Geeky Love Story

image

Cinta? Apakah itu sekumpulan formula? Mengintegralkan berbagai faktor dengan limit tak terhingga? Interaksi atom-atom tak kasat mata, menubrukkan diri sebagai pembuktian hukum kuantum semesta?

Sampai-sampai si jenius idola saya, Albert Einstein berani bilang : Gravitasi tidak ikut bertanggung jawab atas jatuh cintanya manusia. Begitu dashyatkah kekuatan cinta? Teori relativitas sampai angkat tangan dibuatnya?

Mungkin untuk pria semenjana seperti saya, yang lebih khidmat mendalami rumus-rumus eksakta ketimbang menyelami arti perasaan wanita, cinta adalah semacam kotak pandora. Sampai dua dasawarsa usia, masih saja saya gentar untuk membukanya, menelusurinya, apalagi meneliti sedalam-dalamnya.

Namun, entah apa yang menuntun saya malam itu, untuk pertama kalinya saya mengiyakan sebuah kesempatan besar. Kesempatan untuk bersosialisasi dengan lawan jenis, makhluk yang menurut hemat saya paling kompleks dibandingkan struktur molekul DNA : WANITA.

Adalah Rio, penghuni di sebelah kamar kos saya, yang tiba-tiba mengetuk pintu kamar saya di suatu Sabtu malam. Saat itu saya bisa dibilang sedang tak terlalu sibuk, hanya membaca buku Kalkulus Lanjutan, persiapan bahan kuliah Senin mendatang. 

“Ta! Data! Ayo dong keluar kamar, Bos! Bisa nambah tebel tuh kacamata, ciuman melulu sama buku!” seru Rio sekenanya.
“Rio, saya sedang bercengkrama dengan jendela dunia. Tidak perlu acara naik pesawat, saya bisa keliling dunia lewat ini,” balas saya sambil masih menelusuri baris demi baris bahasan tentang deret tak terhingga.

Rio serta merta menarik tangan saya, diletakkannya sebuah undangan bertuliskan“Tuntaskan Jomblomu Malam Ini!” Kening saya berkerut dan berkerut. Apa ini teka-teki yang harus saya pecahkan?

“Ta, kita santai dulu lah malem ini. Gue sama anak-anak mau dateng ke acara ini, yang bikin anak-anak himpunan Arsitek. Kali aja lo bisa dapet partner cakep buat nemenin lo belajar Kalkulus tiap malem Minggu. Daripada lo cuma gombal-gombalan sama cicak doang di sini!” Rio nyengir lebar sambil dengan gigih mengajak saya ikut serta di acara antah berantah itu.

“Ummm.. saya pikir-pikir dulu ya, Rio. Sepertinya…” 

“Ta! Ini tuh acaranya beda! Pesta kostum lho! Lo bebas pake kostum apa aja yang lo suka. Mau aneh-aneh sekalipun nggak ada yang ngelarang!”promosi Rio.

TRING! Lampu bohlam Thomas Alva Edison menyala di atas kepala saya. Wah, berarti kostum-kostum Star Trek saya akhirnya bisa keluar dari lemari. Baru saja minggu lalu saya mengangkut beberapa koleksi baru, hasil berburu di konferensi penggemar Star Trek Jakarta.

“Udah ya, kita berangkat setengah jam lagi. Sana cepetan pake kostum lo! Gue sama anak-anak tunggu di bawah,” ujar Rio sambil mendorong saya ke arah lemari.

Tepat tiga puluh menit ke depan, saya sudah duduk di dalam mobil bersama Rio, Dewa, dan Andi. Rio memakai kostum bajak laut, Dewa dengan kostum samurai, dan Andi dengan kostum detektif Sherlock Holmes. 

Saya? Tentu saja orang tua saya tidak sembarangan memberi nama Geordi Data Picardia. Sebagai keturunan pecinta mati Star Trek, saya memakai seragam Star Trek dari serial The Next Generation (di mana asal nama saya datang). Namun, saya tidak memberikan aksen putih pucat di sekujur wajah dan telinga runcing ala Data. Justru saya memakai kacamata canggih ala Geordi La Forge yang sudah saya modifikasi supaya tidak mengganggu penglihatan saya sendiri.

