Pintu Kayu dan Iblis Durjana

image

Satu, dua, tiga, empat, lima. Kurentangkan jari-jari tanganku, menghitung berapa hari lamanya aku sudah melihat hal yang sama di dalam tidurku. Lima hari dalam satu minggu.

Sebuah pintu kayu yang terkunci dengan kokoh. Selalu pemandangan serupa di sekeliling pintu itu. Kegelapan yang nyaris membutakan. Samar-samar tercium bau tak sedap. Mungkin karena lembab mengelilingi ruang tak bertepi. Aura suram, haus akan adanya secercah cahaya untuk membebaskannya dari belenggu hitam.
Di kali kelima ini, lagi-lagi aku terjaga dalam situasi yang sama. Terengah-engah, peluh mengucur deras, berusaha sekuat tenaga membuka pintu yang tampak kian menjulang dengan segenap keangkuhannya. Mencemooh setiap gerak langkahku kala coba membuka untuk kemudian keluar melewatinya.

“Mimpi buruk lagi, Di? Nih, minum dulu, kamu kelihatan kaya abis dikejar-kejar anjing galak keliling kompleks,” suara renyah mengiringi saat sejurus kemudian kuteguk air pemberiannya dengan kecepatan tinggi.

“Makasih, Jul. Untung kamu mau nginep di sini tiap malem,” ucapku kepada Julia, sahabat karib yang sudah seminggu ini bermalam bersamaku.

“Ngomong apa sih kamu, Di. Mumpung liburan panjang gini, males juga aku tidur di rumah. Si sepupu-sepupu badung itu bakal ganggu aku tiap malem. Main game, teriak-teriak nggak tahu waktu. Mendingan aku di sini deh, sekalian kita bisa bahas lebih dalem soal proyek kasus kita,” ujar Julia antusias.

Ah, ya. Kasus itu. Hampir saja aku lupa sumber energi kami dalam melalui liburan panjang membosankan ini.

Sejak berkenalan dengan Julia, sepuluh tahun lalu, kegemaran memecahkan misteri dan menelusuri cerita-cerita kriminal, seakan merekatkan kami bak belahan jiwa. Jadilah Indigo dan Julia, sepasang remaja 16 tahun yang memproklamirkan diri sebagai titisan Sherlock Holmes dan Hercule Poirot.

Tenggelam dalam serangkaian teori dan deduksi, mencoba mengurai setiap jejak yang terendus panca indera. Setumpuk komik dan novel misteri kriminal dilahap kami dengan rakusnya, hingga lama kelamaan kami pun menemukan kegemaran baru : mencari dan membongkar misteri yang ada di sekitar tempat tinggal kami.

Kompleks perumahan Bumi Khayangan, sebenarnya begitu hening dan jauh dari hiruk pikuk yang menyesakkan. Namun, aku dan Julia justru berpikiran sebaliknya, terlalu tenang berarti ada suatu rahasia tersembunyi di baliknya. Sepekan lebih sejak liburan dimulai, Julia menemukan sasaran penyelidikan kami. Sebuah rumah di ujung jalan yang tampak terlalu mencurigakan. Kabarnya, rumah itu kini disewa oleh seorang pria paruh baya, namun nyaris tak tampak denyut kehidupan berlangsung di dalamnya.

“Menurut catatannya Pak RT, penyewa rumah itu namanya Pak Rudi Subandi. 45 tahun, asal domisili di KTPnya dari Semarang. Duda tanpa anak, istrinya udah lama meninggal,” Julia memaparkan hasil pencarian informasinya.

Sahabatku ini memang dikaruniai bakat intelejen tanpa cela. Kemampuannya untuk dekat dengan berbagai kalangan memungkinkan cepatnya info berpindah tangan tanpa membangkitkan kecurigaan dari sang informan.

“Perasaanku bilang kepindahannya ke sini sepertinya untuk menghindari sesuatu, ketimbang memulai hidup baru,” ucapku berdasar intuisi yang begitu kuat menggebu.

Ya, Ayah tidak sembarangan menamaiku Indigo. Sudah mengalir di urat nadiku, indera keenam yang menajamkan naluri. Konon, ini diturunkan dari pihak Bunda dan hanya didapat oleh anak perempuan. Sejak Bunda wafat saat aku masih berusia 2 tahun, akulah satu-satunya pemegang warisan ini.

“Jadi sepertinya nggak ada cara lain buat cari tahu, kecuali kita intip-intip sedikit isi rumah itu, “ sahut Julia cepat. “Kita kan udah coba awasin beberapa hari ini, dari pagi sampai sore kaya nggak ada kegiatan apa-apa di situ. Gimana kalo kita coba sergap malam-malam?” lanjut Julia dengan antusias.

