Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep. 1

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mata berbalut bulu anti sejuta topan badai banjir bandang itu balik memandang gue. Pantesan gatelnya naujubile. Ini beruang hitam mana yang lagi meraung-raung di hutan sono. Bulunya digundulin demi kemaslahatan setiap cewek yang menghadapi peristiwa maha penting berjudul LAMARAN ini.

Gue melirik ke Teh Iis, penata rias langganan keluarga yang lagi asyik nyiapin kebaya warna perak dan korset yang bikin gue bergidik ngeri. Glek. Semoga dua piring nasi uduk pecel lele semalem nggak nunjukin dosanya di perut gue.

Gue buka laci, sambil ngeluarin bungkusan hasil berburu belanja online plus diskon rampokan poin ponsel Rio, abang gue. Si kulkas dua pintu itu mana ngerti urusan belanja-sampe-mati-asal-diskon-gede-cing yang bikin cewek normal manapun gelap mata.

“Teh, lipstiknya pake yang ini aja, boleh nggak? Ini merek yang lagi hits di TV, lho..” bujuk gue sambil masang muka memelas kucing kecil kelaperan. Teh Iis mengambil lipstik merah dari tangan gue. “Saya nggak bakal keliatan kaya abis makan orok, kok. Suer deh! Semalem Andien saya lihat di TV pake warna itu.” Gue masih berdiplomasi alot, demi spektanya penampilan siang ini.

Teh Iis tersenyum. Sejurus kemudian, lipstik merah klasik itu sudah terpulas manis di bibir gue. Ah, akhirnya, ada satu barang yang gue sukarela pake di acara hari ini. MiniDani (sebutan buat hati kecil gue) pun tertawa puas.

Huahahahaha..hap!

Teh Iis tiba-tiba masukin tisu ke mulut gue. Ya elaaah, dipikirnya gue debus tisu apa yaaak? Ups, ternyata itu triknya buat bikin lipstik terlihat matte. Aih, matek deh! Kenapa nggak masukin arem-arem aja sih?? Senggaknya bikin perut gue nggak orkes melayu dorong gini. Argh argh, ini semua gara-gara si korset siyal pelengkap penderita.

Ngeliat muka gue yang jelas lagi ngedumel dalam hati, Teh Iis pun terkikik menahan tawa. “Tahu nggak? Mamahnya Neng Dani juga begitu setiap didandanin. Kan dulu Mamahnya Teteh yang dandanin pas lamaran dan nikahan. Dibedakin aja bulu kuduknya berdiri. Padahal, begitu selesai, semua orang pangling. Geulis pisan, lah!” cerita Teh Iis sambil mengacungkan jempol ercetei okeh.

Lalu, ekspresinya meredup. “Mamah pasti bahagia lihat Neng dari atas sana. Didoakeun ku Teteh, ya , Geulis. Semoga Neng sama Aa Aria bahagia selalu.”

Adegan drama kaya gini udah beribu, mungkin, berjuta kali gue alamin. Air mata gue udah kekunci lama, entah sejak kapan. Yang pasti, setiap ada yang mengeluarkan penyataan belas kasihan , sambil mengenang almarhum Mamah, gue selalu memasang wajah yang sama. Tersenyum simpul selembut-lembutnya kain dibanjur Molto setangki.

I’m not that pathetic.

Mamah mungkin pergi 20 tahun yang lalu. Saat gue masih terlalu kecil untuk mengerti. Mengapa Mamah nggak bangun lagi dari ranjang berseprei putih itu. Mengapa Papah sekarang tidur sendiri. Mengapa setiap hari selama 100 hari sesudahnya, kami selalu datang ke sebuah gundukan tanah, menangis sambil berdoa dan menabur bunga.

Mamah tiada. Tanpa ada yang bisa mencegah. Tanpa ada yang bisa membawanya kembali.

Tapi hari ini semua akan berubah. Papah akan bertemu dengan sosok yang bakal gue panggil Mamah, setidaknya 6 bulan dari sekarang.

Ya, calon ibu mertua gue.

Jam kini menunjukkan pukul sepuluh pagi. It’s show time, baby!

Segera gue berpakaian, dan dengan langkah tertatih-tatih (Cih! Selop hak 7 senti, I hate you!), gue mulai melangkah keluar kamar didampingi Teh Iis. Rombongan pelamar sudah tiba rupanya.

Aria tampak begitu tampan dengan kemeja batiknya. Berbeda dengan penampilan aku-tak-mandi-demi-menghemat-persediaan-air-nasional yang biasa ia tunjukkan. Tante Tiya, ibu Aria juga tampak memesona dengan kebaya merah marunnya. Serta merta gue teringat pada Jujuk, primadona Srimulat, favorit Papah.

Papah, dimana dia? Gue celingukan mencari sosok berambut putih yang jenaka itu. Ah, tak sabar mendengar Papah menerima tamu agung dengan celetukan bodor khasnya. Gue menghampiri Papah, pria gagah kebanggaan Dan

Tapi…. Sorot mata itu…

Seperti bukan Papah yang gue kenal. Ia tampak terkejut, kaku, seperti melihat kejutan yang tidak mengenakkan hatinya. Jangan-jangan, dia curiga yang ngelamar itu bukan Aria si kucel. Tapi pria sewaan dari situs kencan yang gue klak-klik asal-asalan.

“Tiya?” gumamnya penuh tanya.

“Lho, Papah kenal sama Tante Tiya?” gue menyahut kegirangan. Wah, bakalan cepet akrab, nih! MiniDani bersorak dengan pompom dan goyang patil lele.

“Ni, Tiya itu…yang Papah tinggalin demi Mamahmu dulu. Mantan tunangan Papah,” sahut Papah lirih.

Gue cuma mematung. Berharap bertransformasi jadi Haji Bolot. Nggak denger gumaman Papah barusan.

Saat itu, MiniDani seolah berbisik. “Lo yakin mau nikah sama Aria, Ni?”

Bibir berlipstik merah gue terkatup. Kelu. Sukacita gue ternyata mengorek duka Papah. Pun gue tak tahu, duka itu akan menjadi duka gue juga. Dan kunci air mata itu pun akhirnya terbuka kembali.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day68

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s