Sebut Saja Mawar

images (8)

 

Satu..dua..tiga..

Jemariku mulai menari di atas kalender mini yang duduk manis di atas meja kerjaku. 10 hari. Itulah jarak waktu yang memisahkan antara aku dan makhluk mungil yang bersemayam di dalam tubuhku ini. Si calon jagoan yang tendangan kerasnya kerap membuatku terjaga di banyak malam selama bulan ini.

Sebuah senyum pun terbit di wajahku.

I’m gonna be a mommy!

Kuelus lembut perutku yang semakin membuncit. “Sebentar lagi, Nak. Kita berpetualang bersama,” bisikku lembut.

EHEM!

Suara dehaman membuatku tersentak kaget.

“Pemandangan langka, nih. Iron Woman udah masuk emak mode on.”

Di hadapanku, seorang wanita berambut merah kecokelatan sedang tersenyum jahil.

Ya, itulah Liz. Rekan kerja sekaligus sahabatku. Meskipun kita berdua bagaikan  kutub utara dan kutub selatan, berbagai perbedaan itu tersatukan oleh persahabatan yang tulus dan keterbukaan untuk bicara blak-blakan apa adanya.

Liz, wanita modis, berjiwa bebas, membiarkan hidup mengalir begitu saja. Happy-go-lucky kind of person. Hidupnya yang jauh dari tekanan membuatnya terlihat paling tidak 5 tahun lebih muda. Siapa menyangka, ia sudah dikaruniai dua orang anak yang kini menginjak usia sekolah. I often call her “the Hands Free Mama”. Liz membuat seolah menjadi seorang ibu selalu menyenangkan setiap detiknya.

Di seberang jalan, aku berdiri. Kalau Liz ibarat otak kanan, akulah si otak kiri. Data, fakta, to-do-list, skala prioritas, probabilitas, riset. Segala yang mengagungkan logika, di situlah aku berpijak. Uncertainty is my biggest enemy. Hermione Granger all grown up.

Untuk menyambut kelahiran anak pertamaku ini saja, suamiku berkelakar kalau aku sudah sangat mirip dengan intelejen. Setumpuk daftar keperluan bayi sampai anak 2 tahun, bagaimana melakukan perawatan, penanganan air susu perah, hingga jadwal harian selama cuti 3 bulan nanti, sudah siap di dalam folder-folder tersusun rapi. Any international spy would be craving to have me as their side kick!

“Santai lah, Med. Profesor sekalipun nggak akan bisa langsung taklukin ilmu parenting. You have to learn those things hands on,” ujar Liz ringan sambil mulai memijat pundakku.

“Kebanyakan pikiran nanti ASImu seret, lho!” tambahnya sambil mengedipkan sebelah mata.

“Yah, sebut saja aku Mawar. Mama Waspada Ahli Rencana,” tukasku cepat.

Liz menggeleng pelan. “Aku rasa, lebih pas Mawar itu sebutan untuk Mama Was-was dan Parnoan,” jawabnya lugas. “Relax, Meda! Everything will be just fine. Banyak berdoa kurasa sudah cukup daripada satu rim kertas penuh dengan strategi perangmu ini!”

You know me, Liz. Bisa gila aku tanpa game plan. The only thing that will make me happy is when…”

“… a plan comes together,” lanjut Liz menirukan kutipan favoritku dari Hannibal The A-Team itu. “Jadi, Nyonya Alifa Andromeda yang tersayang, puaskan dulu sisa hari-hari kamu sama game plan hebatmu itu. Karena nanti, saat jagoanmu sudah datang, expecting the unexpected will be the adrenaline rush that you have every day.”

Liz menarik tanganku. “Yuk ah, sebelum kamu cuti, kita rayain dulu lah. The Machelorette Party!” ajaknya sambil menari-nari bersamaku.

Machelorette?” tanyaku bingung.

“Yup, sebelum jadi emak-emak rempong haha! Believe me, mommy means new identity. Kamu akan jadi seseorang yang nggak pernah kamu bayangkan sebelumnya,” Liz berkata dengan nada yang entah mengapa, membangkitkan rasa ingin tahu yang begitu besar di benakku sekaligus perasaan hangat menjalar di hatiku.

Aku terdiam sejenak, sebelum akhirnya tersenyum mengiyakan ajakannya. Liz pun mengumumkan Machelorette Party ini di grup WhatsApp sahabat-sahabat kami, bekas teman-teman satu rumah kos semasa kuliah di Bandung dulu.

Sambil menikmati perjalanan menuju kafe tempat Machelorette Party akan diadakan, di dalam mobil Liz, pikiranku kembali berkecamuk.

Expecting the unexpected? Hal macam apa yang mungkin terjadi di luar kendaliku? Bisakah aku nanti bertahan? Seperti apakah diriku yang baru nanti?

Tiba-tiba, sebuah tendangan dari dalam sana membuyarkan pikiranku. Rupanya si jagoan ingin menenangkan Mamanya juga.

Akupun akhirnya mengalah. Kusisihkan semua ketakutan dan kecemasan yang menghantui. Benar juga kata Liz. Saat ini memanjatkan doa adalah satu-satunya hal yang terpenting untuk dilakukan.

Just tell all the game plan to the Big Boss up there. Let Him do the rest, as He will give us the best.

Kuatkan kami untuk berjuang bersama. Penuhi kami dengan cinta yang tulus. Semoga buah pahala menghiasi hidup kami di dunia.

Perlahan aku ucapkan kalimat-kalimat itu di dalam hati, sambil mengelus lembut perutku. Tak terasa, air mata menetes ke pangkuanku.

“Meda, kamu nangis? Ada apa?” tanya Liz melihatku mengusap mata.

“Nggak apa-apa, Liz. I’m fine. Habis lakuin saran kamu tadi. I think I’m totally ready for the battle,” kataku mantap.

Without the game plan?” selidik Liz dengan mata jenaka.

“Yah, mungkin kupakai sedikit saja. Nggak salah kan, sedia payung sebelum hujan?” jawabku sambil tertawa berderai.

Liz ikut tertawa, seolah ia tahu, sahabatnya ini memang sulit dibelokkan ke kanan atau ke kiri.

“Apapun yang terjadi nanti, aku akan selalu support kamu, Med. A mom survives because other moms are there for her. Walaupun medan perangnya beda-beda, semangatnya tetep sama, kan. Hidup emak-emak!” seru Liz sambil mengepalkan tangan.

“Hidup emak-emak!” seruku menirukan gaya Liz.

Untuk pertama kalinya, aku merangkul ketidakpastian di depan sana dengan kedamaian. Karena aku tahu, akan ada kekuatan baru yang muncul berkat ketidakpastian itu. Kekuatan yang membuat surga ada di telapak kakiku kelak.

pic : http://www.freeimages.com

#ODOPfor99Days #Day2

————

Writer says :

Nah, kalau kamu, kecemasan seperti apa yang kamu alami sebelum punya anak pertama kali? Dan, siapa yang membantumu mengurangi kecemasan itu?

Share bareng di comments box yuks! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s