“Yakin nih, Jul? Mendingan susun rencana sebelum kita main masuk begitu aja ke rumahnya. Salah-salah bukannya nemuin petunjuk, malah penyelidikan kita bener-bener distop,” saranku mencoba meredam ambisi buta Julia.

“Oke, oke. Kita liat dulu situasi di rumahnya malam hari, baru kita bikin lagi rencana buat main ke dalem,” Julia mengalah. Ia kemudian melirik jam dinding dan mengeluarkan ide gila lainnya. “Kayanya jam segini waktu yang pas buat kita mulai mengintai, Di. Sekalian kita cari kantuk di luar. Hehehehe,” tukas Julia sambil cengengesan. Ah, memang anak ini kalo udah punya mau susah banget denger kata “Nggak”.

Belum lidahku mengiyakan ajakannya, Julia sudah lebih gesit mengambilkan jaket untukku dan memakai jaketnya. Tak lupa teropong binokular milik Ayah tergantung manis di lehernya. Aku pun mengambil kamera untuk mengabadikan hasil pengintaian, meskipun ada perasaan tidak nyaman menyelinap tiba-tiba. Tak seperti biasanya, kutepis begitu saja peringatan naluriku itu.

15 menit berlalu dan kami sudah bersembunyi di halaman rumah penuh rahasia itu. Cahaya redup terlihat dari jendela beserta bayangan yang kerap mondar-mandir penuh kegelisahan. Tak salah lagi, Pak Rudi sepertinya ada di dalam.

“Lagi ngomongin apaan ya tuh si Bapak? Duh, mana nggak kedengeran dari sini,” bisik Julia. “Kita harus lebih deket lagi, nih. Tuh, ada celah di bawah jendela. Kita pindah ke situ aja, yuk!” ajakan Julia menantang bahaya pun makin menjadi.

Aliran adrenalin menuntun langkahku mengikuti Julia. Suara-suara dari dalam kini semakin jelas terdengar. Pak Rudi seperti sedang menggumamkan sesuatu. Di sela-sela gumaman, ada tawa tertahan yang membuat bulu kuduk merinding seketika. Isi perutku bergolak, suara tawa itu seperti pernah kukenal, entah kapan dan dimana.

Langkah-langkah kaki kini kian mendekat. Sepertinya Pak Rudi berjalan ke arah pintu masuk rumahnya. Sekejap aku dan Julia berpindah ke balik dinding samping rumah. Menyembunyikan keberadaan kami, sebelum pria misterius itu menemukan kami dan … Ah, tak berani aku membayangkan apa yang akan terjadi.

Seorang pria yang sepertinya Pak Rudi keluar dengan sebatang rokok di mulutnya. Wajahnya tidak terlihat jelas, namun gerakannya menyiratkan kewaspadaan tinggi, berbalut ketenangan luar biasa. Lambat laun sosoknya mulai menghilang ditelan kegelapan malam seiring menjauhnya ia dari kediaman.

Kembali Julia bertindak bak agen rahasia di film-film. Ia menarik tanganku, berputar menuju pintu belakang. Ternyata, pintu tidak terkunci dan apa yang aku cemaskan pun terjadi. Sekarang kami benar-benar menyelinap masuk ke dalam rumah.

Suasana redup dan suram menyelimuti seantero rumah. Meskipun susunan perabotan tampak rapi, bau lembab tak pelak menyergap penciumanku. Samar-samar ada awan menggelayut benakku. Setiap tapak menjejak, kianlah situasi yang ada di depan mata serupa dengan apa yang kulihat dalam mimpi.

Di dekat tangga, tubuhku pun terpaku. Punggungku terasa begitu dingin. Pintu kayu itu, pintu kayu yang menghantui malam-malamku terpampang jelas di depan mata. Kesadaranku seperti melayang, logika tenggelam dalam rasa ingin tahu, kubuka perlahan pintu itu. Derit menyayat mengiringi, menambah suasana mencekam.

Jantungku berdebar kencang, darahku mendesir, sembari melangkah maju mencoba menyibak apa yang ada di balik pintu kayu ini. Julia meraih lenganku, menyalakan senternya, menyoroti jalanku untuk terus menapaki misteri yang sepertinya mulai terkuak tabirnya.

Selang beberapa menit, pemandangan mengerikan menghiasi sudut ruangan. Untuk pertama kalinya, duo detektif ini berhadapan dengan realita kejam dunia kriminal.

Mereka masih anak-anak. Mungkin usianya tak ada melebihi tujuh tahun. Sepuluh orang jumlahnya. Lima meringkuk, tiga bergelimpangan, dan dua terikat lemas di bangku kayu. Kondisi mereka begitu mengenaskan. Pakaian compang camping, tubuh bak mayat hidup, bau kotoran manusia dan air seni menyeruak. Kekejaman apa yang telah terjadi di balik kesunyian semu ini?

