Jenaka bukan Dosa: 23-Finally

JBD-23

Pandangan gue mengabur, ada titik-titik air mata mampir di sana. Gue buka pintu dan melesat menuju teras sambil menggenggam surat rahasia tadi. Nggak cuma sepiring siomay yang gue temuin di sana. Si bumbu kacang pun duduk termenung, senyum favorit gue bener-bener nggak nampak di wajahnya.

“Ian?” suara gue keluar susah payah beserta gerak-gerik yang begitu kikuk. Gue coba menatap dia lekat-lekat, membuang semua rasa malu dan harga diri.

Ian tersentak. Dia sama tegang dan bingungnya dengan gue. Raut wajahnya mengungkapkan satu hal pasti : dia sama kurang tidurnya seperti gue. Mata panda, muka kuyu, dan senyum yang hilang. Rasa bersalah gue membuncah kembali ke permukaan. A real awkward moment comes again.

Gue berinisiatif mendekat lebih dahulu. Duduk di dekatnya, mencoba setenang mungkin memulai pembicaraan, meskipun jantung gue berdegup sekencang motornya Komeng. Rambut sasak Ida Kusumah bisa loncat pindah ke bebek-bebek yang nyebrang tuh.

Tangan Ian kemudian menyodorkan sepiring siomay yang dijanjikan. Perlahan gue lahap satu persatu, sambil memutar otak apa yang harus dikatakan pada Ian.

“Seharusnya, gue yang samperin lo buat minta maaf, Yan. I’m the one who blew these all apart,” ujar gue hati-hati. Jangan nangis, jangan nangis, sugesti dan perintah gue ke dalam benak yang mulai mikir yang aneh-aneh.

Selanjutnya, dengan keberanian yang gue timbun sejak lama, gue mulai menumpahkan segala isi hati gue kepada Ian. Mengenai kesan pertama gue, perasaan yang tumbuh dan mekar, kecemasan gue akan masa lalu Ian, hingga harapan-harapan semu yang menghiasi mimpi gue selama ini. I just spilled the beans. Pasrah, itulah keputusan gue menyikapi apa yang baru saja gue lakukan.

Ian masih belum berkata apa-apa. Sepanjang cerita gue tadi, ekspresinya tetap sama, datar. Sedikit kerutan di dahinya, hanya itu yang membuat gue yakin untuk meneruskan cerita karena itu pertanda bahwa Ian mencoba memikirkan semuanya, bukan menganggapnya sebagai angin lalu yang mengganggu.

“Jadi, gue minta maaf banget buat segala kekacauan yang udah bikin lo kepikiran macem-macem. You are a really nice guy. Yet, I took advantage of you, misinterpret all that you’ve done for me. It’s unacceptable in every way,” tukas gue penuh penyesalan.

“Gue terima apapun keputusan yang bakal lo ambil buat gue, Yan. Just don’t hate me. Kalopun lo pengen kita puter balik semua, seakan kita nggak pernah ketemu, it’s fine with me, “ suara gue mulai bergetar, mengucapkan penutup yang mungkin jadi kata-kata terakhir gue buat Ian.

Sepiring siomay udah abis, begitu pula dengan semua uneg-uneg yang mengganjal di hati gue. Be brave, Ria. It’s now or never.

Sempet ada jeda sekitar 2 menit, saat suasana bener-bener diem, nggak ada satu pun suara keluar dari kita berdua. Kegugupan gue udah sampai pada klimaksnya. Sedetik sebelum gue memutuskan buat kabur, akhirnya Ian merespon semua yang udah gue lakukan.

“Ri, just so you know, I am not a saint or Mr. Nice Guy. Banyak hal yang masih gue sembunyiin dari lo. Baru sisi terang gue aja yang selama ini gue tampilin di depan lo. Dan sepertinya lo nggak sadar, kalo selama ini gue sebenernya udah mainin perasaan lo. I am being cruel with you, “ ungkap Ian dengan wajah yang tampak berat mengutarakan semuanya.

“Tadinya gue pengen have fun aja sama lo, Ri. Denger semua cerita lo tentang gimana hubungan lo sama mantan-mantan lo, entah kenapa gue coba buktiin banyak hal. Asli, gue heran banget kok bisa-bisanya lo nyantai dan ketawa-ketawa setelah apa yang cowok-cowok itu lakuin sama lo. Gue ngerasa lo perlu mengerti apa artinya heartbroken seperti apa yang gue alamin sama Mawar. Cinta itu bukan sesuatu yang lucu dan bahan hahahihi, Ri!” seru Ian, membuat hati gue mencelos lagi.

Nafas Ian sedikit memburu setelah kalimat terakhirnya. Wow, gue nggak pernah liat dia seemosional ini.

