Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.7

Mantu-7

Oh not I,
I will survive, yeah
As long as I know how to love,
I know I’ll be alive
I’ve got all my life to live
I’ve got all my love to give
I will survive, I will survive
Yeah, yeah

Mantra dari lagu I Will Survive versi Cake gue teriakin berulang-ulang. Mobil kecil warna merah goyang-goyang di Jalan Dago? Nggak salah lagi, seorang Adity Chandhani. Sinar bulan yang tak terhingga kebebasannya. Konser tunggal demi kewarasannya yang sedang kritis, butuh diisi ulang oleh kuota unlimited.

Gue. Pasti. Bisa. Gue. Pasti. Bisa.

Gue ngebayangin Chinmi, Kungfu Boy. Menguasai jurus dan mengalahkan lawan berat, butuh waktu, butuh keringat mengucur bersama darah. Apa cuma gue calon pengantin yang mikir persiapan ngadepin mertua itu butuh latihan yang lebih keras dari Naruto naklukin Rubah Ekor Sembilan?

Entah berapa kali angkot Kalapa-Dago ngeklaksonin gue, disertai umpatan khas ge-o-be-el-o-ge ala ala mamang sopir. Salahkan Kanjeng Ratu, menghilangkan kemampuan navigasi dan fokus rajawali gue.

Oke, tiga kali belok lagi, sampailah gue di sarang penyamun, eh gua naga, eh rumah Aria. Koper siap. Notebook dan keluarga siap. Golok Naga siap. Bom asap siap. Topeng Joker siap. Tinggal mental gue yang belom siap, MiniDani udah dadah-dadah aja ke kamera, padahal uji nyalinya belom mulai.

Aria udah siap di depan rumahnya. Pagar hijau sudah dibuka, memberikan ruang pada mobil gue untuk parkir di garasi. Hmmm..tampak ada yang berbeda. Dinding-dinding terlihat kinclong. Habis dicat ulang, mungkin untuk menyambut tamu agung. Walaupun, pilihan warnanya yang kurang elegan, mengingatkan gue pada deretan lokal kontrakan Haji Dudung deket rumah. Hijau nanggung, ala-ala gerobak bakwan malang yang pernah gue lihat di Jakarta.

Aria membantu membukakan pintu mobil dan menurunkan barang-barang gue. Ada raut kecemasan terlihat di mukanya. “Kamu kurang tidur semalem? Matanya bengkak gitu?” ucapnya sembari menggenggam tangan gue yang dingin-dingin nyoy nyoy tahu bulet beku.

“Abis maraton nonton How I Met Your Mother semalem. Nangis bombay sama endingnya,” jawab gue ngasal.

Menurut ngana??? Emak diktator ngana biang keroknyaaa!! Pengen teriakin itu di kuping Aria rasanya.

Sekarang wajah Aria seakan membulat dengan OOOOO tergambar jelas, padahal ngerti juga nggak deh. Wong tontonannya Bukan Empat Mata dan Mister Tukul Jalan-jalan. Boro-boro ngerti joke ala Barney Stinson, tahunya eaaa eaaa eaaa.

“Yuk, masuk. Bunda udah nunggu di dalem,” ajak Aria. Oemji. Kenapa ya, sejak denger mbak-mbak di supermarket manggil semua cewek yang lagi hamil atau keliatan udah berkeluarga, dengan sebutan Bunda, gue jadi eneg bawaannya.

Minggu lalu, waktu gue dan Melanie, tetangga baru yang jadi temen deket baru gue, lagi belanja ke supermarket nggak jauh dari kompleks. Si bumil cantik yang menarik perhatian banyak orang, termasuk SPG susu hamil yang nggak ngerti kata “Maaf, saya minumnya susu UHT aja.”, bisa aja tersenyum manis sambil menolak halus. Sementara gue udah siap keluarin cakar besi ala Wolverine. Hormon sensi ibu hamil masih kalah sama gadis stres pranikah. Trust me, it’s super true!

