Berikan Haknya Semampumu!

image

Kalau ditanya, apa yang paling membanggakan dalam perjalananku sebagai seorang ibu, jawaban dengan mantap dan bulat : sukses menyusui Mas Aryo hingga usia 2 tahun (lebih 3 bulan, malah).

Oke, sebelum cerita ini kulanjutkan, ada baiknya aku jelaskan kalau tulisan ini murni hanya sekedar berbagi pengalaman dan syukur-syukur bisa menjadi penyemangat. Tanpa bermaksud mengecilkan para ibu yang belum berhasil menyusui buah hatinya karena satu dan lain hal.

Here we go…

Sampai sekarang, nggak pernah menyangka, aku dengan gen XX dan level feminitas yang di bawah rata-rata ini, bisa melalui beberapa tantangan selama menjadi ibu.

Menjadi ibu sendiri nggak pernah terbersit dalam khayalan masa kecil sampai masa single dulu.

Bayangkan saja. Aku yang sering nggak nyaman di dekat anak kecil. Merasa sangat tidak keibuan. Jauh dari keterampilan mengurus rumah tangga dengan layak. Selalu gemeteran di dekat, apalagi menggendong bayi.

Tahu-tahu di depan mata, ada seorang bayi laki-laki lucu nan sehat, menangis kencang, lapar, haus dekapan dan tetesan air susu sang ibu. Putraku sendiri.

Berbekal (lagi-lagi) rasa nekat, dukungan suami dan mama, serta setumpuk informasi dari internet dan tenaga kesehatan, perlahan-lahan aku membangun rasa percaya diri untuk menyusui putra pertamaku, yang ternyata bisa berlangsung bahkan hingga usianya 2 tahun 3 bulan!

Tentu saja, buah termanis takkan tumbuh tanpa perjuangan keras. Daftar tantangan yang harus kuhadapi pun tak main-main.

image

Perjalanan menyusuiku diawali dengan terlewatnya Inisiasi Menyusui Dini, tanpa alasan yang jelas, menurutku. Sayang, karena aku pun masih awam, jadi kukira IMD ini dilewatkan karena aku melahirkan via operasi caesar dan dicemaskan ada sisa obat bius yang terminum dalam ASI dan kondisi ruang operasi yang super dingin menjadi tidak kondusif untuk si bayi berlama-lama berada di sana.

Mas Aryo baru kususui kira-kira 7 jam setelah lahir, namun alhamdulillah ia bisa menyusui dengan mudah dan mendapatkan kolostrum, zat berharga pada air susu perdana.

Belakangan, saat kelahiran putra kedua, aku tahu bahwa semua kecemasanku tidak benar adanya. Kelahiran Nara yang juga via operasi caesar, dilengkapi dengan upaya IMD. Walaupun hanya sekitar 5-10 menit, namun ternyata sudah cukup bagi Nara untuk menghisap beberapa tetes ASI, yang sebelumnya juga dikeluarkan oleh DSA (yang kebetulan juga dokter laktasi).

Berikutnya, saat kembali ke rumah. Mas Aryo mengalami growth spurt, dimana ia terus-menerus minta menyusu seakan tak ada rasa kenyang. Sampai berefek pada kurangnya waktu tidurku, terasa seperti zombie dalam film horor. Ditambah lagi, perlekatan yang tidak sempurna kala menyusui sambil berbaring, membuat putingku lecet. Meringis hingga menjerit saat menyusui pun tak terelakkan.

Namun, di akhir masa melelahkan ini, kupetik hasil manis dengan bertambahnya bobot putraku hingga 1.4 kg per bulan!

Tantangan selanjutnya, menjadi pumping mama pertama di tempat kerja. Pelopor tentu saja akan melewati ujian berat, seperti pontang-panting mengatur waktu, mencari tempat yang pas dan aman karena tidak ada fasilitas ruang menyusui, mencari cara agar hasil pumping mencukupi kebutuhan, adalah beberapa masalah utama yang kenyang aku alami pada masa itu.

Akhirnya pun, perjuangan ini menginspirasi beberapa rekan kerja untuk turut menjadi pumping mama dan tak jarang meminta atau berbagi tips dan trik dengan mereka.

Kendala terbesar kemudian kualami saat Mas Aryo berusia 6.5 bulan. Aku terserang penyakit DBD sampai dua kali dalam kurun waktu sebulan. Di sinilah keyakinanku diuji, karena stok ASI perah nyaris habis dalam kondisi aku harus dirawat inap di rumah sakit.

Suami dan Mama sempat ingin mengambil langkah memberikan susu formula untuk Mas Aryo. Namun, dengan keras kepala dan semangat baja, aku tetap maju untuk menyediakan ASI demi sehatnya putraku.

Berbekal persiapan sematang mungkin, mulai dari memastikan kondisiku aman untuk tetap menyusui, mencari donor untuk cadangan stok, peralatan pumping dan kurir ASI (yang akhirnya dilakoni suami tersayang), serta pemberian ASIP tanpa ada aku di sisi Aryo, aku bisa tetap memberikan haknya dengan cukup mulus. Sehari aku bisa menyediakan 6 botol ASIP masing-masing 100 ml, hasil pumping per 3 jam. Para tenaga kesehatan dan pasien tetangga di kamar perawatan juga ikut terkesan karena mereka belum pernah melihat seseorang yang begitu kepala batu dalam menyusui sepertiku. Pengalaman ini pun membuatku bisa membagikan tips-tips seperti dimuat dalam laman ini.

Di akhir masa menyusui, aku pun sempat kewalahan menyapih Mas Aryo. Setelah beberapa cara, mulai dari weaning with love melalui sugesti positif, sampai mewarnai puting dengan lipstik merah (yang sukses ditertawakan oleh sang anak sendiri), Aryo berhasil disapih setelah aku ketahuan mengandung adiknya dan sempat mengalami pendarahan karena bersikeras menyusui. Dengan wejangan dokter kandunganku, Mas Aryo pun pensiun menyusu dengan hati ikhlas.

Bersama Nara, aku kembali menjalani perjuangan ini. Baru 3 bulan berjalan, namun banyak hal baru yang kupelajari bersamanya. Semoga tetap lancar hingga usianya 2 tahun kelak.

image

Teman-teman sesama busui, aku berbagi cerita ini, bukan berarti memaksakan bahwa wajib jib jib keras menyusui hingga 2 tahun.

Mendapatkan ASI adalah hak seorang anak. Ada baiknya kita perjuangkan dulu semampunya untuk bisa memberikannya. Jika pada akhirnya, terjadi sesuatu yang menunda keberhasilan kita, tak perlu berkecil hati. Niat dan ikhtiar kita tentu sudah menjadi catatan kebanggaan tersendiri dalam perjalanan kita sebagai seorang ibu.

Selamat berpetualang, para pejuang ASI!

#ODOPfor99days #day11

pic : pinterest.com, pacificmotionbirth.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s