“Lo nggak salah ngartiin apa yang gue kasih ke lo, kok. Respon lo sesuai seperti apa yang gue mauin. And, yes, I knew the feelings that you kept for me. Di sini masalah itu muncul, Ri. Ternyata, kepolosan lo itu bikin gue nggak sepenuhnya tega ngerusak hati lo. Sesuai nama lo, Ria Jenaka, bikin gue bahagia. Sekeras apapun gue coba menyingkirkan perasaan aneh di perut dan hati gue tiap ketemu lo, at the end of the day I always glad that we met and shared our times together,” lanjut Ian. Muka gue mulai memerah, dengan perasaan campur aduk. Senang, lega, kecewa, kaget, bingung; berlarian bersama di hati gue.

“Gue minta maaf juga sama lo, Ri. Ego dan ambisi gue udah membanting harga diri lo, bikin lo jadi seperti ini. I am officially a jerk, now. Maybe not the same type like your exes. I’m more like Barney Stinson,” ucap Ian sambil menggaruk-garuk kepalanya. Gue mulai tersenyum, memandang Ian makin lekat. Di luar dugaan, Ian terlihat mulai grogi.

“Tentang apa yang lo lakuin malem itu, gue bisa ngerti pada akhirnya. Yah, walaupun lo sempet bikin gue shock dengan serangan mendadak lo itu. Sepertinya lo udah bener-bener terlatih di bagian yang satu itu, “ celetuk Ian, tersenyum malu-malu. Yaaaah, dibahas pulaaa insiden nista ini! Gue menjerit dalam hati, panik tiada tara menghinggapi.

Bottom line, I’ll fess’ up now. Can we start over again? I miss our happy moments, silly talks and your laugh that captivated me, a lot,” pinta Ian sambil menggenggam tangan gue erat. “Jenaka bukan dosa, Ri. Gue sadar itu sekarang. Gue nggak bisa maksa orang untuk ngerasain derita yang sama dengan gue. Justru gue harus belajar dari lo gimana caranya move on dan merelakan semua kejadian buruk yang menimpa kita,” tukas Ian. Ada kesungguhan di matanya saat ia menyampaikan semua kata-kata itu. I think I can trust him and give us another shot.

I do,” sahut gue cepat. “By the way, we’re not Joey and Phoebe, now. Let’s be Marshall and Lily,” ujar gue sambil mengedipkan mata.

Ian tertawa begitu lepas mendengar celetukan gue. “That’s the girl that swept me off my feet,” bisiknya di telinga gue dan sejurus kemudian, memeluk gue dengan eratnya. Boleh nggak ya gue nangis bahagia sekarang? Well, I did that immediately.

Dan gue nggak pernah notice, bau harum yang selama ini menggelitik perut gue bak kupu-kupu bermain di pusar gue, ternyata berasal dari cowok yang sukses merebut hati gue.

“Oya, Ri. In case you were wondering, I didn’t kiss you back because I don’t want to ruin your life even more. Gue takut, kalo gue ikutin nafsu dan suasana saat itu, kita bisa ngelakuin sesuatu yang bakal lebih kita sesalin daripada apa yang kita alamin sekarang. Thank God, I managed to keep my head clear for that particular thing,” jelas Ian membuka jawaban atas misteri yang menggelayut di pikiran gue.

Nice answer. Berarti ucapannya tentang care sama gue, bukan cuma lip service belaka. Ian is not a jerk.

“Sekarang, gue mau bayar utang sekalian,” sambung Ian. Ian mengatupkan kedua kelopak mata gue dengan tangannya. Harap-harap cemas gue menunggu apa yang bakal dia lakukan.

Ternyata, Ian ngasih gue sebuah boneka kucing lucu yang mulutnya lagi monyong. Buat belajar biar nggak salah sasaran dan temen curhat malem-malem, katanya sambil nyengir. To be honest, rasanya sepuluh kali lebih romantis daripada ciuman penuh nafsu gue waktu itu.

Gue nggak bisa menahan air mata. Sambil nangis pelan, gue peluk Ian sambil berkata lirih, “Makasih, Yan. You just made my day, literally.”

Angin sepoi-sepoi menerpa udara sore itu. Gue nggak mikirin apa ini artinya kita resmi jadian atau nggak. Yang pasti, kita sama-sama tahu kalo we both happy if we are together. Kita nggak mau ketemu lagi sama perpisahan dan patah hati.

Well, Will Hunting. I must tell you that  the only feeling of real joy is when you love someone more than you love yourself. Beat that!

-te a em a te-

Makasih udah ngikutin kisah cinta sarat absurdia ini, apalagi yang bela-belain scrolling dari awal hehehe. See you next LOVELY day! 🙂

#ODOPfor99days #day64

Gambar dari sini

Advertisements

2 thoughts on “Jenaka bukan Dosa: 23-Finally

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s