The Power of Kepepet

Sebagai generasi 90an, aku termasuk dalam anak yang ngerasain RCTI masa dekoder. Then, I had this one man as my childhood hero. His name is MacGyver.

image

Yup! Siapa yang tak kenal tokoh cerdas nan cerdik yang diperankan apik oleh Richard Dean Anderson ini. Kehadirannya di layar kaca tak pelak selalu aku tunggu.

Ternyata, MacGyver membawa setumpuk inspirasi buatku. Tak hanya ingin selalu terlibat kasus seru, ada satu hal yang begitu membekas dalam benakku : bahwa akal cerdik MacGyver akan muncul di saat ia dalam posisi terjepit. Atau bahasa kerennya, he got that power of kepepet πŸ™‚

image

Saking nempelnya inspirasi ini, entah sadar atau nggak, aku pun menghayati the power of kepepet ini. Nggak kepepet nggak rame,  mungkin itu bisa jadi motto hidup selama ini.

Aku memang hobi membuat rencana, tapi masalah eksekusi rasanya nggak pas kalau nggak dilakukan mendekati tenggat waktu. Somehow, aku percaya bahwa menjelang detik terakhir, kemampuan akan keluar semaksimal mungkin. Bahkan kreativitas akan makin terpacu untuk membuat sesuatu yang baru, dari keterbatasan yang ada.

Dari sisi keilmuan, tentu ini bertolak belakang dengan pentingnya manajemen. Inilah yang seringkali jadi kendala. Saat si kebiasaan mepet ini diterapkan pada tanggung jawab akademik, mulai dari mengerjakan tugas sampai menyelesaikan skripsi atau tesis. Kenyang sudah telinga ini diceramahi dosen-dosen yang komplain akan kebiasaan mepet ini. Di mata mereka, justru the power of kepepet ini malah menyusutkan potensi optimalku yang sebenarnya.

image

Yah, berdasarkan pengalaman bermepet ria, kepepet ini akan bertransformasi jadi sebuah kekuatan jika terjadi pada kondisi tertentu. Kondisi yang sebelumnya belum bisa mencapai tujuan karena si pelaku enggan bergerak, atau enggan mencoba. Berkat situasi kepepet, terlecutlah pelaku untuk segera beraksi. It’s now or never! Antara pede campur nekat πŸ™‚

Contoh nyata yang baru saja aku alami. Di kelahiran putra kedua ini, karena kepepet ngurus dua anak tanpa ART atau BS, jadilah aku berani untuk melakukan banyak hal yang tadinya sangat takut dan aku nggak lakukan pada anak pertama. Memandikan bayi sendiri dan menggendong anak memakai kain jarik sambil memasangnya sendiri, adalah dua di antara kenekatanku demi berlanjutnya hidup sebagai emak dua jagoan.

Di luar dari efek positif dari kepepet yang selama ini menghiasi hidup, ternyata ODOP ini juga melatihku untuk lebih lihai menghadapi tenggat waktu. Buat seorang penulis, terlalu mepet nggak bagus juga buat pencapaian. Karena banyak faktor X yang bisa saja menghalangi kita menuju tujuan, seperti kuota yang tahu-tahu habis atau koneksi internet yang kacau berpadu dengan rewelnya anak saat waktu menulis makin menipis.

Nah, sekarang curcol dikit (οΏ£.οΏ£)

Lagi-lagi posisi kepepet berlangsung di penghujung waktu cuti. Aku keberatan meninggalkan anak-anak untuk kembali bekerja. Tak ingin membebani orang tua terlalu banyak. Masih trauma juga dengan ART pengasuh, setelah sebelumnya dikecewakan beberapa kali dengan kinerja buruk mereka.

Hmmmm, akankah the power of kepepet kembali menghadirkan solusi?

Kita tunggu saja episode mendatang πŸ™‚

#ODOPfor99days #day7

pic : deadline.com, twitter com, flickr.com

Advertisements

3 thoughts on “The Power of Kepepet

  1. Wahahaa,toss dulu dong ah!
    Akupun juga orangnya paling suka melakukan hal yang sudah direncanakan itu dalam waktu yang udah mepeet banget! Kayaknya seru aja gitu dilakuinnya πŸ˜›

    Hmm..jadi solusi apakah yang akan didapatkan oleh mama dari 2 jagoan ini? *menanti press conference*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s