Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.6

Mantu-6

Koper besar itu hanya teronggok muram di atas kasur. Tumpukan pakaian udah gue keluarin dari lemari. Entah kenapa, enggan sekali tangan ini bergerak memindahkan mereka ke dalam habitat barunya.

Papah pun berdiri mematung di depan pintu, sementara Rio duduk di meja belajar gue. Keduanya memandangi gue yang terisak-isak di pinggir ranjang. Bingung bagaimana menghadapi seorang wanita muda yang menangis dua jam tanpa henti.

Mata gue udah lebih bengkak dari panda tergendut di Cina sana. Dihantam tinju Mike Tyson pun rasanya nggak separah ini keliatannya di muka Evander Holyfield.

“Kamu nggak perlu lanjutin ini, Dani. Seandainya memang kamu berat. Biar nanti Papah ngomong sama ibunya Aria,” sahut Papah pelan dan hati-hati. “Trus, Dani harus diem aja, Pah? Liat nanti Papah diinjek-injek sama dia? Dimaki-maki, diejek, disindir-sindir?” teriak gue. Papah tertunduk. Ia tahu kepala batu anak perempuannya ini bukan lawannya.

“Biarpun mungkin Papah pernah bikin salah. Bikin Tante Tiya sakit hati. Apa nggak ada maaf tulus buat Papah? Apa dia nggak kasihan, Papah juga kehilangan cinta sejati? Apa dendam itu baru ilang kalo Papah udah nggak ada?” racau gue seakan mengeluarkan semua isi hati yang seharian tadi terpendam.

“Nggak usah Papah yang berkorban harga diri. Mungkin Papah nggak jadi nikah sama Tante Tiya itu adalah keputusan terbaik dalam hidup Papah. Dani nggak kebayang, monster junior macam apa yang Papah hasilkan kalo kawin sama ratu jelmaan Hitler itu!” gue merepet dengan napas memburu.

“Heh, Dani! Itu salah satu monster juniornya, calon suami lo, tauk!” seru Rio kesal.

DAMN!!

Gue langsung terkatup. Diam. Skak mat. Bener juga Rio. Hati gue udah milih buat jadi milik keturunan Tante Tiya. Aria, tak pantas gue panggil monster. Dengan segala perasaan yang udah dia curahkan ke gue selama ini.

MiniDani yang tadinya udah ngeluarin gergaji listrik, sekarang mulai komat-kamit pegang tasbih. Istighfar, Dani! Lo bakal jadi istri, jadi ibu. Ikut-ikutan emosi nggak bakal nyelesaiin masalah. Malah bikin lo makin gila, salah-salah malah jadi bengis macam Genghis Khan, nyakitin orang-orang nggak bersalah.

Papah memeluk gue erat. Diam-diam ia turut meneteskan air mata.

“Dani, jalanin aja semua dengan ikhlas, Nak. Kalaupun Tiya nanti berbuat yang tidak sesuai hati kecilmu atau menyakiti kamu, doakan dia. Biarlah nanti jalan lurus ditunjukkan segera untuknya,” ucap Papah sambil menepuk pundak gue. “Nanti, Tiya juga akan melihat kebaikan dan kelembutan Kinanti, diwariskan kepada anak cantiknya,” lanjut Papah sambil tersenyum.

Nyesss! Hati ini mencelos, tersentuh. Gue kembali menangis. Kali ini, air mata syukur yang jatuh meluncur. Alhamdulillah, gue masih diingatkan untuk tetap berbuat baik.

Rio pun mendekat, menepuk pundak gue. “Lo aja bisa survive ngelewatin anak STM tawuran. Masa ngehadapin satu emak-emak aja ciut?” kelakarnya sambil mengedipkan mata.

Tawa gue berderai seketika. Emang abang gue satu ini, bisa aja ngilangin semua awan mendung. Gue tinju lengan Rio sambil nyengir.

MiniDani mengikatkan sabuk putih di kepala ala samurai. Yak, besok, perjalanan Dani di Negeri Kanjeng Ratu akan dimulai. Saatnya main cantik, demi bertahan hidup!

Koper hitam itu kini tak lagi murung. Semangat membara terlukis di sana. Menemani tuannya yang siap berpetualang di ranah antah berantah. Demi langgengnya cinta yang layak diperjuangkan.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day73

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s