Arti di Balik Isakmu

image

Sigh. Huft. Sigh. Huft.

Entah sudah berapa kali aku menghela dan menghembuskan nafas.

Bingung. Kalut. Stres. Takut. Cemas.

Makhluk mungil seberat 5,5 kg di pelukanku inilah sumbernya. Menangis tanpa henti. Dengan volume kencang. Berpadu dengan jeritan dan lonjakan badan. Singkat kata, rewel tingkat dewa.

Kuutarakan kegelisahanku pada kawan-kawan mayaku. Grup WhatsApp birthclub di bulan yang sama dengan kelahiran anakku. Sesama ibu muda dengan bayi-bayi yang kurang lebih bertingkah serupa.

“Kolik itu, Say. Wajar kok.”
“Pijat I Love You aja, Mam. Sama kakinya digerakin seperti kayuh sepeda. Ini link video Youtube-nya.”
“Kayanya anakmu kebanyakan minum foremilk daripada hindmilk. Jadi kembung perutnya kepenuhan air.”

Sederet tanggapan bermunculan disertai saran solusi. Kulakukan satu persatu saran itu.

Kuganti popok dan pakaiannya.
Kuoleskan minyak telon di badan, punggung, dan kakinya.
Kulakukan pijat sesuai instruksi video Youtube yang kusaksikan.
Kususui selama setidaknya 20 menit per payudara.
Kutepuk punggungnya seusai menyusui hingga ia bersendawa.

Ia. Tetap. Menangis. Kencang.

Sigh. Huft.

Saatnya bertanya kepada yang sudah kenyang asam garam.

“Ketempelan itu, Nduk. Ini kan malam Jumat Kliwon. Bacakan saja Ayat Kursi di telinganya,” begitu sebut Ibu Mertuaku.

“Air susumu dingin, Nak. Mungkin kamu masuk angin. Atau terlalu banyak minum es. Gendong si adek dengan jarik, sambil nyanyikan pelan-pelan,” sahut Mama di seberang telepon sana.

Okesip. Langsung dieksekusi.

Hasilnya…. Masih menangis dengan jerit histeris. Alamak!

Di puncak frustrasiku, akhirnya kuhubungi suamiku tersayang. Yang seminggu ini terpaksa meninggalkanku, dinas ke luar kota untuk pelatihan.

“Halo? Ada apa, Yang?”

Suara berat itu membuat emosiku menghambur begitu saja. “Papa!” jeritku.

Sejurus kemudian, kucurahkan semua ceritaku kepadanya. Bahwa putra pertama kami ini telah menangis tanpa lelah sejak lepas Maghrib tadi. Empat jam sudah berlalu, tanpa ada tanda akan usainya drama ini. Meskipun berbagai langkah sudah kucoba.

Dengan sabar, suamiku mendengarkan. Hingga akhirnya ia berkata, “Aku pun sebenarnya nggak tahu langkah apa lagi yang harus dicoba. Yang pasti, aku yakin kamu tahu jawabannya. Karena hanya kamu yang pernah berbagi hidup dengannya, sejak 9 bulan di kandungan, dan sekarang lewat ASI yang diminumnya.”

Astaga. Sesederhana itu jawabannya?

Kucerna kata-kata suamiku. Mungkinkah bayi mungil ini merasakan kegelisahanku? Kesedihan dalam hatiku? Ketakutan yang menghantui pikiranku?

Akupun teringat, betapa beberapa hari belakangan ini aku merasa kelabu. Dua minggu menjelang habisnya cuti dari kantor. Tanpa kejelasan siapa yang nanti akan menunggui dan membantu merawat bayi mungilku selama aku bekerja. Keenggananku untuk kembali ke kubikel, setelah menikmati menit demi menit bersama si kecil seharian penuh.

Semua kegalauanku menjadi satu. Menghisap aura bahagiaku begitu saja.

Hmmmm, mungkin kuajak saja ia bicara. Walaupun hanya tangis dan gumaman tanpa arti yang baru bisa ia keluarkan. Siapa tahu, ia jauh lebih mengerti dengan bahasa sejatinya, bahasa ibu yang menyayanginya.

Kuangkat dia, kugendong dalam dekapanku. “Adek sayang, kamu tahu ya Mama lagi sedih?”

Tiba-tiba mata jernihnya ganti memandangku.

Kuhapus air matanya dan lanjut berbicara. “Mama minta tolong sama Adek. Terima kasih Adek sudah ikut merasakan kesedihan Mama. Sekarang, kita sama-sama istirahat ya. Supaya semua sedih ini bisa hilang. Pergi dibawa malam.”

Tangis itu mulai berhenti.

Kusodorkan payudaraku dan ia pun mulai meminum air susuku dengan lahap sambil memejamkan mata.

Kuelus rambutnya dan kusampaikan kata-kata pamungkas.

“Jauh atau dekat, Mama tetap satu sama Adek. Sayangnya Mama nggak akan pergi dari hati Adek. Mama nggak akan sedih atau buat Adek ikut sedih. I love you, baby.”

Kukecup lembut keningnya. Seulas senyum kulihat sekelebat menghias wajah bulatnya.

Berhasil juga kami melalui malam menegangkan ini. Berkat bahasa cinta. Yang hanya kami pahami. Yang dengan hebatnya menyelamatkan hari.

Good night, sleep tight, don’t let the bed bugs bite. See you in wonderland, sweetie.

#ODOPfor99Days #Day3

——————–
Writer’s Note :

Suara tangis si dekbayi emang ruar biasa yaaa. Share yuk, gimana cara kamu mengartikan macam-macam tangisan bayi?

Tulisan ini dibuat setelah tadi sempet panik sama Dek Nara yang mendadak nangis bombay ┐(´д`)┌

pic : babieswallpaper.cf

Advertisements

5 thoughts on “Arti di Balik Isakmu

  1. Semangat bun! Tenang aja, banyak yang mampu melewatinya dg sukses. InsyaAllah dirimu juga pasti bisa 🙂

    btw, main ke blog eike jg yaaah rumahemak.wordpress.com dan kangennusantara.wordpress.com 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s