Antara Ambisi dan Silaturahmi

image

Beberapa hari terakhir, aku belajar banyak dari kawan-kawan pebisnis wanita. Usaha mereka memang belum besar, apalagi menggurita. Tapi, ada hikmah yang bisa kuambil di sana.

Ada 2 teman di grup birth club Oktober 2015. Yang satu menawarkan sereal murah. Yang satu punya bisnis online cemilan. Demi saling memajukan, sereal murah ini akhirnya dititip jual di online shop cemilan tadi dan kita beli di sana melalui aplikasi Shopee. Mengapa di sana? Karena si online shop cemilan sedang ikut promo free ongkos kirim. Selain itu, dengan trik tertentu, kita bisa dapat diskon 20 persen bila belanja minimal Rp. 100.000.

Awalnya mau beli sereal murah saja, aku jadi ikut belanja di online shop cemilan, dan beli dua cemilan yang ternyata enak. Kebetulan banget yaaa..

Apa yang bisa aku pelajari di sini?

Bahwa meskipun kompetisi itu penting, tumbuh bersama dan saling membantu akan membuat usaha kita jauh lebih bermakna.

Laba di atas silaturahmi. Ini yang sering membuatku merasa, maaf, muak. Ada beberapa teman dan kenalan, yang mengembangkan bisnisnya dengan cara-cara yang menurutku, nggak tulus.

Ada teman yang udah lama lost contact, tahu-tahu menanyakan kabar. Senang awalnya, sampai di ujung percakapan, ia menawarkan untuk menjadi downline-nya dalam sebuah skema bisnis MLM. Zonk abis!

Cerita lain, ada juga kawan yang menggunakan wall Facebooknya untuk mengembangkan bisnisnya. Hmmm.. Sebenarnya sih, aku sendiri tidak begitu terganggu karena si kawan belum sampai mengikuti langkah teman dalam cerita sebelumnya. Namun, saat hampir semua postingnya berisi pemasaran terselubung tentang bisnis yang dijalaninya dan interaksinya hanya berkisar teman-teman bisnisnya, adakalanya jadi berpikir, apa nggak lebih baik buat akun lain untuk “jualan” ya? Jadi, status pertemanan kami di dunia maya tidak terganggu dengan kejar setoran dan kejar target tutup poin beliau.

Ngomong-ngomong tentang ketulusan, ini pengalamanku baru-baru ini. Sabtu kemarin, saat mengantar dua jagoan berobat ke DSA, ada seorang wanita yang mengajakku dan suami bercakap-cakap. Awalnya, ia memuji anak-anak kami, terutama si kecil yang lucu. Berlanjut dengan percakapan tentang anak-anak kami. Sampai akhirnya, aku sadar, kok si ibu ini nggak tampak seperti pasien atau pengantar pasien ya. Selidik punya selidik, ia adalah agen asuransi yang sedang open table di ruangan yang sama. Langsung aku beralih fokus untuk menyusui si kecil dan jaga jarak dari si ibu. Sepertinya ia merasa tujuannya memprospekku sudah gagal, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke pos-nya dan bercengkrama dengan rekan-rekannya. Tanpa ada permisi dulu, sapaan penutup, dan sejenisnya.

See? Betapa pandainya kini orang-orang membungkus ambisi pribadi atau komersil dengan senyum dan perhatian yang seakan tulus?

Kembali ke beberapa kawan yang juga berbisnis, namun tetap bisa menjaga silaturahmi. Salut untuk mereka, yang bisa memilah-milah, kapan waktunya menjadi seorang pemasar, kapan saatnya menjadi seorang teman yang tulus.

Dengan bersikap seperti ini, justru image mereka pun terbangun positif. Imbasnya, tanpa pemasaran gila-gilaan di wall pun, kami jadi tertarik untuk menjadi konsumen dengan sukarela. Setelah menjadi pelanggan pun, tanpa dipaksa, mengungkapkan testimonial kepuasan pasti dilakukan.

Saat ini pun, aku sedang mencoba menapak sedikit demi sedikit untuk mengembangkan jiwa wirausaha. Semoga aku masih diberikan akal sehat dan hati nurani, untuk tidak mengorbankan tali silaturahmi demi sepeser dua peser keuntungan.

Hey, promosi tetap bisa dilakukan dengan cara yang asyik dan nggak maksa, kan? 🙂

#ODOPfor99days #day41

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s