Bandung, Tunggu Aku!

image

Seumur hidup, ada tiga kota yang mewarnai hidupku. Pertama, menghabiskan 17 tahun awal kehidupan di Ibukota, kemudian 6 tahun selanjutnya menimba ilmu di Kota Kembang, Bandung. Lulus kuliah, sempat setahun mencari nafkah di Ibukota, namun karena jiwa dan raga sudah tertambat di Bandung, kembalilah lagi ke kota ini. 3 tahun berselang, dipersunting jejaka Bekasi, hijrahlah aku ke pinggiran Ibukota dan bekerja lagi di Jakarta. Nah, 5 tahun sesudahnya, nampaknya siklus berulang, aku pun memutuskan untuk melangkahkan kaki ke kota yang sudah membuatku cinta mati : BANDUNG.

Jika berkilas balik ke awal menetapnya aku di Bandung, banyak cerita menarik di sana. Sebenarnya, aku dan keluarga sudah tak asing dengan Bandung. Aki dan Nenek dari Mamaku tinggal di Bandung, beserta Om dan Tante-tanteku. Setiap liburan sekolah dan Idul Fitri, ke Bandunglah kami menuju. Sampai saat SMA, aku begitu ingin kuliah di Bandung, tak peduli di mana tempatnya, yang penting di Bandung.

Garis nasib membawaku menuntut ilmu di Farmasi ITB. Merasakan suka duka seorang anak kos, menemukan keluarga baru di kampus dan rumah kos, dan….akhirnya berhasil menaikkan berat badan sampai 10 kg! Membuat badanku tak hanya tak ceking lagi, ditambah wajah yang berseri gembira, bersemangat hadapi hari-hari menyenangkan di kota kreatif ini.

Banyak hal yang membuatku selalu baper alias emosional kalau menyangkut tentang Bandung. Besar di Ibukota yang keras, individualis, angkuh, dan pastinya PANAS, membuat Bandung menjadi penyejuk hidupku.

image

Pertama, ritme hidup warga Bandung yang bagiku menyenangkan. Santai, jenaka, kreatif, penuh kekeluargaan. Berbincang akrab tanpa batas, lebih mudah terjadi di sini. Tak heran, kreativitas kaum mudanya pun mudah sekali tumbuh dan bagiku, apapun produk Bandung PASTI akan lebih keren dari kreasi anak ibukota. Buktinya, makin menumpuk saja warga Jakarta dan sekitarnya yang datang ke Bandung. Hanya sekedar untuk menikmati produk Bandung, yang sebenarnya banyak produk serupa ditemukan di Ibukota. Tapi, ya, itu tadi, suasana Bandung itu yang tak terganti dan tak terbeli.

Kedua, kuliner Bandung yang super jempolan. Mau makan apa, ada semua di sini. Makanan ringan, makanan berat, kelas restoran, kelas jalanan, lengkap kap kap! Harganya pun lebih ramah di kantong. Walaupun, akhirnya dompet pun jebol, karena semua jenis jajanan dan makanan dicoba, hehehe.

Ketiga, sekarang, Bandung punya pemimpin hebat. Muda, visioner, kreatif, modern, rendah hati, pandai, bersahaja. Tipe pemimpin ideal yang makin langka di Republik ini. Ridwan Kamil namanya. Aku pernah bertemu langsung dengan beliau, saat ia memberikan kuliah umum di program MM Unpad. Kala itu, ia belum terpilih menjadi Walikota. Inspiratif. Begitu kesan pertamaku terhadapnya. Ia sampaikan pada kami, mengajak untuk berperan mencarikan solusi untuk masalah-masalah di kota tercinta kami ini. Salah satunya, membangun ekonomi kreatif Bandung. Satu mimpi yang hingga kini masih terkubur di benakku. Untuk berpartisipasi aktif membangun Bandung. Kini, kiprah Kang Emil begitu berkibar. Terobosannya selalu dinanti. Akun media sosialnya tak pernah sepi, termasuk komentar-komentar lucu khas abege masa kini. Menelusuri taman-taman kota karya beliau, jadi salah satu agendaku jika sudah berpindah kembali ke Bandung.

image

Ah, membahas Bandung, membuatku makin rindu. Tunggu aku kembali ke pangkuanmu, ya.

#ODOPfor99days #day16

pic : pinterest.com, zhazhazhu.com, path.com

Advertisements

3 thoughts on “Bandung, Tunggu Aku!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s