Jenaka bukan Dosa: 20-That Glek Moment

JBD-20

Otak kalut bikin gue rusuh. Dengan langkah berderap menaiki tangga, bubur-buru gue menuju satu pintu dan menggedornya bak polisi menggerebek motel mesum jam-jaman.

MELANIE!!! I NEED YOU, PRONTO!” teriak gue dengan nada putus asa.

Beberapa detik kemudian, sosok Melanie muncul dari balik pintu. Wajahnya bingung, melukiskan pertanyaan jin-mane-yang-nemplok-di-ni-anak. Serta-merta pintu gue menyergap masuk ke dalam, duduk di bantal duduk besar di pojok kamar, sambil mengambil guling dan membentur-benturkannya ke kepala.

I screwed up! Big time!” racauan gue berulang-ulang keluar dari mulut yang sesekali tertutup oleh guling.

Melanie seakan bisa baca pikiran gue. She really knows what I need the most right now. Ia membentangkan tangannya lebar-lebar sambil berucap, “You need a very big hug. Pronto!

Gerakan badan gue menghambur ke pelukan Melanie ternyata tidak sendirian. Bulir-bulir air mata ikut mengalir deras tanpa gue sadarin. Dalam hidup gue, momen yang mewarnai tangisan pilu seperti ini adalah saat gue merasakan kehilangan yang besar. 

Lima menit seakan terbang melintasi dimensi hidup gue. Dengan suara terpatah-patah di sela sedu sedan, gue mencoba mengingat apa yang terjadi sejak dua jam sebelumnya. Satu langkah keliru yang meruntuhkan usaha dan harapan gue selama ini.

Take your time, Ri. I’ll be here until your last word,” kata Melanie lembut sambil tak henti mengusap punggung gue.

Kata demi kata pun meluncur dari bibir gue, menuturkan kisah yang nggak pernah gue sangka bakal terjadi.

***

Have you ever dreamed of us, getting married someday, Ri?”

GLEK!

What the hell? Hari apa sih ini? Jantung gue udah sampe ngos-ngosan dibikin kaget terus-terusan.

Otak gue berpacu keras, mencoba mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang sungguh tak diduga itu. Naluri gue terkesiap dan bersiaga, mencari ke mana arah pertanyaan ini akan berujung.

Akhirnya, gue memutuskan untuk tersenyum manis dan bertanya balik, “Have you?” Jauh di lubuk hati gue, dua kubu berseteru. Harapan gue ingin Ian menjawab “ya” dan rasa takut gue berteriak menuntut Ian menjawab sebaliknya.

Well, I saw us more like Joey and Phoebe, not Chandler and Monica,” tukas Ian tenang lalu menyeruput Hot Espresso-nya.

DUENG!

Ian memakai tokoh-tokoh dari FRIENDS sebagai jawabannya. Oh, no! He chose FRIENDS? So, that’s how he looked at me all this time?

 

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day61

Gambar dari sini

Advertisements

2 thoughts on “Jenaka bukan Dosa: 20-That Glek Moment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s