Jenaka bukan Dosa: 4-Mereka Si Pembuang

JBD-4

Sekarang masuk ke bagian yang paling males sebenernya. Mengingat mantan. Hal paling nyebelin buat dilakuin selain bunuhin nyamuk-nyamuk pake raket listrik. Bzzzt!

Di nomer satu, ada Koko. Tetangga baru di belakang rumah, pujaan cewek-cewek kompleks. Kita jadian berkat coklat gede hasil ngorek celengan yang gue diem-diem kasih ke dia pas ulang tahun. Sstt, tanggal ulang tahunnya berhasil gue dapet dari fotokopi kartu keluarga yang dititip Bapaknya buat bikin KTP baru. Yak, penyalahgunaan kedudukan sebagai anak Pak RT dimulai, hehehehehe. Sayang, cinta pertama gue yang waktu itu masih kelas 2 SMP, ternyata cuma seumur jagung.

Tepat sebulan setelahnya, nggak disangka Koko dan temen-temennya dateng ke perayaan 17 Agustus di kompleks. Saat itu gue (lagi-lagi dengan ide gila dari Ayah, si Pak RT dan ketua panitia) ditunjuk jadi salah satu pengisi acara lawak, bareng sama Canda dan beberapa cowok konyol kompleks. Modelnya mirip Srimulat, dengan gue tampil sebagai pembantu centil dan ceplas-ceplos.

Ya ampun, nggak disangka penonton menggila penuh sukacita! Timpukan rokok bak Srimulat aslinya juga kita terima. Sayang aja, nggak ada yang nimpuk pake Wafer Superman, padahal gue udah ngebayangin para juragan warung ngasih itu buat gue.

Di tengah gemuruh tepuk tangan hadirin, sekilas gue lihat wajah Koko yang memerah. Wah, dia malu kayanya pacar tersayang jadi artis dadakan, cihui! Ternyata, kenyataan bicara lain. Di belakang panggung, Koko minta putus.

Dia nggak tahan dicela-cela sama geng-nya, tentang gue yang disebut “titisan badut Ancol”.  Koko takut masa depannya suram bila terus jalan sama gue dan aura cool dia berubah jadi deng-cool (baca: dengkul).

Melongo ngo ngo, gue nampar pipi (dan berhasil membunuh satu nyamuk centil yang mejeng di sana) buat mastiin kalo ini mimpi. Sayangnya, tanda merah di pipi meneriakkan, “Beneran kaleeee!” Kutukan gue pun berlanjut setelahnya.

Selanjutnya, sederet cowok keluar-masuk dari hati gue. Beberapa yang paling nyesek; ada Doni-Andy-Oji, ketiga cowok yang berturut-turut pacaran sama gue, meninggalkan gue sambil mencuri semua joke andalan gue. Ujung-ujungnya, mereka bertiga malah bikin trio komedi bernama Cuco Bo (alias luCUnya COwok BOtak, sesuai plontosnya kepala mereka) dan belakangan malah dapet slot show di sebuah TV swasta. Dasar kadal bintit, muka gepeng, dinosaurus, brontosaurus, CUIH!

Lain lagi sama Irman, cowok yang selalu ketawa lepas kalo denger joke-joke gue, termasuk pas joke­ itu belum selesai gue ceritain. Belakangan, setelah dia mutusin gue lewat kiriman telegram bernyanyi, gue tahu kalo Irman mengidap semacam penyakit jiwa. Sepanjang siang selalu tertawa dan malam full meratap menangis meraung-raung. Gue denger dari temen sekelas yang jadi tetangga sebelah rumahnya, raungan Irman kebanyakan nyebutin gue dan joke-joke gue yang disebutnya “menyiksa batin dan jiwa raga”.

Hah! Pantesan aja dia selalu mau ketemu pas masih ada matahari, dengan alasan dia cepet ngantuk kalo udah denger adzan Maghrib. Tahunya cah gendeng beraksi! Semprul!

Terakhir, Kanjeng Mas Aryo Sumitro. Cowok metromini homoseksual, ehm, maaf, metroseksual, yang merasa dirinya “cowok paling digandrungi di alam semesta”. Sederet gelar pendidikan, termasuk sertifikasi merangkai bunga dan merakit mesin bubut, menggandeng namanya yang puanjang buanget. Cocok dicoblos untuk camat tahun depan.

Gue rasa dia murka berat gara-gara insiden kencan tadi siang. Saat memasuki mall, dia mengomentari dandananku yang cocok jadi bagian “gembel jalanan” sembari dengan angkuhnya menunjukkan jari ke sekelompok pengamen di depan mal.

Apa yang salah dengan kaos Warkop DKI andalan gue? Masih putih bersih, wangi, dan perjuangan 45 untuk mendapatkannya di FJB Kaskus! Limited edition, Gan!

Biasanya, gue nggak pernah ngeladenin semua cemoohan si ningrat satu ini. Tapi, sayang kali ini beda. Dengan cengiran besar, gue balik colek dia, sambil berkata, “Ya udah, kamu juga balik deh ke habitatmu!”

Jari telunjuk gue teracung ke segerombolan cowok yang berpakaian mirip dengannya. Kemeja rapi, dasi, celana kain, dan sepatu pantofel. Cowok-cowok itu kemudian berlari menghampiri kami penuh nafsu. Mata liarnya penuh api semangat, lalu berseru, “Kartu kreditnyaaaa, Mbak? Mas? Bisa cicilan 0% lho! Dapet hadiah langsung boneka cantik buat Mbak-nya juga!”

Muka Kanjeng Mas langsung merah-kuning-ijo, berjalan cepat menjauh dari gue, ninggalin gue di situ yang ngakak nonstop, dan beberapa jam kemudian gantian dia bikin gue melongo oleh surat sakti yang menyelinap di bawah pintu kamar gue.

Misteri terbesar dalam benak gue, mengalahkan rasa ingin tahu gue terhadap isi dompet Tukul Arwana. Teka-teki yang mungkin perlu perjuangan memecahkannya, nggak semudah menyelesaikan TTS di buku kertas koran bergambar cewek seksi. Salah gue di mata semua cowok itu selalu sama : NGGAK LUCU!

Gue pun heran, kenapa semua orang-orang yang gue kenal, tanpa kaitan asmara, malah menyatakan sebaliknya? Beberapa bilang kalo gue komedian berbakat dan malah ada yang nekat ngebawa gue keliling kampung-kampung buat hiburan hajatan.

Apakah cinta melunturkan selera humor gue? Membuat kelakar menjadi sesuatu yang terlarang? Tawa malah akan menerbitkan luka? Ter-la-lu!

Lambat laun, gue mulai kembali ke alam nyata. Mata terbuka perlahan dan wajah Melanie terpampang di sana dengan senyum manis lebar berbalut kawat gigi berwarna biru.

“Gimana? Udah bisa mikir sekarang?” serunya penuh semangat. “Udah, Mel. Jadi, gimana wejangannya, Mbah?” ujarku sambil mengedipkan mata. Melanie tersenyum simpul, ada taktik jenius tergambar di raut wajahnya. “Get ready, my dear bestie. The game plan is ready to be launched. It will change your life, forever!

Nah, lho! Apa lagi kejutan yang dia siapin buat gue?

  

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day45

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s