Jenaka bukan Dosa: 19-Wedding Crusher is Crushed

image

Detik demi detik kemudian berlalu dengan meluncurnya cerita dari mulut Erika. Gue coba menangkap maksudnya secara berurutan, walaupun masih dalam mode kebingungan yang luar biasa.

Ian mulai tertawa lagi. Ian kembali ke sikapnya semula. Hati Ian yang mulai sembuh perlahan. Ian yang begitu bersemangat menceritakan gue kepada keluarganya.

Wait, keluarga Ian tahu tentang gue? Jeez! Ini pertanda lampu sorot bakal nyala sepanjang hari di atas kepala gue di pesta itu nanti.

Di akhir cerita, Erika mengeluarkan pernyataan yang membuat gue ditimpa bom atom, “Ian menyebut lo sebagai cewek yang membuat dia merasa paling beruntung sedunia.”

Great. Keluarganya bisa menganggap gue seperti lotre, togel atau SDSB.

Jadi, di balik semua kejahilan, sikap cool, kejutan-kejutan yang membuat isi hati dan perut gue meletup-letup, ada sisi seorang Euforiano Semesta yang mendambakan kisah romantis di ujung jalan hidupnya. I’m really speechless right now.

Ketukan di pintu kamar dan suara Ian yang terdengar dari depan pintu, menyudahi pertemuan gue dengan Erika hari itu.

My job is done for today. So, I leave you lovebirds to have your quality time now,” ucap Erika sambil cipika cipiki sama gue sebelum masuk ke city carmiliknya. Mobil merah itu pun melaju diiringi lambaian tangan Erika kepada kami berdua. Gue merasa pipi gue panas seperti semangkok bakso yang baru diangkat dari panci di atas kompor. Dammitlove makes me like a fool.

Seakan tak sadar, gue pun ikut begitu saja ketika tangan Ian menggenggam tangan gue dan menggandeng pergi bersamanya. Next thing I know, we were sitting in our favorite couch at Perky Perk.

Gue mencoba mengurangi semua kegugupan dengan menyeruput cepat iced mint tea sambil berdoa dalam hati semoga Ian tidak mengangkat topic pembicaraan yang paling gue takutin. Yup, the next level topic will scare me like hell than those pocong and kuntilanak stories.

Ian mengaduk-ngaduk caramel macchiato menunggu saat yang tepat untuk memulai “pembicaraan maha penting”. Matanya tak lepas melihat gue yang gelisah tingkat tinggi bagai bencong Taman Lawang diinterogasi di Polsek terdekat.

Senyum khas Ian pun mendadak muncul di wajahnya. Oh no, I sense danger. Alarm siaga satu mulai menyala di kepala gue. Biasanya, kalo Ian udah tersenyum seperti itu, sebaris kalimat bakal keluar setelahnya, meluluhlantakkan hati dan pikiran gue.

Have you ever dreamed of us, getting married someday, Ri?”

POW!!

Sukseslah kalimat barusan meninju gue begitu kencangnya. Ian baru saja melangkah sepuluh langkah lebih jauh. And I’m so bloody screwed right now.

Gue membisu, entah apa yang harus terucap untuk menjawab pertanyaan itu. The wedding crasher is just crushed by her crush.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day60

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s