Aku Temanmu

image

“Tambah lagi minumnya, Mbak?”

Suara bariton yang merdu memecah lamunanku. Tak kusadari mug gendut berisi teh lemon panas di hadapanku hanya menyisakan beberapa tetes cairan untuk bisa kuteguk. 

Kuangkat kepalaku, menoleh ke asal suara yang diam-diam kurindu dari tempat ini. Senyum manisku tersungging, sambil meminta satu mug teh lemon panas untuk memperpanjang waktuku di sini.

Namanya Rasya. Ini bulan keenam masa kerjanya di Read n Relax, tempat yang sudah bertahun-tahun jadi tempat pelarian favoritku saat penat begitu melanda. Sekedar duduk santai, berkontemplasi, atau mencari inspirasi untuk menulis artikel-artikel pekerjaanku. 

Entah bagaimana semua bermula, tak hanya teh lemon panas yang kini kunanti di setiap kunjunganku. Kehangatan suara, sentuhan, dan senyum seorang Rasya yang menemani datangnya mug gendut itu seakan jadi bonus besar yang tak ternilai, menambah gelitikan aneh di perutku.

Just a fling? Secret admirer? A possible unrequited love?

Sejuta istilah untuk menggambarkan apa yang aku rasakan. Meskipun setiap hari perkembangannya selalu sama, tak ada langkah lebih dari kami berdua untuk memperjelas perasaan masing-masing, aku cukup puas dengan apa yang aku punya detik ini. Sebuah asmara diam-diam yang memercikkan sedikit warna dalam hidupku yang statis. 

Sampai suatu ketika …..

“Selamaaatttt! Anda adalah pemesan teh lemon panas yang ke-seribu di Read n Relax! Ini hadiah spesial untuk pelanggan setia seperti Anda!”

Sepotong kue pelangi dengan sebuah lilin menancap di atasnya, menyambut kedatanganku pada suatu sore. Dahiku mengernyit, mencoba mencerna maksud sambutan ini. Terlebih sang pelaku penyambutan yang begitu antusias, Rasya si pujaan diam-diamku.

 “Te..terima kasih.“

Hanya ucapan terbata-bata yang akhirnya keluar dari mulutku. Terpana akan kehangatan Rasya yang hari ini tampak berbeda. Terasa keberadaannya lebih dekat, lebih tergapai jangkauan lengan-lengan tak kasat mata dari dalam hatiku.

Sejak hari itu, Rasya menjadi pendampingku. Bukan hanya sekedar pelayan yang membawakan pesananku. Untuk pertama kalinya aku bisa mengenal sosoknya lebih dalam. Menggali jawaban atas misteri-misteri yang menggantung rasa ingin tahuku, akan hidup seorang pria yang kukagumi dari jauh. Menemani hingga akhirnya kantuk menyeretku pulang ke peraduan. 

Di atas tempat tidur, sebelum aku menutup mata, terlintas sebuah pertanyaan yang   membangkitkan harapan dan kecemasan. Is he still single and available?Ah, pertanyaan penting yang seharusnya berani kulontarkan. Walaupun sebagian harga diriku begitu keras menahan meluncurnya kata-kata itu dari bibir mungilku. 

Benar saja ……

Ra, thanks a lot ya. Aku seneng banget bisa temenan sama kamu. Hilang semua bete, capek, bosen, kalo udah ngobrol panjang lebar sama kamu. Cocok banget kamu jadi penulis. Cerita kamu selalu menarik dan nggak abis-abis.

Satu kata yang begitu menohok… TEMAN.

Rupanya begitulah aku di mata dan hatinya. Percakapan akrab, senyum penuh arti, derai tawa bahagia, yang kami bagi bersama, melalui beberapa jam tanpa terasa, semua terbalut satu makna : PERTEMANAN belaka.

Akhirnya, Ra. Uangku udah cukup sekarang. Aku bisa ke Jerman, menyusul separuh hatiku. Rupanya langit mengizinkanku untuk membangun jalan, jalan untuk berlari bersama di samping Yasmin.

Begitu ceritanya dengan penuh semangat. Antusiasme yang nyaris sama saat ia membawakan kue pelangi dulu, namun dengan getaran dan tatapan mata berbeda. Terdefinisi atas satu alasan : CINTA.

“Congrats, Sya. All the best for you.”

Beberapa patah kata yang mampu kukeluarkan sekuat tenaga. Sembari mencoba tetap tersenyum, meskipun aku tak tahu apakah air mukaku menyampaikan maksud sebaliknya.

Tiba-tiba Rasya memelukku. Sedikit asa turut membumbung naik. Ada setitik dua titik air membasahi pundakku. Air matanya, air mata yang begitu berharga, air mata kehilangankah?

“Aku nggak bakal lupain kamu, Ra. Berkat kamu, semangatku nggak pernah ilang buat berjuang. Everybody deserves a dear best friend like you.”

Ada yang kembali teriris di dalam. Masih, aku masih hanya sekedar teman baginya. Hingga detik aku melepaskannya ke seberang lautan sana.

“That’s what friends are for, Sya. To always be by your side and make you happy until the end.”

Sebuah pernyataan cinta terselubung akhirnya kuutarakan.  Entah apakah akan tersambung di jalur yang aku harapkan. Atau hanya menempel di permukaan hati Rasya, terhalang besarnya perasaan kepada cinta sejatinya.

Aku butuh teh lemon panas setelah ini. Meskipun aku tahu, rasanya tak lagi sama kala kuteguk. Pahit-asam-manis, kini bercampur asinnya air mata yang menetes perlahan di dalam.  

#ODOPfor99days #day18

pic : pixabay.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s