Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.4

Mantu-4

Gue segera beranjak membukakan pintu. Hufft..hufft..hufft. Napas panjang gue tarik-hembus. Bentar lagi bukaan lima nih, pikir gue. Gejolak tak enak di dalam perut pun gue cuekin. Bismillah.. Gue berucap sambil memasang senyum manis dan menggerakkan tangan di gagang pintu.

“Haiii!!” seru gue kepada Aria dan Tante Tiya yang sudah berdiri di depan gue.

Semerbak parfum aroma bunga mawar menyelinap ke dalam penciuman gue. Aria tampak sumringah dengan kemeja flanel kotak-kotak merah hitam dan jeans kesayangannya. Sedangkan Tante Tiya tetap anggun berwibawa seperti foto Ibu Bupati yang tergantung di kantor kecamatan. Kali ini ia menggunakan gamis hijau pupus dengan kerudung yang serasi. Rupanya meskipun mungkin ia sama galaunya dengan Papah, selera berpakaiannya tidak terpengaruh oleh kegelisahan hatinya.

Gue mencium tangan Tante Tiya penuh hormat dan memeluknya. Bagaimanapun, dialah yang akan mengisi kekosongan Mamah, memenuhi keinginan gue untuk kembali memiliki seorang ibu.

“Ayo, Tante. Papah dan Rio udah nunggu di dalem,” ajak gue sambil menggandeng Tante Tiya masuk ke dalam rumah. Tante Tiya masih tersenyum jaim. Kadang gue berpikir, bagaimana rupa Tante Tiya kalau tertawa lepas, terpingkal-pingkal. Melepaskan segala topeng kewibawaannya. Yah, lepas, bebas, apa adanya. Mungkin ia akan terlihat jauh lebih cantik, batin gue.

Aria mengikuti kami berdua sambil membawa sebuah bungkusan. Rupanya Tante Tiya membawa buah tangan, sekeranjang buah segar yang tampak menggoda selera. Tiba-tiba gue punya ide, untuk menggabungkannya dengan es batu, sirup pisang susu, dan susu kental manis. Hmmm..bayangan sop buah dingin yang menggoda, membuat pikiran gue melayang sejenak, beserta MiniDani yang asyik berenang di dalam mangkok sop buah.

“Ini semua masakan kamu, Dan?” pertanyaan Tante Tiya sontak membawa gue kembali ke alam nyata. Rupanya ia sedang mengelilingi meja makan, seakan menginspeksi apa yang terhidang di atasnya. Nada suaranya tak percaya, mungkin pikirnya gue hanya seorang gadis gembul yang kerjaannya ngabisin kue semprong di meja ruang tamunya. Boro-boro bisa bedain jahe sama lengkuas, deh. Apalagi masak rupa-rupa kaya begitu.

Gue hanya nyengir macem hyena kepergok nyolek anak singa. “Iya, Tante. Coba-coba praktekin resep. Daripada beli terus di luar,” sahut gue agak sombong. Diem-diem gue mulai cemas, cukup nggak ya sisa Entrostop di lemari obat. Tante Tiya sepertinya cukup puas dengan jawaban gue. Haduh, kenapa auranya kaya di ruang sidang sarjana siiih?? Gue mulai merutuk dalam hati.

Aria menghampiri Papah dan Rio yang sedang menyiapkan es teh leci di dapur. Tak lama terdengar tawa-tawa akrab, yang membuat gue bisa merasa sedikit lega. Semoga suasana bisa lebih mencair kalau semua sudah berkumpul.

Sampai akhirnya, ketiganya keluar dari dapur menuju meja makan. Barulah gue harap-harap cemas menunggu reaksi Tante Tiya bertemu kembali dengan Papah.

“Halo, Bu Tiya,” sapa Papah sambil mengulurkan tangan dengan ramah, meskipun gue bisa melihat ada sekilas raut kikuk di wajahnya. “Pak Gilang, apa kabar?” Tante Tiya menjabat tangan Papah dan membalas sapaan dengan gaya resmi.

Haduh, kaya perkenalan calo proyek penggusuran tanah amat iniiii!

“Mari duduk dulu, biar lebih akrab. Anggap saja rumah sendiri,” ajak Papah sambil menarik sebuah kursi untuk Tante Tiya. Gentleman in action!

Mungkin kalau gue nggak tahu ada sejarah antara Papah dan Tante Tiya, gue akan bahagia melihat tindak tanduk Papah yang begitu bersahabat. Namun, curhat Papah semalam, membuat gue melihat jelas usaha Papah untuk menebus dosa.

Tante Tiya tak bergeming. Ia memandang Papah dari ujung rambut hingga kaki. Beberapa kali ia ulangi. Gue dan Rio berpandangan. Firasat kami mulai tidak enak.

Benar saja, begitu Tante Tiya bersabda, kami hampir terjungkal.

“Pak Gilang, kita harus bicara terus terang. Anak-anak perlu tahu,” tukasnya. Pandangannya menajam. “Saya tidak ingin Aria bernasib sama seperti saya dulu. Ditinggalkan tunangannya menjelang hari pernikahan. Anda ingat, kan Pak Gilang? Tindakan Anda kepada saya 32 tahun yang lalu?” ucapnya tanpa tedeng aling-aling.

JELEGER!!!

Resmi sudah bom atom jatuh di ruang makan rumah gue siang itu.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day71

gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s