Tibalah kami di tempat acara itu berlangsung. Setibanya di dalam, saya mengamati sekeliling ruangan. Musik berdentum-dentum dengan irama elektronika. Berbagai kostum, mulai tokoh-tokoh anime, game, film, hingga makhluk halus lalu lalang ke sana kemari. Sungguh pemandangan yang tidak biasa, namun entah mengapa ada yang bergolak di dalam diri saya. Saya duga itu adalah aliran adrenalin di dalam darah yang mempengaruhi munculnya euforia malam ini.

Ketiga kawan kos saya tahu-tahu sudah menghilang di kerumunan. Jadilah saya mencoba bertahan hidup sendiri di dalam pesta ini. Saya menuju ke sudut ruangan, tempat dimana makanan dan minuman berada. Tak ada salahnya menumpuk sedikit glukosa untuk energi malam ini, pikir saya singkat. 

Saat titik tujuan terinjak, indera penglihatan saya menangkap sebuah fenomena menakjubkan. Sesosok wanita, dengan gaun putih dan dua gulungan rambut coklat menghiasi kepalanya. Ia terlihat begitu mempesona. Detak jantung per menit saya mendadak bertambah, iramanya menghentak-hentak tak tentu arah.

Princess Leia of Star Wars captivated me and every cell of my heavenly body.

“Seize the time. Live now, make now always the most precious time. Now will never come again!”seruku tiba-tiba, mengutip Jean-Luc Picard. 

Princess Leia menengok ke arahku. Ia tersenyum begitu manis. Kemudian keluarlah kata-kata darinya, yang saya tahu berasal dari salah satu film Star Wars.

“Well, I guess you don’t know everything about women yet,” ucapnya sambil mengerling penuh arti.

Saya berikan salam pembuka khas Star Trek, dengan gerakan jari khasnya, “Greetings, My Lady. It’s an honor to have you on board. Geordi Data Picardia at your service.”

Princess Leia membalas dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman, “Leia Organa, it’s a pleasure to meet you. You don’t have to do this to impress me.”

Dan itulah dia, menit-menit pun berlalu dengan kami yang saling melemparkan kutipan-kutipan dialog dari serial favorit kami masing-masing. Padahal Star Trek dan Star Wars bagaikan dua kutub magnet yang berbeda, namun mungkin itulah yang membuat kami tarik-menarik seperti yang dibahas di Ilmu Pengetahuan Alam sejak SD. Atau mungkin ada senyawa lain yang menjadi katalis reaksi tak terduga ini. Ah, untuk kali ini, saya tidak ambil pusing apa fakta ilmiah di balik semuanya. Leia menjadi kunci kotak pandora saya dan saya adalah ksatria yang tak takut mati malam ini.

Ketika akhirnya Rio menemukan saya dan mengajak saya kembali ke kos, saya sudah mengulik segala sisi seorang Leia Organa yang bisa saya analisa dalam dua jam terakhir. Begitu pula Leia seharusnya sudah bisa menarik hipotesa tentang seperti apa saya. Sisanya, tinggal penjadwalan eksperimen untuk menguji kebenaran teori kami berdua, bahwa kami memang diciptakan untuk berjumpa dan menghabiskan waktu bersama. 

Sebelum dipisahkan oleh hari yang berganti. Leia memberi saya sebuah sentuhan di pipi kanan saya. Sentuhan dari sel-sel di bibirnya, membuat sekejap aliran listrik tegangan tinggi mengalir ke seluruh saraf sensorik saya.

“I love you,” sahutnya pelan. “I know,” jawab saya sambil menggenggam tangannya. (Ini dialog legendaris Princess Leia dan Han Solo – red)

Saya berharap ada bintang jatuh di langit saat ini, meskipun mungkin tempat ini bukan jalur lintasan komet atau meteor. Saya cuma ingin probabilitas menjadi sesuatu yang semu dan kepastian adalah hal yang lekat di perjalanan cinta saya.

Can’t you be my cosmic woman?
I need you, I want you to be my cosmic girl
For the rest of time

(inspired by the song Cosmic Girl from Jamiroquai)

#ODOPfor99days #day22

pic : quotesgram.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s