Jenaka bukan Dosa: 13-This is the Real Me

image

Pintu toilet gue dorong dengan penuh keyakinan. Langkah gue diayun tegak, percaya diri setingkat Briptu Norman, dan alunan lagu Chaiya Chaiya mengiringi hembusan angin di rambut gue. Bentar lagi gue muter-muter petak umpet di tiang-tiang pondasi proyek fly over, ketemu sama siluman berefek visual kelas teri, dan naik burung gede yang sayapnya keliatan digerak-gerakin pake tali tambang. Bisa liat tulisan “produksi Gentabuana Pitaloka” di bawah, kan? LE to the BAY!

*DEG*

ArghI saw that amazing eyes again.

Mata coklat Ian bersinar terang hemat energi bertumbukkan dengan mata belo gue, begitu ngeliat gue udah duduk berhadapan dengannya. Cengiran jahilnya nongol lagi sambil berujar, “Udah puas foto-foto miring 45 derajat sama Mas Ben di dalem?”

Crap. Dia liat profile picture baru di WhatsApp gue. Bukti otentik kebersamaan kilat gue sama Tom Crooze barusan. Yak, segitu kurang kerjaannya gue nyempetin cekrak cekrek narsis di dalem.Well, I cannot resist the Crooze-charm-ism. Udik tapi asyik, seakan nempel di jidat gue waktu foto-foto ababil tadi.

Relax. Gue juga nggak nahan liat Mister Item di toilet cowok,” hibur Ian ngeliat air muka gue yang udah pengen ngumpet di dalem panci tukang bubur ayam. Sejurus kemudian, sebuah foto terkirim ke WhatsApp gue. Begitu gue buka, pose kacrut Ian berpadu dengan gaya tengil Jack Black terpampang begitu saja di sana.

Gue ngikik seketika dan sebuah perasaan lega menyelinap di hati gue saat itu juga. He’s nice. “Simpen aja, Ri. Kali aja ntar lo bisa iseng edit lagi pake Photoshop trus lo posting di Kaskus. Ntar gue yang pertamax-in buat lo,” seloroh Ian tiba-tiba, bikin gue kaget karena sadar dia mulai menghilangkan jarak di antara kita.

“Siap, Komandan! Jadwal editnya ngantri ya. Udah dibooking duluan sama foto tikus-tikus sawah yang pengen dipermak pake bedak 7 lapis, biar bisa manggung lipsync di musik pagi tiap hari,” sahut gue asal-asalan.

Ian ketawa dengan suara basnya birama 4/4, sebuah suara yang menyadarkan gue kalo malem ini nggak berakhir bencana dan segala ketakutan akan larinya cowok gara-gara celetukan lenong gue kabur begitu saja tanpa pamit.

“Oya, Ri. Sori banget. Temen-temen komtung gue ternyata lagi jalan ke Bogor. Ada audisi Stand Up Comedy besok di sana. Yang oke, bakal ditampilin di TV. Beberapa temen gue ikutan jadi panitia dan juri. So, it’s just us for tonight,” jelas Ian, memberi penekanan di kalimat terakhirnya. Gue coba menguasai diri dari kegirangan yang amat sangat, ketiban duren setruk ini namanya!

Ian menambahkan, “Dare to open yourself tonight, Miss?” Gue pun nyengir, sambil menjawab mantap, “I thought you’d never ask, Johnny Boy.”

Malem itu, kita ngobrol seenak udel sampe perut dan rahang gue sakit kebanyakan ketawa. Satu pitcher lemon tea nggak kerasa ludes bersama dua piring french fries. Ngobrol ngalor-ngidul tentang macem-macem. Dari kisah-kisah masa kecil kita, segala titik koma dunia humor yang bikin kita tergila-gila, ngebahas film-film komedi favorit, rasanya gue nggak pengen pulang. Tahu-tahu jarum-jarum di jam tangan gue nunjukin waktu 1.30 dini hari. Sepetnya mata gue mencubit dan ngingetin gue kalo gue harus pulang ke kasur empuk tersayang.

Di perjalanan nganterin gue balik ke kos, percakapan kita mendadak berubah tone menjadi lebih serius. Entah siapa yang akan jadi narasumber dan moderator. Yang pasti, pagar kos gue nanti bakal jadi pengingat habisnya durasi tayangan manis malem ini.

Awalnya, Ian melontarkan pertanyaan mengejutkan. “Ri, kenapa lo harus nutupin diri lo yang sebenernya sih? I know you’re not a superhero or cape crusader with latex clothes and dreadful mask,” tanya Ian sambil menyetir cukup pelan menembus malam. “I’m afraid of being funny. Nggak semua orang seneng diajak ketawa, Yan,” ujar gue lirih. Jidat Ian berkerut bingung dan alisnya ikut meliuk. “Maksud lo gimana, Ri?” tanya Ian kembali.

*SIGH*

Tiba juga saatnya gue menceritakan semua kutukan itu. Berurutan gue menuturkan satu per satu pengalaman gue terhadap cinta dan para cowok yang anti humor itu. Herannya, gue bisa begitu tenang menceritakan semuanya. Seakan ada kekuatan yang mendorong dan meyakinkan gue kalo kali ini bisa jadi akhir dari kutukan mengerikan itu.

“Wow,” satu kata tercetus dari mulut Ian. Mungkin dia bingung, melihat ada cewek yang bisa dengan tenang menceritakan kisah-kisah asmara kandas tanpa emosi jiwa dan tangis menderu. “Yah, begitulah sisi gelap hidup gue, Yan. Gelap yang gue tinggalin dengan lari sekenceng-kencengnya ke depan,” sahut gue dengan nada optimis.

Ian tersenyum, kemudian kembali mengejutkan gue dengan pernyataannya. “What does EPIC feel?” tanyanya. Gue bingung, kenapa jadi tes Bahasa Inggris begini tengah malem? “Maksud gue, gimana rasanya seperti di kaos lo itu. Ketemu sama versi cowok dari diri lo sendiri,” jelas Ian, menjatuhkan bom lagi di perut gue.

HEEEEHHH???!!

“Yan, kita bukan kembar yang tertukar kan ya?” suara gue mulai tercekat. Tawa Ian meledak sambil (tanpa diduga) mengelus-elus rambut gue. “Kita punya benang yang sama, Ri. Kelucuan kita nggak bisa bikin orang yang kita sayangin tertawa bahagia,” ucap Ian disertai tatapan menerawang. Ada pilu terselip di sana.

Beberapa kilometer menjelang tempat tinggal gue, Ian pun menumpahkan semuanya. Cerita menggugah yang mengalahkan skenario FTV terbaik sekalipun.

Menyibak sebuah sosok yang nggak gue sangka bersembunyi di balik segala kelakar cerdas dan tawa ceria itu.  Behind the amusing laughter, lies a deep scar that is waiting to be healed with a real smile.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day54

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s