I was Wrong

Best friend can never be lovers. It never works, like putting coffee in a wine glass.

image

Filosofi seorang gadis yang begitu apatis akan persahabatan yang naik tingkat. Begitu kerasnya gue berusaha membuktikan bahwa dua gender yang berbeda bisa menjalin hubungan pertemanan yang begitu dekat dan chemistry yang begitu dalam, tanpa diganggu oleh percikan bernama asmara.

Sebuah prinsip yang coba gue jalanin sepanjang seperempat abad hidup di dunia. Target percobaan dan pembuktian gue : Rendi, sahabat yang tinggal di samping rumah, berulang tahun tiga bulan lebih cepat dari gue. Semenjak berebut boneka beruang bersama saat kami sama-sama berbalut popok, gue langsung tahu dialah belahan jiwa, saudara sehati yang tidak sedarah, dan kami tak terpisahkan sejak detik itu berlalu.

Hanya saja rupanya semesta punya rencana berbeda.

Satu ketika gue harus menyadari bahwa ada perasaan berbeda terselip jauh di dasar hati gue. Yang sialnya, baru gue sadarin setelah gue melakukan kesalahan terbesar : menolak cinta tulus dari sahabat terbaik yang gue punya sepanjang hayat.

Berawal dari suatu kebiasaan yang gue dan Rendi biasa lakukan, duduk di atap rumah gue, sambil bercerita tentang apa saja yang terlintas di kepala. Malam itu, kami berbincang tentang jodoh. 

“Jodoh itu pasti misteri besar yang Tuhan ciptain buat manusia. Supaya sekali waktu manusia menyingkirkan dulu kerja otak dang ngasih kesempatan lebih buat hati beraksi.” Begitulah teori Rendi, disampaikan dengan tatapan menerawang langit.

“Wah, gue justru beda, Ndi. nyari jodoh itu urusannya sama itung-itungan probabilitas. Kalo lo pengen ketemu jodoh secepatnya, lo harus bikin supaya probabilitasnya gede. Bergaul dengan orang yang sesuai sama tipe lo, nyiapin diri lo sebaik-baiknya supaya lo selalu siap tempur kapan pun, siapa tahu jodoh lo adalah orang yang bersenggolan sama lo hari itu di lift,” cerocos gue nggak mau kalah.

Rendi tersenyum simpul, menatap gue sebentar, lalu kembali menerawang.

“Menurut lo, berapa besar probabilitas gue bisa ketemu jodoh gue minggu ini?” tanya Rendi tiba-tiba. “Kantor gue bakal ngadain pesta tahunan, apa jodoh gue bakal ada di sana?”

“Yah, probabilitas itu terbentuk dari usaha-usaha lo juga, Ndi. Semakin gede usaha dan dibantu keyakinan lo bahwa usaha lo bakal ngehasilin sesuatu, lo nggak akan pulang dengan tangan kosong,” jawab gue mantap.

Rendi tergelak. “Lo emang luar biasa, Fira. Mungkin satu-satunya cewek yang pernah gue kenal, yang bener-bener manfaatin otak lo semaksimal mungkin. Nggak diganggu emosi dan perasaan. Belajar dari Terminator ya, nggak main hati?” 

Muka gue bersemu. Ah, pujian yang sama lagi. Gue tinju lengan Rendi dan kami pun tertawa bersama.

“Fir, temenin gue dateng ke pesta ya. Be my Obi wan Kenobi. This love Jedi desperately needs guidance!” pinta Rendi. 

“Beres, Ndi. Asal jangan lupa, kalo konsumsinya mengecewakan, gue turun ke lobby ya. Cari cheeseburger jumbo daripada kelaperan trus masuk angin gara-gara nggak makan,” ucapku sekenanya.

Dan…. akhir pekan akhirnya datang, membawa kejutan yang gue nggak pernah sangka.

Pertama, hampir semua orang di pesta itu mengira kalau gue dan Rendi adalah pasangan. Entah berapa kali Rendi harus menjelaskan, bahwa gue bukan pacarnya. Gue sendiri cuma tersemyum simpul, pura-pura nggak denger, sambil mengunyah makanan atau meneguk minuman ringan yang tersedia.

