Last/Sweetest Escape

image

“Dilla?”

“Rendra?”

Dua pasang mata kami bertemu. Terbelalak. Terkejut. Semua di luar rencana. Lidah kelu sulit berkata-kata.

Di sini, Bali, orang yang kucoba simpan di dalam peti kenangan berlapis baja, tiba-tiba menyeruak hadir begitu saja. Di saat dua pekan mendatang aku akan menikah dengan pria pilihanku, pria yang setia berjuang membahagiakanku dan dulu bersusah payah mengobati luka hati yang ditinggalkan oleh makhluk di hadapanku ini. Makhluk yang tidak sedikit pun berkurang pesonanya. 

“Lo sama siapa, La? Lagi liburan? Lama banget ya kita nggak ketemu.”

“Gue sendirian aja, Ndra. Refreshing before the big day comes. Lo ngapain di sini? Nggak kerja?”

“Gue ngabisin cuti besar nih, lumayan dapet sebulan libur. Bosen sama rutinitas, seru juga kayanya berpetualang sendirian. Big day? Are you getting married? Who’s the lucky guy?”

Nah lho… Dilema. Apa aku harus menceritakan pada Rendra, bahwa pria istimewa itu adalah teman kecilnya, Arya. Seseorang yang cukup akrab di hidupnya, yang demi kedamaian hubungan kami, terpaksa menjauh dari kehidupan Rendra.

Sampai kemudian kulihat cincin itu di jari manis Rendra. Topik bagus untuk mengalihkan pertanyaan dilematis tadi.

“Wah, kayanya lo juga bentar lagi nyusul nih. Nggak ngajak tunangan lo ikut liburan juga?”

Sebuah wajah yang terlihat kikuk berusaha menjawab pertanyaan tiba-tibaku.

“Ummm.. Riska masih sibuk sama persiapan di Jakarta. Belum lagi jadwal kerjanya juga padat, gue nggak pengen bikin dia tambah stres.”

Riska? Oh, masih dia ternyata. Wanita karier modis masa kini yang selalu sibuk dengan smart phone terbaru dan make-up ratusan ribu kebanggaannya. Orang yang membuat Rendra berpaling dari seorang gadis sederhana yang menggantungkan diri pada mimpi menjadi seorang novelis.

“Kalo lo ada waktu, nanti dateng ya ke acara gue. Kasih gue e-mail lo yang paling aktif, biar gue kirim undangannya ke sana.”

Sebuah undangan berbau basa-basi-nggak-enak-hati mampir di sela percakapan kami. Kutebak, Rendra sendiri berharap aku mengundangnya untuk menyaksikan aku bersanding di pelaminan dengan pria yang sudah menggeser kedudukannya di dalam hatiku.

Kucoba mencairkan suasana yang kaku dan lama kelamaan bisa mencekik pernafasanku. Padahal angin sepoi-sepoi pantai Kuta begitu membelai lembut, menggoda untuk dinikmati sambil menanti datangnya sunset yang indah.

Kuajak Rendra berjalan menyusuri pantai, sambil bercerita tentang kegiatan kami masing-masing saat ini. Sampai akhirnya, langkah-langkah kami terhenti di sebuah tempat yang menjadi the best seat to watch the sunset.  

Duduk santai sembari memainkan pasir dengan jari-jari, perlahan kami pun bisa jujur satu sama lain.

“La, sebenernya gue ke sini buat nenangin diri. Gue merasa antara yakin dan nggak yakin untuk nikah sama Riska. Apa dia pilihan yang tepat buat ngabisin semua sisa hidup gue? Semakin deket ke harinya, semakin banyak persiapannya, malah kita jadi semakin jauh.”

DEG!!! Kenapa bisa sama ya?

“Ndra, jangan kaget ya. Sebelum gue ke Bali, gue berantem gede sama calon suami gue. Ada perbedaan pandangan tentang bagaimana kita jalanin hidup setelah nikah nantinya. Somehow, gue ngerasa jadi nggak punya kendali atas hidup gue sendiri. apakah nikah jadi akhir hidup gue yang penuh warna, ya?”

Curahan hati satu berlanjut ke curahan hati berikutnya. Tanpa sadar, kami membuka semua masalah yang sedang kami hadapi dengan pasangan kami masing-masing. Termasuk segala ketakutan yang menghantui. Hingga pada akhirnya, kami mulai mengenang saat-saat indah dahulu, kala hati kami masih bertaut.

Entah siapa yang memulai, atau suasana menjelang sunset yang memang romantis, bibir kami saling bertemu dan berpagut. Satu menit, dua menit, waktu seakan tak terdeteksi. Kala kesadaran kami kembali, ada kupu-kupu yang berkejaran di atas perutku. Mungkin ada sengatan listrik menjalar di sekujur tubuh Rendra, mengingat ekspresinya yang melukiskan keterkejutan campur kebahagiaan.

Salah atau benar yang kami lakukan ini, sepertinya kejadian barusan benar-benar sesuai dengan situasi yang terbangun.

Denganmu, bersatu
Melupa suram
Dan nasibku, berlalu
Inikah nikmatnya ….

“La, gue cuma punya satu keinginan saat ini. Gue pengen waktu berhenti, satu hari aja, buat dapetin semua momen terindah bareng lo. Di sini, tanpa ada orang lain yang ganggu kita.”

“Gue juga, Ndra. One last time with you. Sebelum gue nulis chapter baru di hidup gue. Kisah gue sama lo, udah seharusnya berakhir indah. Walaupun kita nggak akan bercerita di halaman yang sama.”

Kami berpelukan erat, tubuh kami menyatu dengan pasir-pasir lembut. Aroma Rendra begitu menusuk sukma.  Harum, membuai kalbu, membawa ke sebuah nirwana yang cuma kuinjak pada masa yang begitu singkat.

Kali ini kami berjanji akan mengunci ini semua dalam lemari memori terdalam. Dengan kunci yang begitu hebat, tersimpan rapat, takkan terbangun demi menjaga kebahagiaan mereka yang mencoba membahagiakan kami.

Semua sudah, hilang
Dan berholiday
Tak pernah usai
Denganmu …. 

#nowplaying Apatis Ria – SORE 

#ODOPfor99days #day28

pic : dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s