Jenaka bukan Dosa: 17-Tantangan Tak Terduga

image

Ri! Mau pesen apa? Kok malah bengong?” sahut Ian membuyarkan pikiran gue yang malah window shopping kemana-mana. “Udah, gue makan apa aja pesenan lo, Yan. Hari ini berhubung gue yang traktir, you can choose whatever you like. Gue kan omnivora, semua juga ditelen,” ujar gue cepat. “Your wish is my command, Sugar Momma!” seru Ian dengan muka berseri-seri seperti anak kecil yang baru dibeliin Anak Mas dan Coklat Jago.

Tidak sampai 10 menit, gue dan Ian sudah mulai menikmati makanan dan minuman kita masing-masing. Ian pun bercerita tentang apa yang terjadi pada hidupnya beberapa hari terakhir ini. Ternyata ada penerbit yang menawarkannya untuk menulis novel komedi dan temen-temenstand up comedy­-nya pun mengajaknya keliling beberapa kota untuk mencari fresh comedian talent sebagai penggerak komunitas komtung alias komedi tunggal di kota-kota tersebut.

“Gue lagi ngebut di jalan tol, nih. Rasanya mulussss!” seru Ian mengungkapkan kegembiraan akan kejutan-kejutan manis di hidupnya saat ini. “Sekalian, Yan. Mampir ke Indah Perkasa, trus elus-elus tegel keramik di sana. Pas mulusnya,” celetuk gue sambil nyebut salah satu toko bangunan di deket kos. “Siaul lo, Ri! Diem-diem jadi sales-nya Koh Ahin buat jualin ubin?” tanggap Ian ke omongan asal gue. Gue cekikikan, nyadar kalo obrolan kita berdua udah ngelantur dari Sabang sampai Merauke. Sarap kronis!

Sambil nikmatin dessert es serut dengan sirup merah, hidangan  khas Jepang di musim panas, topik pembicaraan mendadak jadi serius. “Ri, lo fobia sama kebaya nggak?” tanya Ian dengan tatapan menyelidik. Nah lho, mau disuruh apaan lagi nih gue. “Nggak sih, asal pas kondean kepala gue jangan dikupas aja sama periasnya. Nyasaknya yang manusiawi,” jawab gue mantap. Sempet terlintas di otak gue, jangan-jangan gue mau diajak stand up sambil pake kostum mbok jamu model Juminten-nya Lika Liku Laki-laki gitu. Gokil bener.

Ian pun melanjutkan, “Bulan depan, sepupu gue mau nikah. Gue kebagian jadi pager bagus. Gue sih mau-mau aja, cuma ternyata buat pasangan pager ayu-nya gue harus cari sendiri. Gue kepikiran lo aja yang temenin gue. Gimana? Bisa, Ri?”

ASTAGAULARNAGAPANJANGNYABUKANKEPALANG!

Lengkap sudah fobia next-level gue. Takut ngelangkah “lebih dari temen”, ini malah muncul berpasangan di tempat yang justru bikin kita jadi sorotan, pesta kawinan keluarga. PerfectoI am totally doomed. Siap-siap denger dua kata paling menyebalkan di dunia, “Kapan kawin?”

But, I have no other choice. Gue tersenyum sambil mengiyakan. Padahal ada tetes keringet segede biji duren nangkring di ujung dahi gue, mirip seperti di komik-komik Jepang.

Mendadak, Ian seperti bisa baca kekhawatiran gue. Tangannya yang kokoh, memegang tangan gue, sambil berkata penuh keyakinan, “Lo boleh kok bagi grogi lo ke gue. We’ll find a way to get through that day. Nggak usah peduliin kalo ada keluarga gue yang iseng nanya-nanya. Anggep aja itu pertanda mereka welcome sama lo. Justru gue ajak lo karena lo pasti bisa bikin suasana asyik, seboring apapun acaranya nanti.”

“Lo yakin nggak takut gue bakal ngerebut mike dan mulai ngebor sambil nyanyi lagu Inul di panggung?” tanya gue iseng. “Nggak, Neng. Ntar Abang ikut naik juga jadi Satria Bergitar. Ter-la-lu!” sahut Ian sambil tertawa. “Kalo perlu, kita duet aja, jadi Benyamin S sama Ida Royani. Eh ujan gerimis aje, ikan teri diasinin…” sambung Ian sambil mulai berdendang lucu.

“Oya, Ri. Gue lupa mau kasih lo ini,” Ian menyodorkan sebuah tas kain. Gue merogoh isinya. Ternyata beberapa foto yang diambil saat kita berpetualang jalan-jajan waktu itu. Ian mengeditnya dan menaruhnya di dalam frame berukuran 4R serta 6R. Ada foto gue menikmati permen kapas sambil tertawa, foto Ian main gamewatch di abang tukang mainan dengan muka (sok) serius, dan foto kita berdua bermain ayunan di salah satu sekolah yang kita datengin. Untuk foto yang terakhir, Ian meminta salah satu temannya memotret. Kebetulan kita bertemu di SD itu dimana temen Ian yang bernama Rudi, sedang menjemput keponakannya pulang sekolah.

“Simpen ya, Ri. Biar lo nggak takut  lagi,” ucap Ian sambil mengedipkan mata. Gue tersentak. Apa Ian tahu keparnoan gue sekarang ini? “Takut?” tanya gue hati-hati. “Iya, biar lo nggak takut lagi sama tikus-tikus nakal di kos. Kan sekarang udah ada pengusir yang lebih mantep dari ikan asin beracun,” jawabnya sambil tertawa berderai. Ah, rupanya Ian nggak sadar. Baru aja dia sempet bikin jantung gue berhenti berdetak.

Sejenak, fobia gue mulai terkikis oleh kehangatan dan support Ian. Cinta platonis, cinta diam-diam, cinta bertepuk sebelah tangan, gue mau mulai nggak peduliin dan stop menerka-nerka “masuk ke mana hubungan gue dan Ian saat ini”.

We’re happy together and it’s all that matters.

Oke, besok harus mulai belajar pake high heels. Nggak mungkin gue pake sneakers Converse merah andalan di balik lilitan kain itu. Pelatnas jalan jinjit dibuka besok!

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day58

Gambar dari sini

Advertisements

3 thoughts on “Jenaka bukan Dosa: 17-Tantangan Tak Terduga

  1. Baru selesai baca Jenaka Bukan Dosa dari #1 sampai #17! Tadinya mau dicicil bacanya, tapi ga bisa berhenti. Saya suka banget tulisan Mbak Winda, kocak tapi gak maksa.. habis ini dibikin buku ya mbak romcom yg ini 🙂
    eh iya salam kenal mbaak *sampe lupa*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s