Kedua, gadis yang ternyata sudah ditaksir Rendi sejak lama, malah menghilang dari acara. Gue sempat melihat si cantik berambut indah dan panjang bak model papan atas itu beranjak ke lift dan menuju lantai atas. Gue beritahu Rendi yang tampak kebingungan, sontak ia menyusul gadis itu sesuai arah yang gue bilang. Satu jam berlalu dan Rendi masih belum terlihat batang hidungnya. BBM gue terkirim, terbaca, namun tak dibalasnya. 

Dengan langkah pasti, gue susul Rendi ke atas. Sepertinya ada yang tidak beres, begitu naluri gue berkata. Perut gue ikut-ikutan menambah efek dramatis, mules dengan suasana yang aneh. Setelah mencari di beberapa lantai, tibalah gue di lantai teratas, rooftop gedung.

Gue memicingkan mata, mencoba mencari Rendi dengan cahaya yang tidak terlalu terang. Hingga akhirnya mata gue menangkap sosok bayangan yang gue kenal, sedang berjongkok di balik dinding.

“Rendi? Ngapain lo di sini? Udah sejam lebih gue cari lo kemana-mana. Ketemu sama pujaan hati lo?”tanya gue cemas.

Rendi hanya diam dan diam. Pandangannya kosong. Gerakan yang ia buat selanjutnya, hanya mengarahkan telunjuknya ke sebuah arah. Arah yang menunjukkan kemana gadis itu berada. Tempat ia bermesraan dengan seorang laki-laki yang sebelumnya gue lihat sebagai salah satu teman kerja Rendi. Mereka berpelukan, berciuman, dan apa gue lihat selanjutnya membuat gue bangkit untuk menyeret Rendi dari neraka yang sebenarnya tidak ingin ia hadapi malam itu.

Di dalam lift menuju lobby, Rendi bak seorang mayat hidup. Jiwanya melayang entah ke mana. Gue genggam tangan Rendi dan mengelus punggungnya. Gue nggak ingin banyak berkata apa-apa, semoga sentuhan gue bisa membawa pesan yang gue ingin Rendi tahu, bahwa gue ada di sampingnya dan bakal nemenin dia melalui kepedihan ini bersama-sama.

Perlahan tubuh Rendi menghangat. Beberapa detik berikutnya berlalu dengan sebuah kejutan. Kehangatan Rendi menjalar ke tubuh gue juga. Rendi memeluk erat badan gue, sampai rasanya gue susah banget bernafas. Ditambah sebuah kecupan yang ia berikan ke kening gue, akhirnya membuat gue bener-bener nggak bisa nafas.

“Bener kata lo, Fira. Jodoh gue sepertinya orang yang hari ini barengan sama gue di lift. Nggak cuma nemenin gue naik dan turun di gedung ini, tapi dia nemenin gue di semua naik-turunnya kehidupan gue,” ujar Rendi lirih.

Antara prinsip dan perasaan, otak dan hati gue berkecamuk dalam perang hebat. Sang logika jadi juara, gue dorong Rendi menjauh. Hanya saja gue udah nggak sanggup bicara apapun buat membalas perkataannya. Cuma air mata yang nggak gue sadarin meleleh terus tanpa henti.

Begitu pintu lift terbuka, gue langsung berlari dan memasuki taksi pertama yang berhenti di depan mata. Gue tinggalin Rendi dalam duka berganda yang nestapa, patah hati dua kali di malam yang sama.

Tak henti-hentinya gue merutuki apa yang gue lakukan tadi. Namun di balik segala rasa penyesalan, ego gue terus berteriak lantang bahwa apa yang Rendi katakan tadi adalah bentuk kelabilan seseorang yang patah hati, bukan perasaan tulus yang disimpannya sejak lama.

Bodohnya, gue selalu percaya sama ego gue. Satu-satunya sahabat karib logika gue yang selalu gue agung-agungkan.

