Jenaka bukan Dosa: 18-Getting Dressed Up

image

Attending a wedding is never my cup of tea. Until now.

Seumur hidup gue, definisi pesta pernikahan adalah festival makanan all-you-can-eat dengan dressing up sebagai kode masuknya. Kebanyakan anak cewek mungkin aja punya mimpi-mimpi indah tentang gimana wedding mereka kelak. Baju pengantin yang indah, make-up cantik, pangeran tampan bersanding sebagai pasangan, dan bunga-bunga bertebaran di mana-mana. But not me.

Partisipasi seorang Ria Jenaka di pesta pernikahan sebisa mungkin nggak lebih dari penikmat kuliner hari bahagia.

Udah bagus banget gue mau pake baju bagus berbahan halus yang sebenernya bikin bulu kuduk gue merinding seharian. Muka gatel-gatel sama dempulan foundation, mata kelilipan akut karena maskara, dan bibir monyong berkat lipstik glossy.

Setiap ada kesempatan (atau perintah?) dari keluarga yang mengharuskan gue jadi pager ayu, penerima tamu, bridesmaid or apapun yang mengharuskan gue stand by dengan senyum manis di atas selop berhak tinggi, gue selalu cari seribu satu alasan buat kabur. No way, Jose!

Untungnya, ada satu manusia yang punya pikiran sama kaya gue selama ini. Teddy, sepupu gue yang cuma berjarak 10 hari lebih tua. We are the real wedding crasher.

Teddy yang nemenin gue sapu bersih semua hidangan pesta. Kita berdua sok jadi fashion police, motretin dan ngomentarin para tamu berpenampilan maksa or nyeleneh. Belakangan, kita juga mulai mencari wajah-wajah bening yang akhirnya kita jadiin sasaran foto bareng, dengan dalih ”untuk keperluan dokumentasi keluarga”. Pokoknya, cuih to the max kalo diinget-inget lagi.

Dan sekarang, atas nama hati dan perasaan, panah nyasar Cupid bikin kepala gue muter tujuh puluh tujuh keliling demi menuhin permintaan Ian. Somehow, I feel excited about this wedding. Semacam tantangan yang harus gue selesaikan demi berhasilnya sebuah misi rahasia. Mantap!

Hari ini Ian dateng ke kos gue bareng salah satu sepupunya yang jadi panitia pernikahan. Gadis cantik sebaya gue, yang diperkenalkan Ian sebagai Erika, seorang fashion stylist di sebuah majalah remaja. Erika bertanggung jawab atas segala keperluan fashion di pernikahan ini berkoordinasi dengan juru rias pilihan keluarga.

Gue ajak Erika masuk ke kamar, sementara Ian mengobrol dengan Melanie di ruang tamu. Dengan cekatan, Erika mengepas kebaya, selop, dan aksesoris yang akan gue pakai di acara pernikahan itu.

Walaupun sekuat tenaga gue coba nyembunyiin ketidaksukaan akan serangkaian “kostum” gue buat acara besar itu, ternyata Dewi Fortuna nggak berpihak pada gue. Erika seakan punya indera keenam yang bisa baca pikiran gue, just like IanGosh, I started to think that it runs in their family, mind-readers.

Erika tersenyum simpul melihat ketidaknyamanan gue. “Your first time, huh?” tanyanya sambil mengedipkan mata. Selanjutnya, sepatah jawaban “ya” keluar dari mulut gue beserta tawa kikuk yang mirip seperti cicitan tikus. Oh God, this is so WRONG.

“Tenang aja, Say. Beauty is pain, anyway,” ujar Erika sambil tertawa berderai. “Well, Cinderella.Just take a look in the mirror and see what Fairy Godmother has made for you,” ucap Erika sambil membimbing gue ke arah cermin besar di lemari pakaian.

Amazing! Erika sepertinya Hermione di dunia nyata. Dia bisa menyihir kebaya yang tadinya keliatan kekecilan itu bisa pas melekat di badan gue tanpa menonjolkan dosa-dosa lemak gue yang bertengger di beberapa bagian tubuh. Hogwarts will be real damn proud of you.

Aksesoris yang dia pilihkan pun terkesan simple, namun tidak meninggalkan sisi tradisional Indonesianya. Kain yang dia lilitkan sebagai rok pun tetap bisa membuat gue mudah berjalan. Plus, selop berhak yang gue gunakan, ternyata tidak semengerikan stiletto Melanie yang beberapa hari ini gue coba untuk latihan berjalan anggun.

It’s perfect for my wedding debut.

You’ll be just fine, dear,” kata Erika dengan suara lembutnya. “Ada Ian di samping lo, kok. At least, lo bakal survive di situasi paling buruk yang mungkin terjadi. Dia obat anti garing paling manjur sedunia,” demikian Erika sukses membuat gue tersipu malu seperti kucing ketahuan melirik ikan asin di atas genteng.

Sejurus kemudian, Erika kembali membuat gue muka gue makin memerah. Sebuah pelukan hangat mampir tiba-tiba. Masih dengan muka bego gue yang mencoba menerka maksud di balik pelukan tadi. Erika memegang tangan gue lalu berkata, “I’m glad he met you. I got this feeling that you will be his happy ending.”

WhoaThis is too much! Kenapa suasana jadi melodrama sinetronisme begini, sodara-sodara? Makin melongolah gue seketika.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day59

Gambar dari sini

Advertisements

2 thoughts on “Jenaka bukan Dosa: 18-Getting Dressed Up

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s