Jenaka bukan Dosa: 10-My Coffee Land

JBD-10

Kopi darat.

Dua kata yang sebenernya udah eksis dari zaman brik-brikan dulu. Saat Ayah dan Bunda saling bermesraan, mengucap Papa Alfa Charlie Alfa Romeo, sarana berkencan di udara. Dari ‘kopi’ pasangan si ‘roger’, berpadu dengan keinginan tatap muka sambil menginjak bumi, lahirlah ‘kopi darat’.

Seumur sejarah dan kiprah gue di dunia maya, bisa dibilang hampir semua cara kopi darat gue berakhir dengan bencana. Antara ketemu buaya darat atau buaya berkarat. Charlie Alfa Uniform Romeo!

Nggak jarang gue manfaatin jasa joki buat acara kopi darat gue sebagai penawar kekecewaan gue, mulai dari temen-temen gue yang gila dan nggak tahu malu sampai bayar Beti alias Bencong Tikungan buat ngusir jauh-jauh cowok gendeng yang terus-terusan ngejar gue karena mimpiin gue seminggu berturut-turut dan menurut wangsit ahli spitirualnya, itu pertanda gue adalah jodoh hidup sematinya.

Berbekal pengalaman pahit jamu dan asem ketek macem itu, semalem gue penuhin otak gue dengan film-filmnya Adam Sandler. Berharap kalo pertemuan gue beberapa menit lagi nggak berakhir mengenaskan. Jujur, gue belum siap masuk jadi headline koran Lampu Merah besok pagi, “Kopi Darat Gagal, Nafas Ria Tersengal, Hilang Pikiran dan Akal, Manjat Tiang Listrik dan Jatuh Cium Aspal.” No way, Bray!

SKJ 92 pun gue praktekin di muka, biar besok nggak ada sesi bengong sapi berjigong atau kembaran sama Aziz Gagap. Ke-ke-ke-napa ta-ta-tadi? Sayang banget, gue nggak punya remote control ala film Click dimana gue bisa pencet pause kalo grogi udah merasuk sampai ke gigi, ngeluarin suara gemeretuk khas anjing herder.

Untuk kesekian kalinya gue melirik ke jam tangan kesayangan bergambar Mr. Smiley kuning cerah. 10 menit lagi menuju jam 8 malem, Perky Park udah mulai dipenuhi para pengunjung setianya. Maklum, sekarang weekend udah manggil-manggil dengan segala keceriaan dan kejutan-kejutannya. Everybody needs the right place for their sweet escape.

Sayangnya, gue nggak pengen escape kemana-mana lagi sekarang. Gue berusaha numpukin berton-ton kenyamanan karena gue udah pesen tempat favorit gue kalo lagi pengen menyendiri or ngobrol asyik sampe berjam-jam. Plus sepoci chamomile tea buat ngurangin kecemasan dan rasa aneh di perut yang pastinya bukan dari sepiring ketoprak yang gue makan sepulang kantor tadi. There’s a giant butterfly flying furiously in my tummy!

Pasangan setia notes merah dan pulpen belang-belang, senjata andalan gue buat kumpulin inspirasi artikel, udah bersanding manis di atas meja. Yup, gue masih inget bener dengan inti dari kopi darat gadungan hari ini.

Atas nama deadline dan dedikasi sebagai penulis berbayar, gue menyamarkan isi hati dan semua rasa penasaran gue akan makhluk Adam menakjubkan ini di balik semak-semak (tentu saja demi keamanan bangsa dan negara asmara, gue udah periksa di balik semak-semak itu nggak ada bencong ngumpet dari Kamtib atau mas-mas angkat sarung  buang hajat).

Satu menit menjelang jam 8 malem, sosok yang gue tunggu itu akhirnya dateng juga.

 

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day51

Gambar dari sini

Advertisements

2 thoughts on “Jenaka bukan Dosa: 10-My Coffee Land

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s