Masa Muda Menulisku

snoopy writing

Kapan pertama kali aku menulis?

Memori pertamaku tentang menulis sebenarnya bukan hal yang menyenangkan. Belajar menulis (dalam arti sebenarnya) adalah salah satu pengalaman kelam masa kecilku. I didn’t like it, not a single bit. Menangis melengking saat (dipaksa) menyelesaikan PR menulis, menolak mengikuti ajaran “cara menulis yang benar”. Sedari kecil, aku hanya ingin melakukan sesuatu dengan cara yang menurutku paling nyaman. Dan…itulah yang terjadi hingga kini.

Lain halnya dengan menulis, dalam konteks menuangkan ide. Aku bingung, kapan pertama kali tertarik untuk melakukannya. Dulu, kegiatan menulis sering disebut sebagai “mengarang” atau “membuat karangan”, walaupun tak terbatas juga dengan aneka karya lainnya seperti puisi atau cerita bergambar alias komik.

Yang pasti, aku selalu menyukai bagian mengarang cerita dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Atau melahap aneka jenis tulisan, fiksi maupun non fiksi, di novel, majalah, atau surat kabar. Bahkan mencuri baca buku harian orang lain #ups

Menulis cerita bagaikan membuat khayalan di otakku tak sekedar menganggur di dalam kepala dan kemudian menguap begitu saja. Seabsurd apapun isinya, puas rasanya bisa membuat khayalan random menjadi sebuah hiburan, setidaknya buat diri sendiri.

Setelah hobi garis miring bakat (?) ini ditemukan oleh salah satu guru, aku pun digembleng untuk menulis demi mengikuti lomba. Kali ini, latihan (paksa) ini nggak membuatku benci. Yah, kecuali untuk bagian “cerita harus ditulis dengan huruf tegak bersambung”. Bikin tangan keriting nggak karuan. Hih!

Memasuki masa remaja, menulis berperan besar menyelamatkan masa sekolah yang sempat kelabu karena dibully kakak kelas. Bergabung dengan majalah sekolah adalah salah satu keputusan terbaik dalam masa ABGku. Bukan karena beberapa anggota redaksinya keren (dulu seleraku terhadap lawan jenis bener-bener kacau). Bukan karena supaya jadi populer. Cuma hanya karena aku senang menulis, ingin satu sekolah bisa baca tulisanku, dan tahu kalau itu aku yang nulis. I just wanna show another side of me.

Teringat, guru Bahasa Indonesia, bernama Pak Ukim. Beliau sudah mengenalku sejak bergabung di klub teater waktu kelas 1. Sejak awal, beliau senang memberiku tantangan. Di pementasan teater, diberikannya aku peran sebagai Bos Setan Penunggu Pohon, yang wajib bersuara keras menggelegar sepanjang acara. Di kelas 2, saat aku memutuskan berhenti dari klub, beliau menantang keberanianku untuk masuk ke majalah sekolah. Setelah ia membaca tulisanku, sebuah cerita konyol tentang agen rahasia culun bernama James Babon yang kutulis sebagai tugas Bahasa Indonesia. He was the first person who truly acknowledged and recognized my writing.

Setelah melalui pelatihan yang di ujungnya ternyata juga proses seleksi, aku berhasil bergabung dengan majalah sekolah. Coba tebak, rubrik apa yang kupegang?

Kumpulan anekdot dan cerita lucu. HAHAHA #sontrekwarkopmengalun

Nggak yakin juga sih ada yang ketawa baca joke-joke kodian itu. Apalagi stand up comedy dulu belum tren, nggak bakal deh jadi bahan bit #cuih #ngareplotong

Menjelang berakhirnya masa kerja, akhirnya aku bisa menulis di rubrik gahul, macam Musik. Walaupun….tetep aja label JAYUS udah terlanjur nemplok. HAHAHA lagi #sontreksrimulatmengalun

Masuk ke SMA, masih di sekolah yang sama, hobi menulisku masih ada. Sekarang, aku mulai memberanikan diri menulis dalam Bahasa Inggris. Walaupun masih acakadul, aku berterima kasih kepada Pak (lupa namanya) guru Bahasa Inggris yang setiap Jumat mengajak kami nonton VCD bersama (maap anak 90s nih jon) dan membuat reviewnya sebagai PR, bahkan akhirnya keluar jadi soal ulangan. I wrote about Rush Hour that time.Saking ngelotoknya hafal tiap scene dan joke ancur Chris Tucker.

Termasuk ada satu guru Bahasa Indonesia yang ngotot banget menjadikan eikeh student favorito. Akhirnya sampe disuruh nonton Putu Wijaya manggung, sambil planga plongo nggak ngerti maksud pementasannya, semacam monolog. Balik-balik udah ditodong tulisan reviewnya, yang aku tulis ngarang sotoy, ala ala review di Kompas. Tahu-tahu dikirim ikut lomba, menang duit 500 rebu dan piala! Blessing in disguise ceritanya.

Sejak itu, aku mulai berpikir, suatu saat, entah kapan, menulis ini bakal membuka jalan, banyak pintu, membawaku kepada dunia baru yang menyenangkan, bertemu orang-orang keren, dan jadi pengalaman tak bernilai.

Sedikit pun aku tahu, menulis ternyata juga jadi penyelamatku. Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini yaaa šŸ™‚

Sampai sekarang, aku nggak pernah nyebutin menulis sebagai hobi. Karena…. bagiku menulis lebih dari sekedar kegemaran. Menulis adalah bagian hidup. Tanpanya, aku bukan aku yang sekarang ini.

Writing is part of my fate, a big chapter in my life. A chapter that I will not end, until my time comes.

#ODOPfor99days #day37

pic : pinterest.com

Advertisements

3 thoughts on “Masa Muda Menulisku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s