Jenaka bukan Dosa: 22-Love is a Rollercoaster

JBD-22

The only feeling of real loss is when you love someone more than you love yourself.

I catch that phrase from Good Will Hunting. Will surely had a good hunting trip. Sementara hasil hunting gue akan cinta sejati, berakhir tragis. Ibarat mau nembak rusa, malah pelurunya kena kulit badak dan berbalik arah ngelukain gue. What a bummer.

Ditolak sebelum jadian itu rasanya sepuluh kali lipat lebih nggak enak daripada putus dari pacar beneran. Rasanya kaya kalah taruhan main bola di final Piala Dunia, lewat adu penalti yang berdurasi panjang. Nyesek!

Nama gue pun udah lebih tepat diganti jadi Muram Durja, bukan lagi Ria Jenaka. Air mata gue emang udah kering, tapi senyum dan ketawa membahana gue seakan hilang, pindah ke dimensi waktu masa lalu bersama Doraemon dan mesin waktu.

Bisa dibilang, gue yang sekarang adalah robot patah hati. Cuma diprogram buat meratap dalam hati dan memandang nanar sejauh mata bisa bicara. Terminator dengan lirik lagu ST 12, senista itu penampilan gue yang porak poranda, dihempaskan begitu saja dari awan harapan yang sudah membumbung tinggi.

Oke, pada awalnya gue emang menyimpan perasaan gue terhadap Ian sebagai cinta santai-santai aja, alias nggak ngarep berbalas dari Ian. Bisa deket sama Ian juga udah bagus. But then I got greedy. Normal sih sebenernya kalo setiap manusia butuh kepastian. Main catur aja ada menang, kalah, dan remis. I just want to end this game of love.

Jelas banget gue salah perhitungan. Gue nggak cukup pinter buat ngarahin rute perjalanan gue sama Ian. Bisa jadi ge-er, bisa jadi gue terbawa nafsu, atau justru menciptakan dunia indah antara kita berdua yang sebenernya semu. Efeknya, ketika realita menggetok gue dengan kejamnya, I am not myself anymore.

Pekerjaan dan tanggung jawab gue dilaksanain dengan ritme monoton. Bolak-balik gue ditegur editor artikel gue, karena menurutnya artikel gue jadi begitu datar, seperti copy paste dari website hasil bertamu ke Mbah Google. Tak ada letupan semangat yang membuat gue optimis menyongsong hari. My life is now in grayscale mode.

Ian terus-menerus menghubungi gue melalui segala saluran. WA, LINETwitter, Facebook, SMS sampai gue nemu juga ada surat yang dikalungin di leher seekor kucing kampung yang suka nyolong makanan di kos gue. Satu hal yang belum dia lakukan, nyamperin gue face-to-face. Mungkin dia takut gue bakal nyosor dengan penuh nafsu macem Dono Warkop kalo liat cewek bahenol.

Crap. I cannot erase that stupid kiss out of my head.

Melanie tahu betapa hancurnya hati gue. Walaupun gue bisa baca gelagatnya yang ingin bilang sejuta saran dan pencerahan buat gue, satu hal yang sangat gue hargain dari dia adalah Melanie mengerti kalo sekarang bukan saat yang tepat buat buka mulut dan ceramahin gue. Seringkali dia ada di samping gue, just to give me her shoulder or a bear hug, assuring me that I’m not a pathetic person being left behind with a very miserable feeling.

That’s why I need a big dose of sit-com to keep me sane.

How I Met Your Mother semacam jadi teman kedua gue menjalani hari-hari patah hati. Rasanya naik-turun kisah cinta Ted Mosby mirip kaya roller coasterasmara gue. God, I really envy Lily and Marshall. They are goofy couples, yet romantically inseparable. Ngarep lagi deh gue akan ending manis yang seharusnya gue dapet.

However, Ian is not Marshall. He’s more like Sherlock Holmes or Doctor Gregory House. Memikat gue dengan leluconnya dan membuat gue jadi dagelan tahun ini yang bikin dunia terpingkal-pingkal. Semua karena gue nggak bisa ngikutin apa yang sebenernya ada di otak dan hatinya. Mendalami serial Tintin pun, nggak membuat gue jago mengorek perasaan seorang Euforiano Semesta. Should I hire a private eye to do that?

Misterius? Jual mahal? Kejam? Womanizer? Ah, seandainya jawabannya bisa ditentukan oleh pilihan pemirsa lewat SMS premium. Hidup gue akan jadi lebih sederhana.

PET!!!

Tiba-tiba DVD yang gue setel mentok di akhir durasinya. Yah, udah abis stok buat minggu ini. Waktunya gue serbu lagi kamar Melanie buat pinjem film-film romantic comedy, biar afdol khayalan semu gue soal pria idaman.

Baru aja gue memutar mata ke arah pintu, tiba-tiba sebuah benda menarik perhatian gue. Ada secarik kertas disisipkan melalui bagian bawah pintu. Kenangan buruk tentang surat PHK dari Aryo kembali menusuk memori gue. Kampret! Masa gue harus ngalamin hal yang sama lagi sih? I deserve better treatments from guys in this universe!

Dengan emosi, gue buka lipatan kertas itu sambil membaca isinya. Kalimat-kalimat yang selanjutnya terpampang di depan gue bener-bener nggak pernah gue bayangin sekalipun.

***

Maybe I am not the cheese for your macaroni. Tapi gue mau jadi sambel kacang di sepiring siomay lo. Trus kita sama-sama nikmatin di taman sambil menikmati angin sore. Is that okay for you?

PS : Siomaynya ada di teras. Ntar keburu dingin kalo didiemin kelamaan. 🙂

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day63

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s