Melatih Anak menjadi Penulis

image

Gambar dari sini

Di Pojok Ilmu kali ini aku ingin berbagi tips cara mengajari anak menjadi seorang penulis. Latar belakang akademikku memang bukan dari Pendidikan Bahasa ataupun Sastra. Jadi, apa yang kubagikan di sisi murni hanya dari hasil pengalaman mengajar Bahasa Indonesia untuk kelas 2 dan 3 SD serta menjadi instruktur klub menulis kreatif di sekolah.

Pertama, sebenarnya kita sudah bisa melatih anak menjadi penulis, bahkan sebelum anak itu bisa menguasai kemampuan menulis huruf sekalipun! Lho, kok bisa?

Dasar penting menjadi seorang penulis adalah kekayaan ide dan kemampuan membuat cerita dengan alur yang menarik. A good writer is a good story teller.

Kemampuan ini sudah bisa diasah sejak anak sudah cukup lancar berbicara, sekitar usia 3 tahun. Cara stimulasinya pun tidak rumit. Sebuah kebiasaan sederhana berupa dongeng atau cerita sebelum tidur bisa menjadi sarana mengajar ampuh bagi anak.

Modifikasi bedtime stories session dengan menanyakan pendapat anak tentang cerita atau tokoh-tokohnya, meminta anak membuat lanjutan cerita sendiri, atau meminta anak yang menjadi si pencerita. Kuncinya, berpikirlah terbuka. Apresiasi setiap respon dan ide anak, meskipun kedengarannya konyol atau tidak masuk akal. Tak ada yang punya fantasi hebat menarik selain anak-anak itu sendiri.

Kedua, gunakan gambar sebagai pencetus ide cerita anak. Minta anak untuk bercerita, membentuk alur yang teratur. Sebagai awal, bisa gunakan rumus 5W + 1H. Who (siapa saja tokoh cerita dan sifat tokoh/karakter), When (latar waktu cerita), Where (latar tempat cerita), What (masalah atau konflik dalam cerita), Why (mengapa masalah tersebut terjadi), dan How (bagaimana masalah dapat diselesaikan). Kenalkan dahulu penceritaan dengan alur maju, supaya anak tidak bingung.

Ketiga, saat anak sudah bisa fasih bercerita lisan, perkenalkan anak untuk membuat kerangka cerita secara tertulis. Caranya? Gunakan mind map!

Mind map atau aku sering menyebutnya jejaring ide adalah kumpulan ide-ide yang dibentuk dari kata-kata kunci, disusun dari kata yang bersifat umum menjadi hal yang lebih detil atau spesifik. Formatnya bisa berupa kumpulan kata, atau gambar, seperti ini :

image

Gambar dari sini

image

Gambar dari sini

Mind map dapat digunakan mulai dari menyusun dasar cerita (5W 1H tadi), pembuatan tokoh dan karakterisasinya, sampai alur cerita (perkenalan, konflik, klimaks, penyelesaian).

Satu hal penting, anak lebih mudah mengungkapkan melalui visualisasi, baik gambar maupun konkret. Jadi, selalu gunakan gambar, foto, video, atau barang nyata sebagai alat bantu ajar.

Keempat, perkenalkan anak dengan kata-kata bantu yang menjadi inti cerita. Tunjukkan juga kata-kata lain yang dapat menjadi padanannya atau sinonim kata tersebut. Di sini kita memperkaya perbendaharaan kata (vocabulary) mereka dan membuat pilihan kata menjadi bervariasi sehingga cerita lebih menarik saat dibaca. Kamus baik buku maupun elektronik baiknya disiapkan untuk membantu anak mencari makna kata. Jika perlu, gunakan juga kamus idiom, khususnya bagi anak usia sekolah dasar, yang sudah mulai mempelajari materi bahasa yang lebih kompleks.

Kelima, berikan batas jumlah kata atau kalimat saat anak belajar menulis cerita. Tujuannya, anak berlatih untuk mengatur cerita supaya cukup terjelaskan, namun juga tidak dipanjang-panjangkan. Padat dan menarik, cerita seperti ini yang menggoda minat kita untuk membacanya, bukan?

Setelah anak lancar membuat cerita, barulah kita ajarkan hal-hal teknis, seperti huruf kapital, tanda baca, struktur kalimat, dan aneka tata bahasa lainnya.

Pendekatan yang keliru di banyak sekolah, anak dikritisi berdasarkan hal teknis dan tata bahasa. Akibatnya, mereka terfokus pada benar tidaknya penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan kawan-kawan, tanpa menggali ide dan memperkaya pilihan kata.

Selain itu, seorang penulis akan menjadi semakin baik kemampuannya saat ia rajin membaca berbagai sumber referensi. Semangati anak untuk membudayakan membaca. Satu buku satu hari. Panjang atau pendek, selesai atau tidak selesai, bukan persoalan.

Menjadi seorang penulis andal, perlu proses dan kerja keras, meskipun bukan hal mustahil. Dengan lahirnya banyak penulis cilik dan muda, angin segar kebangkitan sastra Indonesia sudah berhembus sedari kini.

Selamat mencoba!

#ODOPfor99days #day38

Advertisements

15 thoughts on “Melatih Anak menjadi Penulis

  1. boleh kok mbak. Itu moderator sebagian besar juga apa yg ditulis di blog mereka, mereka publish ke TUM. Boleh kok…..Kalo ngikutin thread TUM BLOGGER, ada penjelasan soal bolehnya itu.

  2. Bener ya Mba, rasanya pengen nularin ilmu menulis dari anak2 kecil

    Tfs ya kalo ternyata anak2 kecil bisa diajak pakai mind map. Aku mikirnya kelewat rumit, padahal mind map sederhana dengan gambar2 bisa kita pakai utk menjelaskan ke anak2 🙂

    • Sama-sama Teh Shanty 🙂

      Everybody can write, Teh. Cuma memang karya akhirnya bagus atau nggak, tergantung sama pembiasaan dan seberapa banyak penulis belajar lalu diterapin pembelajarannya.

      Wah, nanti kalau Sasya udah jadi tulisannya, share di blog Teteh ya 🙂

    • Halo, Mbak Zuhriyyah, salam kenal ya 🙂

      Bisa dari awal diterapkan, Mbak. Karena bagian terberat dari menulis itu bukan di teknis, tapi mencari dan mengolah ide. Semakin dini kita stimulasi anak-anak, Inshaa Allah semakin jago mereka di bagian ini.

      Anaknya umur berapa, Mbak? Salam buat Si Kecil ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s