Jenaka bukan Dosa: 1-Elegi Surat Sakti

JBD-1

Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.

Tertawa? Apa itu yang harus gue lakukan sekarang? Tertawa macam apa yang pantes keluar dari mulut gue? Tawa kegirangan? Tawa getir? Tawa bodoh?

Awan-awan pikiran gue terbang kemana-mana, ngebaca sebaris motto di stiker humor yang bertengger manis di cermin kamar gue. Dengan tatapan nggak percaya, gue pelototin lagi si pelaku yang bikin gue mikir nggak karuan begini. Secarik kertas putih dengan tulisan rapi, keluaran tinta pena mahal.

Kertas itu bukan selembar pengumuman diskon deterjen, gula, sirup, dan kawan-kawan di mini market sebelah kos gue. Atau sabda baru Tante Kos tentang “dilarang membawa teman pria ke dalam kamar”. Ini lebih dahsyat, benar-benar mengguncang dunia dan seisinya. Pengirimnya, orang yang sampai satu jam lalu namanya masih nempel “in a relationship with..” di Facebook gue.

“Kita putus. Aku muak dengan kamu yang sama sekali tidak lucu. Lihat siapa yang tertawa terakhir sekarang.” Tiga kalimat berbaris di kertas sakti ngeledakin serangkaian teori pembenaran diri dan penghibur hati gue yang rasanya mendadak pindah ke perut, terus ke kepala, dan muter-muter di sekitar kaki.

DUARRR!!

Mimpi apa gue semalem, dapet surat PHK dari cowok yang tadi siang masih jalan sama gue?

Terus, kenapa harus dengan cara ini ya bikin semua cerita jadi the end? Kenapa buat mengusir gue dari hidupnya, harus pake cara jaman urdu bin baheula macam begini? Apa kabar sang smart phone super canggih seri paling baru yang dia bangga-banggain dengan sejuta pamer depan gue sepanjang minggu kemarin itu ya? Kan, ada e-mail, Twitter, Facebook, Whatsapp, LINE, atau apa kek yang lebih elit, kalau pun dia nggak mau mutusin gue secara gentleman.

Refleks, gue periksa kalender untuk mastiin kalo sekarang tahun 2016, abad ke-21, era teknologi jungkir balik. Hari gini, surat cinta udah ganti baju jadi foto romantis di Instagrammention mesra di akun Twitter atau sticker unyu di LINE.

Great! Sekarang gue selevel sama pejabat daerah yang korupsi duit tuker guling lahan ratusan hektar, dapet surat maha penting dari KPK. Yang satu namanya Komisi Pemberantasan Korupsi, yang ini Komisi Pemutusan Kekasih.

Alamak jang makdikipe! Senasib bener gue sama Mang Hinhin, supir pribadi Ayah waktu gue SD dulu. Mang Hinhin ditendang dengan manis sama Neng Ningsih, pembantu rumah tangga sebelah rumah, pujaan hatinya. Dengan kekejaman nan elegan, Neng Ningsih “memecat” Mang Hinhin dari hatinya dengan tinta merah, di atas kertas surat wangi motif bunga mawar berduri.

Sukses besar bikin Mang Hinhin ngabisin rokok kretek satu bungkus lebih banyak dari biasanya dan itu terus berlanjut sampai 6 bulan ke depan. Sederet lagu Caca Handika dan Meggy Z. diputar tiap malem dengan volume sekelas konser di lapangan TNI. Hancur hatiku, itu tema mukanya Mang Hinhin kalo sendirian, sambil melamun dan meluk guling. Tragisto bangeto!

Nggak lama setelah surat di tangan, bunyi nat-nit-nut smart phone gue masuk berbarengan. Isinya  beberapa notification dari akun-akun media sosial yang gue ikutin. Intinya satu : gue dihapus dari kehidupannya. Elo, gue, END! Serasa ada teriakan itu di kuping gue, dengan suara dan aksen Sule tentunya.

Ah, perlu melodi yang tepat untuk merayakan hari yang absurd ini. Klik-klik-klik, gue buka daftar lagu di MP3 player.

Bring back, bring back
Oh, bring back my Bonnie to me, to me…

Vokal Kasino Warkop ganti menuhin seantero kamar. Sempurna, lagu patah hati kebangsaan gue. Gue pun ambil sebuah notes kecil di dalam tas. Gue tulis nama si terhukum di sana. Aryo Sumitro jadi anggota baru daftar He’s just not that into you, sederet nama yang nantinya bakal terlarang untuk disebutkan lagi dalam hidup gue.

Hmmm, pas 11 cowok yang udah nyatain “nggak nggak, nggak kuat” buat gue dan selera humor gue. Wah, udah jadi satu tim bola nih …

*SIGH*

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day42

Gambar dari sini

 

Advertisements

One thought on “Jenaka bukan Dosa: 1-Elegi Surat Sakti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s