Jenaka bukan Dosa: 16-Next Level Phobic

image

Sejak kejadian republik curcol, apa yang terjadi antara gue dan Ian makin ngalir dengan natural.We both like two open books. Apapun yang kita pikirin dan rasain, gampang banget dishare satu sama lainnya. Gue tahu semua bab dalam hidup Ian.

Dibesarkan dalam lingkungan single parent, sejak Mamanya meninggal dunia setelah melahirkan adik laki-laki Ian yang berbeda 3 tahun di bawahnya. Ian si anak tengah, tumbuh jadi anak yang menggantikan peran Mama. Jago urusan rumah tangga, pembawaan ceria, dan tenang menghadapi setiap konflik yang datang. Papa dan Kak John (kakak Ian yang kini sudah berusia 32 tahun), sejak dulu bekerja keras menopang ekonomi keluarga. Kebayang aja, Ian bercelemek dan menggoyang-goyangkan wajan memasak makan malam keluarga. Meet the Domestic God himself!

Kehadiran Mawar yang nyaris nggak terganti sebagai cewek terdekat dalam hidup Ian, didukung juga sama karakter Ambu, ibu Mawar yang begitu dihormati Ian sebagai pengganti Mamanya. Mawar yang awalnya seperti adik perempuan yang begitu manja, lama kelamaan menguasai isi hati Ian saat mereka beranjak remaja. Hingga satu menit yang lalu, Ian menyinggung Mawar yang sekarang menjalin hubungan dengan Kris, teman SMA Ian yang sekarang menetap di Inggris dan sekampus dengan Mayang, ada rindu terbersit dari nada suaranya.

Tantangan besar buat naklukin satu paket cowok yang ada di sisi seberang cerminan diri gue sendiri. Bayang-bayang mantan bukan seekor kecoa yang bisa ilang dengan satu tepokan maut dari sandal jepit. Membuat Ian melupakan Mawar bakal bikin kepala gue botak seketika dan Shampo Metal pun belom tentu bisa numbuhin balik. Mendorongnya mengikhlaskan Mawar sebagai satu titik di garis kehidupannya, mungkin bisa jadi pilihan yang lebih bijak. Peluang berhasilnya ?

Tak ada hil yang mustahal.

Kata-kata khas dari alm. Timbul, punggawa Srimulat favorit gue sepanjang masa. Sebuah keyakinan yang gue bawa sejak gue bisa pake otak gue dengan bener. Jadi alasan kenapa gue bikin kaos bertuliskan itu, yang sekarang gue pake buat nyemangatin diri hari ini. Yup, today is THE DAY. Tepat sebulan sejak pertemuan gue dan Ian di Perky Park. 30 hari kita masing-masing tahu bahwa Ria Jenaka dan Euforiano Semesta hidup di dimensi yang sama.

Resmi pula minggu lalu, atasan gue jadiin hal yang selama ini gue karang sebagai alasan semu biar bisa ketemu Ian beneran jadi nyata. Now, Ihave my own column. 8 hari setelah pertemuan pertama gue dan Ian, partikel tentang jajanan anak SD masuk ke proses pembuatan. Kita berdua berburu jajanan sambil jalan-jalan dari satu SD ke SD lainnya. Satu hari agendanya makan, makan, dan makan. Lucunya, Ian mutusin nggak bawa mobilnya dan ngajak gue naik sepeda lipet. Jadilah kita dua makhluk berkeringet, kelaperan, pecicilan, pokoknya nggak kalah rusuh sama bocah-bocah nakal berseragam putih-merah. Sebagai penutup, Ian ngajak gue ke salah satu toko milik temen kecilnya yang ternyata ngejual berbagai cemilan jadul, dengan merk-merk favorit gue masa kecil dulu. Referensi jempolan untuk artikel yang dibuat dari hati, tsaaaah!

Hasilnya? Artikel gue mengalir natural bagai anak kecil ceriwis bercerita. Rubrik tambahan yang pada peluncuran uji coba, mendapat sambutan bagus dari clickers. Seminggu sekali gue harus nyetor satu cerita perjalanan kuliner yang dikemas dengan penuh humor, boleh ditemenin sama orang-orang pilihan gue. Syaratnya, pendamping gue itu harus orang yang bisa bikin cerita makin menarik buat diikuti.Finally, I get the chances to explore my creative/wacky ideas.