Sejak itu, gue benar-benar mengambil jarak sejauh-jauhnya dari Rendi. Gue kos di dekat kantor, hanya sesekali pulang ke rumah di akhir pekan. Itupun di waktu larut malam, setelah gue habisin waktu sama temen-temen gue lainnya. Intinya, gue coba menghapus keberadaan Rendi di hidup gue. 

Semua bentuk komunikasi yang coba Rendi bangun, gue mentahkan begitu saja. Sampai gue bikin autotext “Please leave me alone” di smartphone gue, demi memudahkan gue membalas BBM, SMS, dan e-mail Rendi. Mungkin akhirnya Rendi tersadar dan ia pun benar-benar berlalu dari hidup gue. 

Waktu berlalu begitu cepatnya, hingga di hari ulang tahun gue yang ke-25 tiba, tepat 2 tahun 5 bulan 10 hari gue memutuskan persahabatan gue dengan Rendi. Seharusnya hari ini gue merayakan dengan keluarga dan teman-teman terdekat gue, tapi gue malah memutuskan hal berbeda. Pergi menyendiri, berkelana ke Bandung, menjauh dari segala hal yang harusnya gue rengkuh erat. 

Gue ingin satu waktu yang benar-benar personal. Gue perlu menata lagi hati gue yang tercerai-berai, perasaan gue yang carut marut, harapan gue yang berserakan. Semua terjadi saat dua hari yang lalu, sebuah amplop coklat datang ke meja kerja gue di kantor. Isinya…. undangan lamaran pernikahan Rendi dengan seorang wanita yang namanya asing sekali buat gue.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian malam itu, air mata gue kembali meleleh tanpa henti. Gue nggak bisa bohong dan lari lagi, selama ini Rendi sudah mengisi hati gue sepenuhnya. Cuma Rendi yang gue ingin selalu ada di samping gue, menemani sisa hidup gue hingga tua nanti.

Did I tell you how much I miss
Your sweet kiss?
Did I tell you I didn’t cry?
Well I lied
I lie lie lied

“Hello, Ndi. Congratulations for your engagement ya,” ucap gue dengan senyum yang susah payah coba gue pasang semanis mungkin. Rendi tampak begitu terkejut dengan kehadiran gue di acara pertunangannya. Gue tangkap betapa dia berusaha menyembunyikan kekikukannya menghadapi gue. Gue berlalu begitu saja, tak ingin menambah pikiran di benaknya. Hari ini adalah hari istimewa untuk Rendi dan pasangannya, bukan gue yang bersanding di sana. Tuhan sudah memilihkan jodoh terbaik untuk Rendi untuk dinikahinya.

Did I tell you how much I miss
Your smile?
Did I tell you I was okay?
Well no way
No way way way

Tujuh bulan berlalu, gue pun datang ke acara pernikahan Rendi dan gue nggak sendiri. Alan menemani gue datang, selain menemani hari-hari gue sejak sebulan lalu. Ada ekspresi lega di wajah Rendi saat menyaksikan guedan Alan naik ke pelaminan lalu berfoto dengan Rendi dan Santi, yang sekarang resmi menjadi Ny. Rendi. Mungkin Rendi berpikir bahwa gue udah menemukan formula tepat untuk meraih probabilitas besar yang gue inginkan untuk bertemu jodoh. 

“Treasure your love, Rendi. This is a precious shot in a lifetime,” pesan gue kepadanya. Rendi memeluk gue erat, namun gue tahu pelukan kali ini punya arti berbeda dari pelukan di dalam lift malam itu. Rendi kembali menjadi sahabat gue, sekedar sahabat belaka.

Sembari berlalu, Alan menggenggam erat tangan gue begitu mesranya. Hangat dan menyenangkan. Yet, I still realized that I made an awful mistake of my life. I let my soul mate go away. Dear love philosophy, I was wrong about you all along.

Did I tell you you’re wonderful?
I miss you yes I do
Did I tell you that I was wrong?
I was wrong

#nowplaying Wonderful-Adam Ant 

#ODOPfor99days #day33

pic : quotesgram.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s