Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.2

Mantu-2

Akhirnya…

Hari yang melelahkan ini berlalu juga. Resmi sudah gue dan Aria bertunangan. Udah dipanjer buat jadi nyonya, singkatnya. Agustus nanti, barulah kita resmi naik pelaminan.

Lamaran berlangsung lancar dan normal. Setidaknya itu yang dialami semua orang di ruangan itu, kecuali gue, Papah, dan sepertinya Tante Tiya. Sebisa mungkin, kami bersandiwara demi kelangsungan acara.

Senyum bahagia, bicara penuh wibawa, tetap Papah tunjukkan di depan hadirin. Sementara, gue meringis menahan ketatnya korset si musuh bebuyutan dan selop edan yang bikin kaki cenat cenut.

Tante Tiya pun tak kalah hebat. Masih bisa berlaku anggun, cantik rupawan meskipun sudah setengah baya. Dengan mantap, ia mewakili keluarga, memperkenalkan rombongan pelamar satu persatu. Selintas, canda pun ia selipkan, bercerita tentang Aria dan wanita impiannya. Serta ungkapan betapa senangnya ia berkenalan sama gue dan lega Aria tidak memilih cewek centil matre yang hobi selfie sebagai calon istri. Nggak sedikit pun ada tanda-tanda patah hati ketemu mantan tunangan yang mencampakkan dia demi cewek cinta kilat di luar kota.

Memang, selama 1,5 tahun gue dan Aria bersama, baru kali inilah Tante Tiya bertemu muka dengan Papah. Selalu saja ada aral yang membuat mereka tidak bisa bertemu. Sementara, gue dan Aria sudah saling bertemu dengan orang tua masing-masing.

Tante Tiya memang super sibuk. Perusahaan kecil milik almarhum Om Bimo, ayah Aria, memang perlu terus berjalan. Aria sendiri sebagai putra satu-satunya masih setengah hati mengambil alih perusahaan, mengingat kariernya sebagai marketer di sebuah perusahaan consumer goods sedang menanjak. Jadilah, Tante Tiya menjalankan perusahaan sendirian, terkadang dibantu oleh Dian, adik perempuan Aria. Sementara Tria, anak tertua Tante Tiya sudah sejak awal menyatakan tidak berminat terjun ke dunia bisnis.

Semesta memang menyimpan sejuta kejutan. Siapa sangka dalam satu dua hari, terkuak berbagai misteri dengan begitu tiba-tiba?

Papah berjanji akan menceritakan semuanya pada gue dan Rio. Malam ini. Sambil makan kacang dan minum kopi. Duile, ini mau curhat cerita cinta tragis atau nobar Persib sih???

Jam delapan malam, gue dan Rio udah duduk manis di sofa ruang keluarga. Harap harap cemas menunggu Papah. Tak seperti biasanya, Papah menanggalkan sarung kesayangannya. Ia tampak sedikit lebih rapi. Walaupun dari perpaduan kaos kuning dan celana training merahnya, gue bisa nebak seberapa besar kegalauan Papah hari ini.

“Rio, Dani, sudah saatnya kalian mendengarkan ini. Papah belum pernah cerita, dan harusnya Papah cerita dari dulu,” Papah membuka pembicaraan sambil tak henti menghela nafas.

“Mamah bukanlah cinta sejati pertama Papah. Ada wanita lain sebelumnya. Dan Papah meninggalkan dia demi mengejar cinta Mamah. Wanita itu, sudah lebih dari 30 tahun lamanya tidak Papah jumpai. Hingga hari ini, saat Papah akan menjadi besannya,” Papah berujar muram.

“Maksud Papah?” Rio bertanya tidak sabar. “Tante Tiya itu yang dimaksud Papah, Yo,” sahut gue pelan.

“Rahmatiya, wanita yang Papah pikir akan menghadirkan banyak rahmat jika berkeluarga dengannya. Kami sedang menanti untuk menikah, sama seperti Dani saat ini. Kurang 3 bulan sebelum acara, tiba-tiba Papah bertugas ke Yogyakarta. Di sanalah Papah bertemu dengan Kinanti. Ia begitu cantik, lembut, dan jauh dewasa dari usia belianya. Entah apa memang sudah garisnya, Papah pun memutuskan, dengan Kinantilah Papah ingin berumah tangga,” cerita mengalir dari mulut Papah, diselingi seruput kopi hitam kesukaannya.

Kelanjutan cerita Papah bak menonton sinetron stripping, diperankan Dude Herlino dan Alyssa Subandono sebagai Papah dan Mamah. Untuk peran Tante Tiya, rasanya pas dimainkan oleh Nikita Willy, yang dengan drama menangis bombay sampe mata bengkak, tapi dempul riasan tetep nempel perkasa.

Papah mutusin Tante Tiya, setelah Tante Tiya makin curiga, posesif, dan sering bertengkar dengan Papah sepulangnya Papah dari Yogyakarta. Dua bulan penuh dilema, akhirnya Papah berpisah dengan Tante Tiya for good. Papah pindah dari Jakarta ke Yogyakarta dan menikah dengan Mamah. Setelah Rio lahir, mereka pindah ke Bandung, kota kelahiran Papah, hingga kini.

Ah, nggak nyangka. Tante Tiya yang kelihatannya ramah dan perhatian, ternyata menyimpan luka begitu dalam. Sekejap, gue tersadar. Apakah Tante Tiya sudah memafkan Papah? Atau, ia akan melampiaskan dendamnya sama gue?

TIDAAAAKKKKK!!!

MiniDani berteriak ala Kevin Home Alone, pegang kedua pipi tembem bakpau isi kacang ijo.

“Papah harus ketemu Tante Tiya, minta maaf, Pah!” seru gue tiba-tiba. “Dani nggak mau nanti semua berantakan karena konflik asmara perang dunia yang belum selesai,” lanjut gue sambil merengut campur was was.

Mendadak, gue jadi nggak punya bayangan masa depan gue sama Aria. Gelap. Macam pemadaman mendadak PLN di kala hujan angin full petir.

Papah makin mellow tampangnya. Sumpah, kayanya bentar lagi Papah bakal ambil gitar, terus naik meja, bilang “Kalian luar biasa!”, dan nyanyi Cobalah Mengerti. Ariel Noah versi beruban dan buncit konser dadakan.

“Ya, udah, Dani. Lusa kita undang Tiya dan Aria makan siang di sini. Kamu atur semuanya, ya. Papah ikutin aja maunya kamu gimana,” ucap Papah sambil tersenyum kecil. Ah, Papah coba menghibur anaknya yang udah mulai dilanda stres pranikah akut ini.

Gue peluk Papah kenceng. Rio mengelus punggung Papah. Kami berdua tak ingin Papah menanggung beban ini sendirian. “All for one, one for all, Pah,” sahut gue lirih.

Ya, three musketeers selalu bersatu padu. Apapun tantangan yang menghadang di depan. Secercah cahaya muncul di depan mata gue. Mungkin masa depan gue nggak sekelam yang gue takutkan. Whatever happens, I still have these two great men beside me.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day69

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s