Siapa yang harus gue kasih ucapan terima kasih? Ya, cowok beruntung yang hari ini gue janjiin bakal gue traktir makan sampai melotot kekenyangan. Dia yang menerbitkan pelangi di langit hidup gue akhir-akhir ini. Hari ini gue pengen tahu, berapa fakta baru lagi tentang Ian yang bisa kasih kejutan di memori gue?

Yan, gue udah di OISHII nih. Where r u?

Gue kirim WA ke Ian secepat kilat. Rakusaurus, dino garang yang hidup di dalem perut gue udah meronta-ronta super liar. Ian pun belum tampak secuil batang pun (nggak cuma batang hidung maksudnya). Sementara, aroma ramen dan udon yang menggoda sibuk bersliweran di depan indera penciuman gue. Tuh kan, bentar lagi gue perlu manggil mobil sedot iler buat ngilangin bukti-bukti ke-mupeng-an gue ke hidangan tamu-tamu di meja sebelah.

TRING!

Ada pesan baru masuk ke WA gue. Kali ini sebuah foto. Gue bertopang dagu sambil melihat mangkok ramen di meja sebelah dengan ekspresi, “Pak, kasian Pak. Dari pagi belum makan.” Diperbuas dengan sebuah judul, “Menunggu : Ternyata Melaparkan”. Pengirimnya sekarang udah berdiri di depan gue sambil nyengir jahil. “Makanya Ri, gendong selalu blek kerupuk. Biar kalo kelaperan pas nunggu, lo bisa sambil kriuk-kriuk. Garingnya ada bentuknya. Bulet, putih, bolong-bolong,” celetuk Ian asal-asalan. Gue bales dengan sama ngaconya, “Sekalian, Yan. Gue bawa juga tali rafia. Bikin balap makan kerupuk, kriuk-kriuk itu asyiknya rame-rame. Pemenang dapet cium mesra plus sapuan kumis baplang dari Pak Kades!”

Haduh. Laper malah bikin kita berdua garingnya diabisin sendiri. Nggak dibagi sama si kerupuk. Sabar ya, puk.

OISHII ini salah satu tempat makan yang lagi hipkarena menu ramen dan udon yang pas dengan lidah orang Indonesia. Belum lagi ada keistimewaan, bisa dibikin pedes sesuka hati. Bukan pake cabe bubuk, tapi ramuan sambal cabe rawit merah yang dimasukin langsung ke kuahnya. Biasanya, kalo gue lagi pusing berat pasti pergi ke sini. Tendangan kuah cabe bisa ngelancarin otak, itu teori ala dokter Puyeng bin Mumet. And it works.

Pengecualian pada hari ini, gue nggak lagi pusing sama masalah. Well, mungkin pusing sama perasaan di hati gue, ya. Semakin gue deket sama Ian, semakin gue kenal sama hal-hal di hidupnya, ada perasaan takut tiba-tiba tumbuh. Takut nggak nemuin Ian yang bahagia di deket gue. Takut ngeliat Ian tiba-tiba mellowlagi kalo main hati salah strategi. Takut kalo di antara semua yang seems too good to be true, satu kejadian bisa mengubahnya 180 derajat.Darn! I become a next-level-phobic.

Kita berdua sebenernya udah jadi diri kita sendiri saat berhadapan satu sama lain. Masalahnya, apa satu bulan itu cukup buat naik ke level selanjutnya? Atau kenyamanan di posisi kita sekarang udah cukup baman? Yah, paling nggak meminimalkan konflik berbau asmara dan resiko patah hati, deh. Man, I should have that risk-counter software like Ben Stiller’s character had onAlong Came Polly movie. Apa perasaan bisa dihitung probabilitasnya bak bursa taruhan William Hill? Voor setengah, menang di atas kertas, empat berbanding satu? Ah, ini seperti memprediksi kapan Indonesia masuk Piala Dunia sepakbola, buram!

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day57

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s