Pekik kencang Julia setelahnya menjadi alarm bahwa kami telah masuk ke dalam sarang harimau yang tidak seharusnya kami usik. Pintu kayu itu berdebam kencang, tertutup, mengurung kami dalam keputusasaan. Malam inikah nyawa kami terakhir melekat pada raga? Mimpi mengerikan itu benar-benar menjadi nyata.
Dari dalam kepalaku seperti ada sebuah palu godam menghantam bertubi-tubi. Pandanganku berkunang-kunang. Lantai seperti spons yang menghisapku, terombang-ambing antara realita dan fatamorgana.

“Maafin aku, Di. Ini semua gara-gara aku. Seharusnya aku berpikir lebih panjang sebelum jerumusin kita ke dalam bahaya kaya begini,” Julia terisak perlahan di bahuku.

“Udah, Jul. Sekarang kita harus pikirin, gimana caranya bisa nyelamatin diri kita dan anak-anak ini,” hiburku dengan suara parau.

“Seharusnya aku tahu, bermain-main dengan malaikat maut itu nggak pernah jadi pilihan yang perlu dicoba. Apalagi mencoba jadi pengendali hidup seseorang, meskipun orang itu sahabatku sendiri,” lanjut Julia, membuatku semakin bingung.

“Maksud kamu apa, Jul? Ada apa dengan hidupku?” tanyaku tak mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Cerita yang kudengar selanjutnya benar-benar membuatku tak mengenal lagi siapa diriku dan orang-orang yang selama ini menjadi bagian hidupku.

Enam bulan yang lalu, Julia datang ke rumah. Tak seperti biasanya, dia tak mengabariku dahulu bahwa ia akan datang. Alasannya, waktu itu aku tak masuk sekolah karena sakit dan ia ingin menjenguk tanpa merepotkan aku maupun Ayah. Setelah tidak menemukanku di kamar, ia mendengar sayup-sayup pembicaraan dari kamar Ayah. Ternyata di sana ada aku, Ayah, dan seorang pria yang dipanggil Ayah dengan nama “Dokter Dwi”.
“Bagaimana ini, Dokter? Tadi saya lengah menjaganya, ternyata Indi menemukan rahasia itu. Rahasia yang seharusnya dikubur dalam-dalam tanpa pernah ia tahu pernah mengalaminya,” kata Ayah dengan panik.

“Trauma mendalam seperti ini sebenarnya bisa diredam dengan hipnoterapi yang selama ini kita gunakan, Pak Rendra. Namun, efek sampingnya juga ada. Entah sampai berapa lama, kenangan menyakitkan Indi dapat terkunci di alam bawah sadarnya,” Dokter Dwi menjelaskan sembari memeriksa keadaanku yang masih meracau antara sadar dan tidak sadar.

“Yang perlu Pak Hendra lakukan adalah menjaga kerahasiaan itu selama mungkin, sampai kondisi Indi benar-benar siap dan stabil menerima kenyataan pahit yang pernah jadi bagian masa kecilnya itu. Korban penculikan dan penyekapan seperti ini jika tidak ditangani dengan hati-hati, bisa mengalami gangguan jiwa permanen yang berbahaya.”

Singkat cerita, Ayah mencoba meletakkan rahasia besar itu di tempat yang lebih sulit ditemukan. Namun, Julia berhasil menemukannya. Sebuah kotak berisi kliping-kliping surat kabar dan akte kelahiran. Indigo bukanlah nama asliku. Ayah menggantinya demi keselamatanku.

Rupanya waktu aku berusia 5 tahun, aku menjadi korban penculikan dan sang pelaku menyekapku di ruangan bawah tanah bersama beberapa anak lainnya, mirip sekali dengan apa yang kami temui hari ini. Setelah hampir dua minggu menghilang, aku berhasil melarikan dari neraka itu. Tusukan bertubi-tubi dengan kayu yang kuserut berhari-hari ke kaki dan tangan sang pelaku memberiku jalan, setelah kulumpuhkan dia dengan jebakan tali temali ajaran Ayah kala kami berkemah ke hutan. Ditambah tajamnya indera keenamku, bisa memperkirakan segala kebiasaan dan reaksi sang durjana, membuat semua aksi bela diriku sukses sesuai rencana.

Sang pelaku berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara selama 20 tahun. Hidupku tak pernah sama sejak itu. Demi menyembuhkan trauma mendalam yang aku alami, Ayah datang ke Dokter Dwi, seorang psikiatri yang berpengalaman menangani kasus-kasus korban kejahatan traumatis seperti ini. Keluarga kami berpindah domisili dari Semarang ke Bandung dan namaku pun diganti demi memberi hidup baru. Secarik kertas putih untuk menulis kembali perjalananku yang sebelumnya ternoda.

