Jenaka bukan Dosa: 15-See You Next Happy Day

image

Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya gue manggut-manggut dan buka suara, “Sori, Yan. Gue nggak bisa komentar dan gue nggak mau komentar juga. Lo udah jalanin pilihan hidup lo setelahnya. Apapun yang bikin lo sedih di belakang, sekarang tetep jadi past tense. Sedeket apapun itu, seberapa seringnya lo kenang itu di hari lo, kita nggak punya Doraemon dan mesin waktunya buat muter semua kembali. PAS to the RAH!”

Begitu gue tutup mulut, sempet kepikiran kok gue jadi ikut-ikutan sadis yah kasih respons. Kesannya nggak ngehargain banget segala kemellowan seorang manusia kocak. Belom lagi gue main pukul rata aja. Yah, masalah gue dan Ian mungkin hampir mirip, tapi belom tentu juga dia hadepin patah hatinya dengan cara yang preman model gue. Untungnya, Ian kembali bikin gue menghela nafas lega.

I know you would say that, Ri. That’s why I want to put all the cards in the table with you. Soalnya gue liat lo mental bandar ceki,” seloroh Ian sambil nyengir. Sebuah cengiran kuda lumping yang bikin gue ikutan tersenyum simpul dan mengangkat bendera semapur (maklum ya, anak pramuka kalo denger simpul pasti ingetnya semapur hehehehe).

“Ya udah, Komandan. Malem ini kita udah cuap-cuap syubidubidu damdam. Lama-lama sampe gue hafal berapa menit sekali lo bakal kedip-kedip karena mata lo udah berat tuh! It’s a wrap, then! Gimana?” gue menyudahi percakapan panjang abis liat jam tangan yang menunjukkan waktu menjelang Subuh.

“Oke, Nona Jenaka. Kita lanjutin jalan ke istana hahahihi lo ya, kayanya lo juga udah ancang-ancang mau meluk guling,” celetuk Ian balik. Kita sama-sama ketawa liat muka kita yang udah menjerit, “I want you, dear Bantal!”

Detik dan menit berlari setelahnya. Setengah jam kemudian gue udah di atas kasur, bersiap menyambut kantuk. Sebuah ucapan selamat tinggal yang tadi dilontarkan Ian di pintu pagar kembali terngiang. “See you next happy day, Ri.”

Yes, indeed. Hari ini emang super hepi. Termasuk saat kita berdua berbagi duka, mendorongnya untuk menjelma menjadi suka.

Entah kenapa, hari ini gue pun sedikit berubah pikiran. Cinta yang gue rasa bergeser sedikit dari porosnya. Sekarang gue cuma pengen berbagi tawa dengan Ian. Greeting our happy day together.

Biarlah nanti purnama yang bicara. Apakah kelinci boleh hinggap di sana dan membangun istananya? Atau biarkan dia menggali lubang di perut Paman Bumi?

Satu kelinci, dua kelinci, tiga kelinci, ….. Zzzzzzzz….

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day56

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s