kebawa mimpi indihe indihe,” celetuk gue sambil ngeloyor bawa piring ke dapur. Gue pun sengaja diem lama di dapur, setelah cuci piring dan peralatan masak.

Edan emang ini Kanjeng Ratu. Mancing gue bikin dosa melulu, deh. Pikir gue sambil geleng-geleng kepala ala gadis koplo.

Setelah gue denger pintu kamar Tante Tiya terbuka dan tertutup, barulah gue berjingkat-jingkat keluar. Ayo lari, Speedy Gonzales, arriba!

DUENGGGG!!

Gue hampir aja nabrak Yuti, yang sedang menggendong Zana.Si bayi mungil ini tertidur pulas. Wajahnya begitu damai.

“Lho, Yuti? Mbak Yona mana?” tanya gue.

“Itu tuh, lagi makan Indomie di kamar. Bosen dia sama sayur katuk. Katuk melulu, kaya kambing aja,” ujar Yuti dengan logat khasnya.

“Lah, emang siapa yang nyuruh Mbak Yona makan katuk melulu? Tante Tiya?” tuduh gue.

“Nggak, Non Dani. Itu Non Yona yang mau. Soalnya terlanjur bilang-bilang ke sana kemari. Makan katuk, minum jamu, biar ASI banyak. Pencitraan kayanya. Wong, itu katuk cuma dicuil sedikit. Sisanya saya yang makan. Atau tak buang aja ke tong sampah. Non Yona makannya Indomie sama telor ceplok melulu. Gimana mau ada isinya ini anak,” jelas Yuti dengan berapi-api.

Oke. Setelah nggak punya pendirian, munafik pula. Rahasia apa lagi yang bakal terkuak 4 bulan ke depan?

Ternyata, diktatorisme Tante Tiya memberi dampak pemanasan dan pembodohan global di rumah ini.

CILAKA DUABELASRIBULIMARATUS!

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day75

Gambar dari sini

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s