Jenaka bukan Dosa: 21-Friend Zone No More


JBD-21

Perlahan sebuah pasir hisap muncul di bawah kaki gue. Menelan segala logika dan kesadaran gue. Mengantar gue pada zona kekalutan berbahaya dan menggores seseuatu di dalam rongga dada gue. It hurts.

Sebuah raut cool susah payah gue pasang di muka gue. Nada suara sekuat tenaga gue setting di mode super calm. Menahan semua emosi yang sebenernya berdentum keras, memaksa keluar dari segala penjuru indera tubuh gue. I am the next Hannibal Lecter. Sugesti nyeleneh gue tanemin demi tatapan dingin dan senyum palsu.

Word on that, Mister!” seruku sambil mengangkat gelas berhias sebuah cengiran maksa. Kalo aja digambarin dalam bentuk komik, urat gue udah nongol di jidat dan sebuah pisau nancep dengan sukses di dada gue.

Demi membuang sisa waktu dengan cara yang elegan dan menutupi berjalannya jiwa gue keluar dari badan saking kecewanya, gue coba bertanya mengenai Erika dan kedua calon mempelai nanti. Ian pun dengan senang hati mulai bercerita.

Para Om dan Tante Ian dari pihak Papanya Ian tinggal berdekatan dengan rumah Ian. Nggak heran mereka semua begitu kompak dan dekat sejak kecil. Erika, Ian, Adit, Sarah, dan Nugie (adik Ian) terkenal sebagai 5 Sekawan mengingat eratnya hubungan mereka, bak anak kembar lima yang lahir beda hari. Makanya, saat Sarah sekarang menjadi orang pertama di antara mereka yang melepas masa lajang, bahu-membahu para anggota 5 Sekawan berusaha membuat pesta impian Sarah sebaik-baiknya.

There are no secrets between the Fab Five. Termasuk semua cerita tentang gue udah masuk ke memori mereka semua. I presume every single detail of them.

Sarah akan menikah dengan Odie, yang jatuh nggak jauh-jauh dari hidup Ian. Odie adalah salah satu sahabat dekat Ian sejak SMP dan sudah dianggap anak juga sama Papanya Ian saking seringnya dia nginep tiap weekend di rumah Ian. Maklum, Odie dan Ian sama-sama ditinggal mama mereka sejak kecil, plus Papa Odie, seorang pebisnis workaholic membuat Odie si anak tunggal merasa sangat kesepian di rumah besarnya.

Pembawaan Sarah yang sederhana dan keibuan membuat Odie jatuh hati. “Hidup gue bakal terasa hangat terus seumur hidup, Yan. Sehangat senyumnya Sarah yang nggak pernah lepas dari wajahnya,” tiru Ian dengan gaya Romeo mendayu-dayu. Gue tergelak melihat ekspresi Ian yang bagai pinang dibelah dua dengan akting sendu “jangan-tinggalkan-aku-oh-cinta” ala Ridho Rhoma.

Ah, coba aja roman picisan itu juga terjadi antara gue dan Ian. Begitu isi hati gue menjerit. Ya amplop, sekarang Ria Jenaka udah ganti nama jadi Nikita Willy, melankolis binti miris.

Itu aja yang bisa nyantol di ingatan gue. Selebihnya, semua cerita Ian seakan ngebut selintas di pikiran gue, mirip oplet Si Doel ngejar setoran sepanjang Cinere-Gandul. Boro-boro dah nempel!

Tanpa gue sadari, alam bawah sadar gue ngirimin sinyal. HOAEM.. Gue nguap selebar mulut kuda nil! Dammit! Untung aja, nggak ada piring-piring dan gelas-gelas dari meja-meja di sekitar gue yang kesedot masuk.

“Ngantuk, Ri? Pulang sekarang aja, ya!” sahut Ian dengan tatapan cemas. Mungkin dia mikir, apa ni cewek nggak tidur 3 malem berturut-turut gara-gara jadwal ronda yang padet yak. Ah, potongan gue masih jauh dari satpamwati yang kekar dan berwibawa. Ditowel hansip aja gue bisa pingsan, kok.

Pikiran kalut kembali menghantui gue sepanjang perjalanan pulang. Sampai kapan gue mau berpura-pura seperti ini? Apa nggak ada hal yang bisa gue lakuin buat muter balik semua kejadian ini jadi sesuatu yang lebih menyenangkan?

Mobil Ian berhenti. Ternyata kita udah sampai di depan kos gue. And suddenly I had this weird idea to prove that this bad dream could end, tonight.

“Yan?” panggil gue lirih. Ian menatap gue di tengah keremangan malam. “Menurut lo, apa Joey dan Phoebe bisa punya ending berbeda?” tanya gue menyelidik. “Maksud lo, Ri?” Ian terlihat bingung dengan pertanyaan gue.

I mean, I think I know how to prove are we really Joey and Phoebe,” jawab gue cepat.

The next thing happened so fast. One action that will change my life, later.

Dengan gerakan kilat, gue majuin muka ke depan muka Ian. Then I kissed him, pretty much passionately, for about two or three minutes, or maybe less. I just lost my track of time.

And time is not the only thing that I lost. I missed the real target, too.

GUE MALAH CIUM LENGANNYA IAN SAMPE GUE KENYOT MACEM ES MAMBO!

Begitu gue sadar, betapa tindakan gue barusan hanya berdasar nafsu dan luapan adrenalin yang salah tempat, gue berharap ada yang buka pintu dan bawa gue pergi sejauh-jauhnya dari situ. Atau gue bisa ngilang sekejap mata dan nggak perlu liat ekspresi muka Ian yang di mata gue campur aduk, antara ngeri-kaget-bingung atau entah apa lagi yang ada di sana.

Get. The. Hell. Outta. Here.

5 kata membombardir otak gue untuk memerintahkan segera angkat kaki. It’s time for my run of shame. And my regret embraced me so fast, along with a big stack of guilt.

Phoebe and Joey? Next, maybe we’ll be Tom and Jerry. Itu udah kemungkinan paling bagus kalo gue nggak dikasih julukan Ria Birahi dan ditawarin nyanyi album dangdut koplo.

A silly kiss just stole my perfect future with an amazing guy and (probably) a soul-mate. Well done, Ria.

Yup, I’m done. Period.

 

sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day62

Gambar dari sini

Advertisements

2 thoughts on “Jenaka bukan Dosa: 21-Friend Zone No More

  1. ngakakakkkkk abiz. di bagian Ria nyangka nyium Ian tapi malah ngenyot lengannya. Lanjutkan mbak winda, saya jadi antrian pembaca setia Jenaka bukan Dosa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s