Ah, jadi kangen Melanie. Narasumber terpercaya tentang gimana ngadepin pernikahan. Melanie dan suaminya, Davi, bisa sabar menanti 4 tahun pernikahan sampai dapet kesempatan tahun ini buat nimang anak pertama. Melanie yang terlihat jauh dewasa dari wajah imutnya, umurnya cuma 2 tahun di atas gue. Sekarang, mau ketemu Melanie kudu janjian dulu, nggak bisa langsung mampir atau ketok-ketok jendela dari genteng. HUH!

Tanpa sadar, gue udah masuk ke dalam rumah Aria. Rumah yang sebenarnya luas, tapi tata ruangnya berantakan. Tim acara rombak rumah aja pasti kejang-kejang cari akal bikin rumah ini lebih rapi. Belum lagi diisi oleh banyak orang, yang kesadaran akan kebersihannya minim. Manis Manja grup, MAles Nata ISi, MANdi JArang. Lengkap sudah Bantargebang Leuwigajah bersatu tak bisa dikalahkan!

Jangan lupa, drama Saur Sepuh di dalamnya.

Beneran dong, belom sepuluh langkah masuk rumah ….

OEEEKKK OEEKKKK!

Jeritan bayi terdenger kenceng pisan sodara sodara! Pasti itu Zana, ponakan Aria yang baru berumur 3 bulan. Nggak lama, gue lihat Mbak Yona, kakak perempuan Aria yang menggendong Zana dengan muka bingung sutrisno. Lalu, suara dari Kau-Tahu-Siapa terdengar.

“Udahlah, Yon. Kasih aja air tajin. Suruh si Yuti bikin sana! Pusing kepala Ibu denger Zana nangis melulu. Dikasih susu kempes sih!!” kemurkaan Tante Tiya tersebar ke penjuru ruangan.

“Nggak usahlah asa asi asa asi dipaksain. Wong keluarga kita produk air tajin aja bisa jadi wong sugih kok, pinter-pinter masuk ITB sama UGM!” tambahnya penuh kesewotan.

Jiahhhh! Semprul sontoloyo ciat ciat duarr!

Oke, ada garis tipis antara patuh dan bego. Gue nilai Mbak Yona itu yang kedua. Bagai kebo dicucuk idungnya, doi beringsut ke dapur, nurutin perintah Kanjeng Ratu. Gile yeee, lo nempel sama itu bayi 9 bulan. Huek-huek bareng, ditendangin siang malem, lahiran meregang nyawa. Trus lo biarin orang lain ngatur hidup lo n hidup anak lo.

Balikin aja tuh gelar sarjana. Pengen rasanya gue jebretin gitu tiba-tiba. Karena masih sayang nyawa, gue mutusin buat diem, walaupun muka gue nggak bisa nyembunyiin kegeraman.

Melihat pemandangan yang nggak enak itu, Aria buru-buru mencium pipi gue. “Aku duluan, ya. Ada janji meeting sama klien bentar lagi,” ujarnya cepat. Halah! Gue ditinggal sendirian ngadepin Hitlerwati ini.

“Siang, Tante Tiya,” ucapku sopan (baca: disopan-sopanin padahal pengen lempar papan).

“Eh, Dani. Udah dateng, tho. Sini, duduk dulu,” senyum manis berbisa King Cobra terpapar di wajah Tante Tiya.

“Yutiiii!!! Bikinin minum buat tamu, yang dingin aja!” teriaknya menggelegar menyuruh ART kesayangan yang mengabdi 20 tahun lamanya. Another desperate person stuck in this hell hole.

“Yah, beginilah rumah Tante. Seadanya aja ya. Kalo kamu mau enak, ya adain sendiri,” ucapnya enteng sambil terkekeh.

Yaelaaah, Tante. Udah bawa Doraemon ini di koper, mau apa tinggal minta kaliii! MiniDani ikutan teriak, sambil ngerogoh kantong ajaib, ngeluarin pistol angin segede gaban.

Waktu pun berjalan lambat. Gue pun masih merapal mantra I Will Survive, yang lama-kelamaan berubah menjadi pertanyaan : Will I Survive?

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day74

Gambar dari sini

Advertisements

2 thoughts on “Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s