Jenaka bukan Dosa: 14-Lope Lope Tragisto

image

Seumur hidup, gue pikir kisah cinta paling tragis itu bukan Romeo dan Juliet. Justru derita Slamet, Sanwani, dan Paijo yang gagal menggapai cinta Rita yang tahunya udah tunangan sama cowok masteng (mas-mas tengab) jebolan AKABRI. Padahal Slamet udah sampe beli mobil gigi maju ala Hanoman, Sanwani bolak-balik minjem mobil dari bengkel Babeh, dan Paijo tebar pesona tiap hari. Bener-bener ngenes.com deh! (Yang nggak ngerti silakan mampir ke Glodok or tunggu di TV swasta buat tayangan GENGSI DONG, komedi lejen Warkop DKI).

Sejak beberapa menit yang lalu, Euforiano Semesta dengan sukses menggeser trio naas itu dengan cerita menghanyutkannya. Sebuah kisah yang dituturkan setelah menepikan mobilnya di pinggir sebuah angkringan. Di antara kepulan asap dari poci teh nasgitel, terbukalah rahasia yang tadinya gue pikir saduran dari komik Jepang ala Candy-Candy atau Topeng Kaca, miris aja dengernya.

Sebut saja Mawar, seorang cewek yang dikenal hampir sepanjang hidup Ian. Tanggal lahir yang cuma berbeda 7 hari, tempat tinggal yang cuma beda 7 rumah, tinggi badan yang sekarang selisih 7 cm, menjalin kasih hingga 7 tahun lamanya. Kalo mau percaya kata Mbah Jambrong, angka 7 itu punya kekuatan magis, harusnya bisa jadi keberuntungan buat Ian dan Mawar. Sayangnya, waktu berkata lain.

7 bulan ditinggal Mawar ke Inggris untuk menyelesaikan course yang didapatnya via beasiswa, Ian mendapati cewek yang dicintainya dengan sepenuh hati itu berubah total. Seakan ada implant silikon di dalam hatinya, membuatnya tampak begitu palsu.

“Kita berdua sama-sama suka nulis, Ri. Dari zaman kita SD, tiap hari kita tukeran diary. Kita sama-sama tulis apa yang kita alamin atau rasain hari itu di dalem buku notes biru, warna favorit kita berdua,” kenang Ian tetap dengan puppy eyes­ warna coklat menawannya.

“Begitu kenal blog, Mawar ajak gue bikin blog atas nama kita berdua dan kita ganti diary itu dengan blog. Mawar juga minta gue bikin cerita bersambung tentang cerita cinta kita tiap hari. Ada tags khusus buat itu,” Ian merunut lagi titik-titik dalam garis perjalanannya dengan Mawar.

“Trus? Dimana lo akhirnya sadar ada polisi tidur dalam jalan raya hubungan lo, Yan?” gue jadi ikut-ikut beranalogi dengan perumpamaan yang sangat berbau preman jalanan. Abis nyebut polisi tidur, kayanya gue bakal nyebut polisi cepek sama abang ojek. Solidaritas bersaing di jalanan, bersatu di pangkalan, merdeka!

Ian nggak gubris analogi asal-asalan gue itu. Masih dalam mellow mode ON, Ian berujar panjang,” Dia mulai protes dengan cara gue ngomong di blog. Menurutnya, cerita gue terkesan nggak serius, nggak romantis, nggak gambarin betapa indahnya pacaran dengan temen masa kecil lo sampe udah 7 tahun berjalan. Feelnya nggak dapet. Gitu kata dia pas abis pulang dari Inggris.”

Wuaduh. Gini deh kalo manusia dapet pengetahuan baru. Semua berasa salah, langsung cari detail atau hal kecil buat kita benerin. Berasa banyak hal yang kita punya dalam hidup udah berjalan salah dan ilmu baru itu pintu kita buat totally change. 7 bulan menimba ilmu sastra di kota yang sama kaya Mr. Bean berkeliaran, langsung deh pasang lencana di dada : “I know how to write better than you.”

“Emang tulisan-tulisan lo subversif? Provokatif? Nyebut kata-kata mesum macem Nah Ini Dia?” desak gue penasaran sama rumitnya pikiran Neng Mawar. Mungkin karena sering disebut-sebut di Pos Kota atau Buser, jadi berasa penting kali nih kaya pejabat nerobos jalur busway. Huh!

Ian ketawa pelan, megang pundak kanan gue seakan mencari sesuatu untuk menopang badannya yang mulai lelah dan penat. “Sampe detik ini, gue selalu jadi gue. Jujur nulis apa yang gue rasa dan alamin di hari itu. Nggak kurang, nggak lebih,” ucapnya dengan nada lebih tegas.

Gue mikir sebentar. Mereka-reka kata yang harus gue keluarin sebagai tanggapan. Belum sempet gue ngomong apa-apa, Ian udah lanjut cerita. “ Protes satu, merembet ke protes dua, tiga, empat. Nggak kerasa udah protes yang keseratus lima puluh. Minggu berikutnya udah nambah seratus protes lagi. Interupsi di pembicaraan kita berdua udah ngalahin jumlah aslinya di gedung DPR,” jelas Ian kembali menerangkan awal kandasnya lope-lope tragisto miliknya.

Ending cerita itu pun mudah ditebak. Mawar kembali cari beasiswa ke luar negeri. Menghapus hausnya akan ilmu-ilmu lain, demi membuktikan kalo bersama Ian di Indonesia justru membuat dia nggak berkembang jadi iron lady (bukan sejenis mbok cuci setrika lho ya). Jangan bayangin ada adegan mesra ala AADC di airport. Yang ada malah Ian dikasih tahu tanggal keberangkatan yang salah, nerima e-mail beberapa hari setelahnya, bertuliskan, “I’m already hereWish me luck and I wish you the best of luck also. Without you, I can explore myself betterWithout me, you will have louder happy laugh.”

Mawar unjuk duri. Afgan memang.. alias SADIS. Kalah deh Gerwani dan penyiletan G-30S-PKI.

Hmmm.. Gimana gue harus nanggepin kisah ngenes ini ya?

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day55

Gambar dari nhasco.net

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s