“Aku menyelidiki diam-diam di belakangmu. Sepertinya Pak Rudi ini melakukan kejahatan yang sama seperti apa yang kamu alami dulu, Di. Pamanku di kepolisian pernah bercerita meningkatnya penculikan dan kasus anak hilang di daerah dekat kompleks ini beberapa bulan terakhir. Nggak tahu kenapa, naluriku berkata begitu. Apalagi gerak-geriknya memang mencurigakan setelah aku awasi diam-diam beberapa hari ini. DIa suka datang ke sekolah-sekolah dan lampu merah, berlagak berjualan permen ataupun mainan buat ditawarin ke anak-anak kecil,” Julia menerangkan aksi detektif partikelir solonya padaku.

“Yah, dengan sangat sok tahunya, aku malah berpikir bahwa ini bisa jadi kasus fenomenal kita. Apalagi kalo bisa nyembuhin trauma kamu dengan nemuin kamu dengan penyebab trauma kamu dulu. Bodoh banget pemikiran aku ini, nggak mikir panjang gimana efeknya ke kamu. Aku juga nggak bikin rencana lain kalo seandainya semua ini nggak berhasil. Sahabat macam apa aku ini,” tangis Julia pecah, terdengar sesal mendalam di sana.
Kupeluk Julia erat. Apapun yang telah dia lakukan, benar atau salah, aku bersyukur memiliki sahabat yang begitu perhatian seperti dia. Mungkin memang aku dan Julia adalah belahan jiwa. Bersama kita menaklukkan dunia, tegakkan keadilan dan kebenaran.

Aku bangkit dan menarik lengan Julia. “Ayo, Jul. Kita nggak boleh mati di sini, hari ini. Holmes dan Poirot pantang nyerah sama begundal manapun, selicik dan selicin apapun mereka!” Julia menganggguk, ada semangat sama terbakar di matanya.

Langkah-langkah berat terdengar semakin dekat ke arah ruangan kami. Dengan sigap aku mengambil bangku kayu, setelah Julia membebaskan dua anak yang terikat di sana. Ia pun mengambil bangku lainnya.

Seiring terbukanya pintu kayu kokoh nan angkuh itu, kami berdua berteriak sambil menyerang sosok penjahat keji, sang Iblis tak berperi.

BRAK! BRAK! BRUK! BRUK!

Suara-suara itulah yang terakhir kuingat. Segalanya menjadi gelap setelahnya….

“Selamat ya, Di. Dua bulan lagi kamu nyusul aku jadi Bunda, nih!” sahut Julia gembira sambil memelukku erat. Riko, suami Julia dan Krisna, suamiku tersenyum simpul melihat keakraban kami yang tak berubah selama 20 tahun terakhir.

“Cewek atau cowok, Di?” tanya Riko. “Cewek, Ko. Bisa jadi sahabatnya Aina nanti kaya bunda-bundanya ini,” ujar Krisna sambil mengedip jenaka ke arah Aina, putri kecil Julia dan Riko yang ikut tertawa manja.

Mata Julia terbelalak, kemudian berbisik padaku, “Jadi, nanti ada Indigo episode dua dong. Si naluri tajam, indera keenam?” Aku mengangguk dan balas berbisik, “Tenang, Jul. Kali ini Indi kecil nggak bakal dikejar-kejar bayangan pintu kayu lagi. Kan udah kita berdua robohin tuh si pintu angkuh punya iblis jahat!” Julia tertawa sambil memandang ke arah sebuah kliping berita yang terpigura di ruang keluargaku.

DUO DARA DETEKTIF MERINGKUS PENCULIK ANAK KAWAKAN DENGAN GAGAH BERANI.

Gagah berani? Mungkin memang keberanian yang menyelamatkan kami. Keberanian untuk berdamai dengan rasa takut dan kepanikan. Ah, semoga akhir bahagia ini adalah awal keabadian.

*****

Dua puluh tahun, akhirnya aku menghirup lagi kebebasan. Kuseret kakiku menginjak lantai baru, meninggalkan sel sempit yang menghimpitku dua dasawarsa terakhir. Kugenggam erat potongan berita di surat kabar yang mulai melapuk. Tertulis di sana : DUO DARA DETEKTIF MERINGKUS PENCULIK ANAK KAWAKAN DENGAN GAGAH BERANI.

Rupanya, si perusak mimpiku itu berlagak jadi pahlawan lagi. Dara detektif? Ah, satu kebetulan belaka, bisa lari dariku, sudah membuatnya besar kepala. Jangan panggil aku Rahmat Sutopo, jika tak bisa menuntaskan sakit hati dan kekalahan ini. Lihat saja nanti ….

#ODOPfor99days #day14

pic : johnnycompton.com

Advertisements

2 thoughts on “Pintu Kayu dan Iblis Durjana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s