Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.5

Mantu-5

Rumah gue luluh lantak seketika. Tante Tiya nggak perlu waktu lama menunjukkan taringnya. Never screw a heartbroken woman. You just declare a new world war by doing it.

Hening. Senyap. Mau ngomong, takut digibas lagi sama Tante Tiya. Belom jadi manten, udah kelojotan duluan.

Akhirnya, Papah yang angkat suara.

“Maafkan saya, Tiya,” suara parau Papah terdengar begitu tercekat. “Saya begitu menyesal, tapi saya tidak berani juga bertemu kamu. Apalagi, setelah saya dengar, kamu tetap menikah di hari yang kita tentukan bersama. Jadi, saya pikir kamu sudah melanjutkan hidupmu,” lanjut Papah, mencoba menata kata-katanya dengan hati-hati.

Tante Tiya mendengus kesal. Usia telah memberinya kebijaksanaan untuk tidak meledak lebih parah di depan lelaki yang menghancurkan impiannya berpuluh tahun lalu itu.

Ia menghela napas lalu berujar, “Mungkin Tuhan menggariskan saya untuk tidak berjodoh dengan laki-laki tidak setia seperti kamu.” Papah terkejut, namun tidak berkomentar apa-apa. Ia tahu, Tante Tiya berhak bicara begitu, meskipun ia pun sadar, cinta tidak bisa dipaksakan. Hati Papah telah tertambat selamanya untuk Mamah, sejak pertama mereka berjumpa.

Sekilas, gue melirik ke arah Aria. Mukanya mengeras. Entah menahan amarah, atau tak sabar ingin ikut melontarkan sesuatu ke arah kedua orang yang sedang berkubang masa lalu di hadapannya.

Tante Tiya berganti menatap gue. “Kamu sudah tahu hal ini, Dani?” tanyanya. Gue melirik Papah, berpikir keras tentang jawaban yang pas. Gue nggak ingin Papah kembali jadi sasaran Tante Tiya, walaupun sudah pasti tak terhindarkan lagi.

Ternyata, Tante Tiya memahami arti diam gue. “Tenang, Dani. Ini semua  nggak akan membatalkan pernikahan kamu. Tapi, Aria dan kamu harus tahu semuanya. Masa lalu Tante dan Papamu adalah pelajaran penting. Bahwa semakin dekat ke hari H, godaan semakin besar dan apapun dapat terjadi. Kalian harus tetap tenang, kompak, dan selalu pegang kuat komitmen,” nasihat Tante Tiya panjang lebar.

Wow, sebuah reaksi yang nggak gue duga dari Tante Tiya.

Dan..itu belum seberapa.

“Jadi, supaya kalian bisa mengenal keluarga baru kalian masing-masing, Tante ingin Aria dan Dani bertukar tempat,” ucapnya tegas.

WHAT??? MAKSUD LO??

“Mulai minggu depan, Dani tinggal di rumah Aria dan Aria tinggal di sini. Sampai seminggu sebelum hari H. Ini perintah, wajib!” sabda calon mertua gue yang menjelma menjadi tangan besi itu.

Oke, sekarang gue butuh napas buatan. Plus dua gelas es teh manis jumbo. Segelas gue minum. Segelas lagi buat banjur gue kalo pingsan.

Semua orang di ruangan itu refleks mengangguk. Tak ada yang berani membantah karena masih sayang nyawa. Sembilan nyawa kucing pun tak cukup untuk menghadapi Tante Tiya. Semoga ada lapak di Kaskus yang jual nyawa seken demi masa depan gue.

Senyum kemenangan Tante Tiya merekah. “Ah, haus juga ya, minum yang seger kayanya enak. Yuk, nggak sabar mau cicipin masakan Dani,” Tante Tiya beranjak dan mulai mengambil segelas es teh leci lalu menyesapnya.

Tak lama kami mulai menyantap hidangan yang tersaji. Suasana mulai mencair. Papah bersama Tante Tiya sibuk mengatur kepindahan gue dan Aria. Tak terlihat lagi jarak di antara mereka. Aneh, kenapa Papah menerima begitu saja keinginan Tante Tiya? Apakah gue dikorbankan demi hilangnya penyesalan abadi? Apakah Papah tidak sedikit pun cemas akan apa yang nanti Tante Tiya lakukan ke gue? Ah, pikiran Papah terlalu sederhana. Dia pikir Tante Tiya tidak akan tega menyakiti gue atau membuat gue merasakan derita yang sama.

Kerongkongan gue kering. Mulut terasa pahit. Selera makan gue terbang jauh. MiniDani mulai menggali liang kubur.

Genggaman erat tangan Aria lalu memberi sinyal. Gue tatap mata Aria berkaca-kaca. Aria hanya tersenyum. “It’s gonna be alright,” bisik Aria.  Gue tersenyum canggung. Benarkah semua akan baik-baik saja?

I doubt it. I feel a season of drama is drawing near.

Welcome to Twilight Zone. Welcome to the new hell. 

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day72

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s