Cerita dari Linimasa 140116

image

Seharian kemarin, aku melakukan aktivitas yang jadi trending topic di ibukota, bahkan Indonesia : menyimak semua pemberitaan tentang pengeboman di Sarinah, kawasan M.H. Thamrin, Jakarta.

Berpindah saluran TV, menelusuri linimasa media sosial, memantau kabar di grup, aku lakukan di sela rutinitas. Hingga hari nyaris berganti.

Dari serangkaian peristiwa menakutkan, menyedihkan, menggeramkan tersebut, terselip pula beberapa anekdot pengocok perut yang memang nyata terjadi, dan akhirnya jadi favoritku.

Pertama, baku tembak antara kepolisian dan para pelaku teror. Terjadi begitu dramatis, sampai polisi berlindung di balik mobil. Terbayang di benakku, adegan seru khas film aksi. Rupanya, bayangan yang sama juga terbersit di pikiran para saksi mata di lokasi kejadian, sampai mereka menonton dengan takjub, dari sisi lokasi kejadian! Duh, memangnya ini syuting film??? *berharap jadi figuran*

image

Kedua, sebuah fenomena yang umum terjadi. Dimana ada keramaian, di situ marak orang berjualan. Apapun acaranya, apakah itu kawinan, pemakaman, konser, dan ternyata peristiwa kriminal berbahaya pun tak menyurutkan semangat para pedagang untuk mengais rezeki. Jual kopi, kacang, sate ayam tetap ramai! Hmmm..apakah ada juga tukang balon karakter yang kerap kutemui di tiap acara keramaian selama ini? :p

Ketiga, perdebatan akan hashtag yang dipakai untuk menunjukkan simpati dan solidaritas sebagai bangsa Indonesia.

Sempat membuat kening berkerut, ada hashtag #PrayforJakarta yang disebut-sebut untuk dilarang digunakan karena (konon) akan membuat jaringan teroris menjadi bangga akan “hasil karya” mereka yang berhasil menebar teror dan kecekaman. Beberapa hashtag alternatif pun dikeluarkan, seperti #IndonesiaUnite, #KamiTidakTakut, #JakartaDamai, #JakartaBerani, dan lain-lain.

image

Menurutku, hashtag hanyalah sebuah slogan ekspresi. Selama tidak menggunakan kata-kata provokatif dan masih pantas, rasanya tak perlu jadi perdebatan. Karena sebenarnya, aksi nyatalah yang lebih penting dikedepankan, bukan hanya teriakan atau cuitan maya belaka. Note to myself, as well.

image

Keempat dan paling menguras rasa ingin tahuku : sosok polisi ganteng pemberani nan misterius, yang dielu-elukan para netizen wanita dengan hashtag #KamiNaksir ๐Ÿ™‚

Berbagai foto si pakpol beredar, menyorot wajah tampan, perawakan macho, hingga merek sepatu dan tas beliau, yang sampai dapat komentar dari Ivan Gunawan, desainer fashion populer โ‰งโˆ‡โ‰ฆ

Awalnya, muncul info nama pakpol adalah Rino Soedarjo. Namun, seperti biasa, info di linimasa cepat berganti. Ternyata, beliau bukan Rino, dan kembali kaum netizenwati tenggelam dalam pertanyaan siapa si pakpol ganteng ini.

Sebelum hari berganti, hasil kepo di linimasa Path teman, menghasilkan nama si pakpol, yaitu Teuku Arsya Khadafi. Beliau yang seumuranku, ternyata, cukup terkenal kiprahnya dan masuk di beberapa pemberitaan pada tahun 2015. Case closed.

Nggak percuma jadi penggemar Sherlock Holmes untuk memecahkan misteri ini hahaha.. (โŒ’oโŒ’)

Kesimpulannya?

Tetap bersatu, berdoa, dan waspada. Indonesia sedang diuji. Namun, tak ada salahnya sedikit tertawa dan optimis, bahwa bangsa ini akan dapat bertahan, hingga akhir masa, semoga.

#ODOPfor99days #day10
#KamiTidakTakut #IndonesiaUnite

pic : path.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s